Bab 17 Menginap di Rumah Teman
Halaman (1/3)
“Apa yang bisa berbeda dariku? Bukankah lebih baik kalau aku tidak menipumu soal uang?” kata Li Wei dengan gugup.
Xu Fengbai tertawa. “Baguslah. Kau memang jauh lebih baik seperti ini daripada dulu.”
Mereka berdua keluar dari toko bahan hotpot dan kembali masuk ke mobil. Li Wei bertanya, “Rumahmu di mana?”
Xu Fengbai menyebutkan alamat lengkapnya, dan Li Wei langsung terkejut.
Tempat tinggal Xu Fengbai berada di kompleks vila yang tidak jauh dari rumah Lu Hanjin.
Mereka ternyata tinggal di kompleks yang sama.
Sungguh kebetulan.
Li Wei merasa gelisah, takut Lu Hanjin melihatnya. Namun, setelah teringat bahwa rumah mereka cukup berjauhan, kemungkinan itu sangat kecil. Ia pun kembali merasa lega.
Li Wei memarkir mobil di depan vila.
Kemudian, ia turun sambil membawa bahan-bahan hotpot.
Yang tidak diketahuinya, paparazi itu ternyata terus mengikuti mereka hingga ke tempat tersebut. Ia memotret dengan sangat jelas saat mereka berdua masuk ke rumah.
Ketika tiba di rumah, waktu baru menunjukkan pukul dua siang. Masih ada tiga jam sebelum makan malam.
Xu Fengbai masuk ke kamar dengan penuh misteri, lalu mengobrak-abrik lemari dan laci.
Setelah keluar, tatapan matanya kepada Li Wei berubah menjadi licik. “Wei kecil, sudah lama kita tidak bertarung, ya?”
Li Wei menatapnya dengan ngeri melihat sorot mata yang penuh maksud buruk itu. “Bertarung apa?”
Xu Fengbai terkekeh, lalu menariknya untuk duduk di lantai rumahnya. “Ayo, temani aku bertarung.”
Sambil berkata begitu, ia memasukkan kaset permainan, menyalakan konsol, lalu menyerahkan sebuah pengendali permainan kepada Li Wei.
Ternyata mereka hanya akan bermain gim.
Li Wei diam-diam menghela napas lega. Ia sempat mengira pemuda itu hendak melakukan sesuatu yang tidak senonoh.
Mereka duduk bersila di atas karpet dan mulai bermain.
Gim itu sangat sederhana.
Li Wei langsung menguasainya begitu mencoba.
Dahulu, demi menjalankan sebuah misi, ia pernah bertanding melawan seorang anak kecil hingga tiga ratus ronde.
Karakter kecil di pihak Li Wei menghajar Xu Fengbai tanpa ampun.
Xu Fengbai membalas dengan marah, tetapi berkali-kali tetap gagal.
Ia begitu kesal hingga ingin membanting gim rusak itu. “Sial, Wei kecil! Baru beberapa bulan tidak bertemu, bagaimana kemampuan bermain gimu bisa meningkat sebanyak ini?”
Sambil mengomel, ia terus menyerang Li Wei.
Li Wei dengan hati-hati menghindar. “Bukankah karena aku rajin belajar dan berlatih setiap hari?”
Xu Fengbai terkejut. “Benarkah? Setahuku, dulu kau tidak suka bermain gim.”
Takut pemuda itu menyadari bahwa dirinya bukan Li Wei yang asli, ia segera mencari alasan. “Itu karena saat tidak mendapat pekerjaan akting, aku merasa bosan di rumah. Jadi, sekalian saja aku berlatih agar bisa mengalahkanmu.”
Xu Fengbai mendengus geli. “Aku suka alasan itu.”
Mereka bertarung sepanjang sore, hingga akhirnya tiba waktu makan hotpot.
Setelah bahan-bahan dan kuah dasar disiapkan, air di dalam panci pun mendidih.
Halaman (1/3)
Dua orang yang gemar makan itu segera memasukkan bakso ikan dan berbagai bahan lainnya ke dalam panci.
Tak lama kemudian, ponsel Xu Fengbai berdering.
Li Wei melihat nama kontak yang tertera: Raja Iblis. Karena penasaran, ia bertanya, “Siapa?”
“Pamanku dari pihak ibu.”
Li Wei mengangguk. “Oh.”
Ia tidak terlalu memedulikannya. Ia hanya melihat Xu Fengbai mengangkat telepon dengan gugup, berkali-kali menjawab, “Ya, ya, ya,” lalu, “Baik, baik, baik,” sebelum akhirnya menutup telepon.
Li Wei bertanya dengan penasaran, “Ada apa?”
“Dia sebentar lagi akan datang mengantarkan sesuatu untukku.”
Mungkin merasa makan hotpot saja terlalu membosankan, Xu Fengbai bertanya, “Mau minum?”
Li Wei mengangguk. Makan seperti ini memang terasa terlalu hambar tanpa minuman.
“Ayo,” katanya.
Xu Fengbai kembali mengobrak-abrik isi kulkas, hingga akhirnya menemukan beberapa botol bir.
Ia membuka semuanya satu per satu, lalu menunjuk botol-botol itu. “Hari ini kita tidak pulang sebelum mabuk.”
Li Wei tersenyum. “Baik.”
Mereka pun makan, minum, dan mengobrol bersama.
Setelah berbincang cukup lama dengan Xu Fengbai, Li Wei akhirnya berhasil mengorek beberapa informasi berguna darinya.
Ternyata, Li Wei dahulu berkenalan dengan Xu Fengbai karena pekerjaan akting.
Saat itu, kemampuan akting Li Wei sangat buruk dan kepribadiannya juga kaku.
Pada awalnya, Xu Fengbai sangat membenci Li Wei.
Namun, suatu hari perut Xu Fengbai terasa sakit. Tidak ada seorang pun di lokasi syuting saat itu. Ketika melihatnya, Li Wei segera mengantarnya ke rumah sakit.
Saat itu, Xu Fengbai tidak tahu bahwa Li Wei tidak bisa mengemudi.
Setelah mengetahuinya belakangan, ia sampai berkeringat dingin karena ketakutan.
Untungnya, mereka berdua tidak mengalami sesuatu yang serius.
Sejak hari itu, pandangan Xu Fengbai terhadap Li Wei berubah.
Menurutnya, meskipun perempuan itu bertubuh kecil, keberaniannya luar biasa besar ketika menghadapi keadaan genting.
Dalam keseharian, ia memang pendiam dan murung. Namun, begitu menghadapi masalah besar, ia mampu menyelesaikannya dengan tenang.
Xu Fengbai terpaksa memandangnya dengan hormat.
Li Wei tersenyum sambil mendengarkan Xu Fengbai, yang mabuk dan mulai menceritakan berbagai kisah masa lalu mereka.
Tanpa sadar, pemahamannya terhadap Li Wei yang dahulu pun bertambah sedikit demi sedikit.
Li Wei kembali bertanya dengan penasaran, “Kalau dipikir-pikir, kita memang berjodoh sebagai teman. Kapan sebenarnya kau mulai berteman denganku? Aku sudah tidak begitu ingat.”
Entah karena mabuk atau bukan, Xu Fengbai bergoyang-goyang saat menjawab, “Kau masih tega menanyakannya? Pernah suatu kali kau merobek kostum panggungku hanya karena tanpa sengaja aku menarik dan merusak kalung di lehermu.”
Li Wei tersenyum. “Benarkah? Kalung itu?”
“Ya, tentu saja. Kau bersikeras mengatakan bahwa kalung itu adalah peninggalan ibumu dan memintaku meminta maaf. Sepanjang sore kau terus mondar-mandir di sampingku hanya demi mendapatkan permintaan maaf. Saat itu aku hampir dibuat gila olehmu.”
Halaman (2/3)
Li Wei tertawa, lalu mengulurkan tangan untuk menyentuh kalung di lehernya.
Kalung itu berbentuk kelinci kecil.
Ia bershio kelinci.
Ternyata kalung itu adalah peninggalan ibunya.
Li Wei tidak kuasa menahan kesedihan.
Ternyata, dirinya dan Li Wei yang dahulu memang memiliki beberapa kemiripan.
Sejak kecil, ia tidak memiliki ayah maupun ibu.
Ibu Li Wei telah meninggal dunia ketika ia masih sangat muda.
Kalau dipikir-pikir, saat ini ia juga tidak memiliki banyak kerabat di sisinya. Ia tetap sama-sama kesepian.
Ia meneguk bir, dan tiba-tiba sebuah sosok muncul dalam benaknya.
Pria itu menata rambutnya ke belakang dengan rapi, mengenakan jas hitam, serta sepatu kulit mengilap yang tak ternoda sedikit pun.
Alis dan matanya yang dingin selalu tampak muram. Setiap kali berbicara, ucapannya seolah menyelipkan sindiran dan selalu terdengar tidak ramah.
Li Wei menghela napas. Ia merasa sudah minum terlalu banyak.
Tanpa disadari, ia malah memikirkan Lu Hanjin.
Pria sedingin es dengan temperamen aneh seperti itu, apa yang patut dipikirkan?
Mereka berdua makan sangat banyak hingga perut terasa begah.
Akhirnya, seluruh bahan makanan habis tak bersisa.
Setelah makan, mereka masih membawa botol bir dan kembali duduk minum di sofa.
Xu Fengbai bertanya, “Kau menginap saja di sini malam ini. Aku akan menyiapkan satu kamar untukmu.”
Li Wei teringat bahwa Lu Hanjin belum tentu pulang malam ini, tetapi ia juga takut pria itu benar-benar pulang. Setelah bimbang sejenak, ia berkata, “Aku harus menelepon dulu untuk bertanya.”
Xu Fengbai bertanya dengan tidak puas, “Kau mau menelepon siapa?”
Li Wei berpikir sejenak, lalu menyesap bir. “Ayahku.”
Xu Fengbai mengangguk seolah mengerti. “Ayahmu masih mengatur urusanmu? Usia kalian sudah lebih dari dua puluh tahun. Sudahlah, telepon saja.”
Li Wei berjalan ke dekat jendela dan menelepon Lu Hanjin.
Di seberang sana, telepon berdering dua kali sebelum diangkat.
“Halo.”
Suara pria itu terdengar rendah dan merdu.
“Apakah kau akan pulang malam ini?” tanya Li Wei.
Lu Hanjin tampaknya tidak menyangka ia akan menanyakan hal itu. Ia terdiam sejenak. “Ada apa?”
Li Wei berpikir sebentar, lalu menjawab, “Malam ini aku menginap di rumah teman.”
Di seberang sana terdiam beberapa saat. Kemudian, suara Lu Hanjin yang dingin dan berat terdengar.
“Teman laki-laki atau perempuan?”
Halaman (3/3)