Suatu hari, aku tiba-tiba terlempar ke akhir Dinasti Han Timur dan berjumpa dengan idolaku, Guo Jia. Tak peduli apapun, hal pertama yang kulakukan tentu saja mengungkapkan perasaan padanya. Namun, seb
“Ah, akhirnya ujian selesai! Aku lelah sekali.”
Keluhan itu keluar dari mulut Lin Mujia, mahasiswi jurusan sejarah di Universitas S, sementara di sisinya, seorang gadis kecil berwajah manis berbusana biru hanya tersenyum:
“Sudahlah, Mumu. Liburan ini kita akan pergi ke Yuzhou menemui Jia-jia milikmu. Bukankah orang tuamu sudah setuju? Apa lagi yang membuatmu tidak senang?”
Mendengar ucapan si gadis berbaju biru, Lin Mujia seketika menghapus keletihan dari wajahnya, semangatnya pun kembali menyala, “Tentu saja, Mao’er, kau tahu kan, aku sudah menunggu hari ini begitu lama. Jia-jia, tunggu aku~!”
Si gadis berbaju biru yang dipanggil Mao’er hanya bisa menggelengkan kepala tanpa daya melihat Lin Mujia yang tampak tergila-gila. Gadis ini memang terobsesi pada sejarah, terutama masa Tiga Kerajaan. Setelah lulus ujian masuk universitas, ia dengan mantap memilih jurusan sejarah, kini ia dapat mewujudkan impiannya sendiri: berziarah kepada idola masa lalunya, sang jenius militer dari Tiga Kerajaan, Guo Jia.
Henan, Xuchang, Yuzhou
“Mao’er, kau memang yang terbaik, mau menemani aku sampai ke sini.”
Lin Mujia merengkuh lengan Liu Shaoqing sambil manja, Liu Shaoqing hanya menghela napas tanpa suara, “Kau ini, kalau aku tak ikut, bagaimana jika kau diculik orang?”
Lin Mujia tersenyum lebar, lalu mengecup pipi Liu Shaoqing. Liu Shaoqing buru-buru menghindar dari tangan jahil sahabatnya itu; gadis ini memang agak gila.
“Ngomong-ngomong, Mumu, kenapa orang tuamu memberimu nama itu? Apa mereka sudah tahu kau akan jatuh cinta pada Jia-jia?”