Bab 41 Ini Menantu Baru Saya
Para tetangga hanya bisa melongo menyaksikan seseorang yang tadi mengaku patah tulang kini berlari dengan sangat gesit.
"Tulangnya itu... sembuh dengan sangat cepat ya!"
"Aku saja yang tidak patah tulang tidak bisa lari secepat itu!"
"Benar-benar tidak menyangka kalau Bai Siqi ternyata pembohong ulung!"
"Halah, dia itu kan anak dari Bai Chunsheng, kalian pikir dia bakal jadi orang baik? Sudah kubilang ibu dan anak itu licik, tapi kalian tidak percaya."
...
"Mingxue, fisik ibumu masih bugar seperti dulu ya, tidak ada bedanya dengan saat masih muda!"
Fu Mingxue hanya bisa terdiam.
Dia senang melihat ibunya yang begitu energik.
Ibu dan anak Bai Siqi sangat takut Ibu Fu akan merusak pintu rumah mereka, jadi mereka tidak berani lari ke arah rumah, melainkan kabur menuju jalan raya.
Ibu Fu terus mengejar mereka hingga dua blok.
Kejadian itu sampai membuat semua penghuni di sepanjang jalan keluar rumah untuk menonton tontonan langka tersebut.
Dua putra dari Fu Si Sulung yang tadinya berniat mencari masalah dengan Ibu Fu dan Mingxue, kebetulan berpapasan dengan bibi mereka yang sedang mengayun-ayunkan penggiling adonan.
Melihat keganasan bibinya itu, mereka langsung ciut.
"Ya ampun, Bibi Kedua galak sekali, sudahlah, kita batalkan saja..."
"Sudahlah, kita tidak mungkin bisa melawannya!"
Kedua bersaudara itu sepakat dalam satu hal—mereka takut kaki mereka dipatahkan oleh Bibi Kedua yang sedang naik pitam.
Sementara itu, Ibu Fu terus mengejar dengan santai. Setiap kali dia hampir menyusul, dia sengaja melambatkan langkahnya. Jika jaraknya menjauh, dia akan mempercepat langkahnya kembali.
Dia sedang mempermainkan mereka layaknya kucing yang sedang mengejar tikus!
Namun, saat melewati depan toko koperasi, dia mendadak berhenti.
"Me... menantu?"
Qin Wenhuo juga tampak terkejut.
Pandangannya tertuju pada penggiling adonan di tangan ibu mertuanya, dan sudut matanya sedikit berkedut.
"Bu, ini..."
Ibu Fu tertegun.
Ini benar-benar canggung.
Dia dengan tenang menjawab, "Ini, baru saja meminjamnya, nanti malam rencananya mau membuat kulit pangsit."
Kemudian, dia melihat menantu barunya itu menenteng dua kantong besar.
Matanya melebar—apakah menantunya ini baru saja menguras habis isi toko koperasi?
"Kamu ini..."
"Bu, tadinya saya datang dengan tangan kosong, sekarang saya belikan sedikit barang untuk Ibu dan Mingxue. Mari kita pulang dulu baru bicara."
"Ah, baik!" Ibu Fu menjawab secara refleks.
Sesaat kemudian, dia baru sadar sepenuhnya, "Menantu, kamu... kamu beli terlalu banyak. Apa bisa dikembalikan? Kalau bisa, ayo kita kembalikan saja."
"Bu, tidak bisa dikembalikan. Lagipula, semua ini saya beli untuk Ibu dan Mingxue. Ayo, kita pulang dulu."
Ibu Fu melihat orang-orang di sekitar sedang memperhatikannya, dia tahu ini bukan tempat yang tepat untuk bicara.
Di tempat sekecil ini, gosip akan tersebar luas dalam sekejap.
Namun, karena ini adalah menantu sahnya, dia tidak takut dengan apa yang akan dibicarakan orang.
Saat mereka tiba kembali, para tetangga yang masih berkumpul di sana merasa sangat terkejut.
Siapa pemuda ini?
Mengapa dia membawa banyak barang ke rumah keluarga Fu?
"Ibu Mingxue, apakah dia kerabatmu?"
Ibu Fu tahu orang-orang ini hanya suka bergosip dan bermulut ember. Agar tidak ada simpang siur yang aneh-aneh, dia langsung berkata:
"Ini menantu saya, baru saja mengurus surat nikah dengan putri saya hari ini. Oh ya, menantu saya ini adalah tunangan yang dijodohkan oleh mendiang ayah Mingxue. Nah, hari ini dia datang berkunjung."
Harus diakui, melihat menantunya datang dengan membawa begitu banyak barang, dia merasa sangat bangga.
Tetangga yang bertanya maupun mereka yang diam-diam menyimak langsung terbelalak kaget.
Apa? Tunangan Mingxue? Bukan, maksudnya suami yang sudah sah secara hukum?
"Kenapa cepat sekali urus surat nikahnya?"
"Putriku akan segera masuk universitas, kalau tidak segera diurus, nanti harus menunggu lama. Sudah ya, tidak usah mengobrol lagi, menantu saya sudah datang, saya harus segera memasak."
Para tetangga hanya bisa terpaku.