Bab 19 Nona Ketiga Sedang Mengandung
Saat itu, Mo Tingchen duduk di kursi belakang mobil, membuat Xiao Rui merasa suhu di dalam mobil turun beberapa derajat. Beberapa hari yang lalu, Nona Luo masih berhubungan baik dengan bosnya, tapi hari ini entah kenapa mereka justru bertengkar.
Mo Tingchen memijat pelipisnya. Tiba-tiba ia teringat ucapan Luo Qianning yang sudah berkali-kali ia dengar: "Tak perlu Tuan Mo repot-repot memikirkan." Entah kenapa, ia juga teringat kata-kata Rose yang waktu itu diucapkan lewat layar: "Dendam pribadi saja, tak perlu Tuan Mo pedulikan."
Sama-sama dingin dan keras kepala, seperti anak singa marah yang siap menerkam.
Ia bertanya santai, "Masih belum ada kabar tentang Rose?"
Xiao Rui menjawab, "Sejak hari itu kita melewatkan kesempatan di warnet, tak ada kabar lagi."
Mo Tingchen memandang keluar jendela. Warnet. Hari itu Luo Qianning juga ada di warnet.
Ia merasa dirinya mulai berkhayal. Luo Qianning hanyalah siswi SMA yang bahkan tak mampu melawan seekor ayam, sedangkan Rose adalah pembunuh bayaran kelas atas yang membuat orang gentar. Mana mungkin ada hubungan di antara mereka?
"Tuan, beberapa hari lagi ulang tahun Nyonya keluarga Song. Beliau mengirim undangan untuk Anda," ujar Xiao Rui.
"Aku tidak akan datang," Mo Tingchen menolak dingin.
"Keluarga Luo juga menerima undangan. Sepertinya mereka akan datang," Xiao Rui mengingatkan.
"Kau terlalu banyak waktu luang? Sampai-sampai memperhatikan keluarga Luo?" Mo Tingchen menatapnya dingin.
"Tidak, tidak, aku masih sibuk mencari Rose!" Xiao Rui buru-buru menjawab.
Ia benar-benar tidak ingin bosnya tiba-tiba mengirimnya ke Afrika hanya karena sedang kesal.
Hari itu, Luo Qianning berjalan-jalan di taman dan secara tak sengaja mendengar dua pelayan sedang bergosip.
Ia mendekat ke sudut tembok, lalu mendengar salah satu pelayan berkata, "Kau dengar tidak? Nona ketiga hamil!"
Siapa? Dirinya hamil?
"Aku juga dengar, katanya gara-gara main gila di luar!" Pelayan satu lagi menimpali.
"Tapi sekarang tubuh Nona ketiga langsing, benar-benar cantik. Kupikir ia lebih menarik dari Nona keempat!"
"Apa gunanya cantik? Akhlaknya buruk, dari kecil tak ada yang mendidik," ujar Pelayan Zhang.
"Kalian ini ngomong apa sih?" Kedua pelayan itu asyik berceloteh sampai tak menyadari ada orang yang mendekat.
Luo Qianning menoleh dan melihat seorang gadis kecil yang baru saja bekerja di rumah itu.
"Kau ini anak kecil, urusan apa ikut campur pembicaraan kami?" Kedua pelayan itu sudah lama kerja di keluarga Luo, tentu saja tidak memandang si gadis kecil.
"Tapi kalian juga tak seharusnya membicarakan keluarga majikan seperti ini. Nona ketiga baru saja dewasa, bagaimana bisa tahan dengan fitnah seperti itu?" Gadis kecil itu masih berusaha membela.
"Siapa bilang ini fitnah? Kalau memang kelakuannya buruk, kenapa takut dibicarakan?" ujar seorang pelayan.
"Kalian keterlaluan! Aku akan laporkan pada Tuan Besar!" Gadis kecil itu menantang.
Pelayan Zhang melempar sapunya lalu menampar gadis kecil itu dengan keras, hampir saja membuatnya jatuh.
"Dasar anak baru, baru berapa hari kerja di sini sudah berani bicara begitu sama kami?" Pelayan Zhang membentak.
"Lalu kalian sudah berapa lama kerja di sini? Berani-beraninya membicarakan aku di belakang?" Luo Qianning keluar dari persembunyiannya dan bertanya dengan nada tegas.
"Nona ketiga, kami hanya ngobrol santai saja. Lagi pula, kami sudah lama mengabdi di keluarga Luo, bicara apa adanya, Nyonya pun tidak akan marah," ujar Pelayan Zhang dengan nada sinis.
Di hati mereka, Luo Qianning hanyalah putri malang yang tak disayang. Hanya punya gelar, tapi selama belasan tahun, siapa yang pernah memandangnya?
Dulu saat nyonya rumah menyuruhnya makan sisa makanan, ia pun tak pernah berani membantah. Para pelayan pun semakin berani menindasnya.
"Heh, bicara apa adanya, begitu?" Luo Qianning berjalan mendekat sambil tersenyum cerah, lalu tiba-tiba mengangkat tangan dan menampar Pelayan Zhang keras-keras.
Karena terbiasa berolahraga, tenaganya tidak main-main. Wajah Pelayan Zhang langsung membengkak.
Pelayan Zhang memegang pipinya, memandang Luo Qianning dengan tak percaya, "Kau… kau…"
"Ada apa? Masih mengira aku Luo Qianning yang dulu hanya bisa menahan diri? Aku beritahu, aku ini Nona ketiga keluarga Luo, majikan kalian! Kalau kalian tak tahu cara jadi pelayan yang baik, biar aku yang ajarkan!" suara Luo Qianning lantang dan tegas.
Pelayan Zhang sampai terdiam ketakutan. Ini jelas bukan lagi Nona ketiga yang dulu bisa ditindas sesuka hati.
"Kalian sadar salah atau perlu aku ajari lagi?" tanya Luo Qianning dengan suara dingin.
"Kami sadar, kami sadar, Nona Ketiga, kami salah!" Dua pelayan itu buru-buru mengakui kesalahan. Mereka jelas tak ingin kena tampar lagi.
"Pergi! Kalau terjadi lagi, kalian akan kuusir dari keluarga Luo!" hardik Luo Qianning.
Kedua pelayan itu segera mengambil sapu mereka dan lari terbirit-birit.