Bab Tujuh Puluh Tujuh: Melarikan Diri
Wang Yi duduk di tempatnya, tidak bergerak sedikit pun. Sementara itu, Li Changsheng sudah bermandikan keringat dan hatinya dipenuhi ketakutan. Meski begitu, Li Changsheng masih sulit percaya bahwa pria di depannya yang tampak lemah dan rapuh ini benar-benar memiliki kemampuan sehebat itu. Bukankah sekarang ia telah berlindung di bawah bayang-bayang Li Yuan yang namanya sudah sangat terkenal? Pria di depannya ini bahkan tidak pantas membantu Li Yuan sekalipun.
Namun, Li Changsheng yang masih belum menyerah memutuskan untuk mencoba peruntungan terakhirnya. Ia mendongakkan kepala, menegakkan leher dan berteriak, “Kau pasti salah orang! Aku sama sekali tidak mengenalmu. Lagi pula, Lin Jiajia hanyalah klienku, aku tidak pernah menyinggungnya!”
Wang Yi memperhatikan bahwa saat Li Changsheng berbicara, matanya sempat melirik ke arah pintu. Wang Yi tersenyum tipis, bibirnya terangkat membentuk senyum samar, “Sepertinya kau memang harus benar-benar merasakan akibatnya baru mau percaya.”
Nada bicaranya terdengar lembut, namun justru membuat bulu kuduk meremang. Mendadak, Li Changsheng berlutut di lantai, wajahnya penuh ratapan, “Kumohon, lepaskan aku. Kau saja bisa mengalahkan dua orang di luar sana, mana mungkin aku berani kabur?”
Ternyata dia tidak sebodoh kelihatannya.
Saat Wang Yi berdiri dan bersiap untuk menuntaskan segalanya, Li Changsheng tiba-tiba mengayunkan asbak rokok ke arah Wang Yi. Wang Yi dengan sigap menghindar, dan ketika menoleh kembali, di tangan Li Changsheng sudah tergenggam sebilah golok.
“Keparat, hari ini aku habisi kau!” Li Changsheng berteriak keras sambil mengayunkan goloknya ke arah Wang Yi.
Tatapan Wang Yi membeku dingin, satu tendangan samping melayang dan menjatuhkan Li Changsheng ke tanah. Jika Li Changsheng ingin bermain api, Wang Yi pun akan memberinya pelajaran.
Saat Li Changsheng berusaha bangkit untuk melarikan diri, Wang Yi dengan gerakan cepat melangkah maju dan menginjak kepala Li Changsheng. Jerit kesakitan langsung keluar dari mulut Li Changsheng.
Wang Yi kemudian mengambil golok dari tangan Li Changsheng dan mengayunkannya ke arah kepala pria itu. Wajah Li Changsheng seketika berubah ketakutan dan putus asa.
“Jangan! Jangan!” Seluruh tubuh Li Changsheng gemetar hebat, bahkan tanpa sadar ia mengompol ketakutan.
Beberapa saat kemudian, Li Changsheng baru sadar dirinya masih hidup. Dengan penuh harap ia membuka matanya, lalu melihat kilauan tajam tepat di hadapannya. Mata pisau itu hanya berjarak milimeter dari wajahnya, bahkan ia bisa merasakan dinginnya besi di kulitnya.
Jika tadi Wang Yi mengayunkan goloknya sedikit saja lebih maju, Li Changsheng pasti sudah meregang nyawa.
“Kau... aku...” Li Changsheng begitu ketakutan sampai-sampai susah bicara.
Wang Yi duduk santai di hadapannya dengan kaki bersilang, wajahnya penuh ejekan.
“Kalau kau masih ingin main-main, aku punya waktu untuk meladeni. Hanya saja, lain kali mungkin aku tak seberuntung ini.”
Li Changsheng jelas sudah tak berani lagi. Ia buru-buru bangkit, berlutut sambil menangis, “Aku tak berani lagi, sungguh aku tak berani lagi. Apa pun yang ingin kau ketahui, akan aku ceritakan semuanya, semuanya!”
Li Changsheng pun terisak seperti anak kecil.
Wang Yi menggelengkan lehernya yang pegal, “Kalau tahu begini, kenapa harus repot-repot? Cepat pakai bajumu, ikut aku ke suatu tempat.”
Baru saja hampir kehilangan nyawa, Li Changsheng kini benar-benar tidak berani macam-macam. Ia mengambil bajunya dan memakainya asal-asalan. Saat matanya menatap genangan air di lantai, hatinya dipenuhi perasaan campur aduk.
Keesokan harinya.
Sejak pagi buta, para pemegang saham keluarga Lin yang dipimpin oleh Lin Xiaodong sudah tiba di kantor pusat Lin Group. Bahkan ketika pembagian bonus akhir tahun pun mereka tak seantusias ini. Jelas sekali semua punya maksud tersembunyi.
Lin Tua menjadi orang terakhir yang memasuki perusahaan.
Kemarin Wang Yi sudah berkata, pukul delapan pagi, ia akan mengadakan konferensi pers di kantor pusat.
Rombongan itu ramai-ramai menuju perusahaan, namun tak ada satu pun orang di sana. Bukan hanya wartawan, Wang Yi pun tidak kelihatan batang hidungnya. Kurang dari satu jam lagi waktu yang tersisa, tapi Wang Yi sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda persiapan.
Dalam hati Lin Xiaodong dan yang lain sudah sangat gembira. Sepertinya kali ini, sehebat apa pun Lin Jiajia dan Wang Yi, tak akan bisa membalikkan keadaan.
Wajah Lin Tua tampak muram. Ia membawa rombongan masuk ke ruang rapat.
Saat Lin Tua hendak meluapkan amarah, Lin Jiajia masuk ke kantor.
Melihat Lin Jiajia datang sendirian, Lin Xiaodong mencibir, “Kau datang sendiri saja, Lin Jiajia?”
“Konferensi pers mana? Katanya mau bawa bos proyek untuk konferensi pers, kan? Menurutku kalian bahkan bayangan bos proyek pun belum pernah lihat!” Lin Xiaodong tertawa terbahak.
Yang lain pun ikut terbahak-bahak, memandang Lin Jiajia dengan penuh hinaan.
Dihina seperti itu, wajah Lin Jiajia langsung pucat. Di balik kecantikannya, terpancar keputusasaan yang dalam.
Wang Yi tidak pulang semalam suntuk.
Saat terbangun tengah malam dan mendapati Wang Yi tidak di rumah, Lin Jiajia panik dan segera menelepon, namun tak bisa tersambung.
Lin Jiajia benar-benar cemas, ia juga tidak tahu harus mencari ke mana. Selama ini, Wang Yi selalu berada di sekitarnya, ia bahkan tak tahu ke mana Wang Yi pergi selain ke rumah.
Jangan-jangan, seperti yang mereka katakan, Wang Yi benar-benar kabur?
Saat itu, hati Lin Jiajia terasa sangat pedih. Ia khawatir akan keselamatan Wang Yi, duduk terjaga sampai pagi.
Ia hanya bisa menatap waktu yang terus berjalan, namun tak bisa berbuat apa-apa.
Pukul tujuh pagi, harapannya pada Wang Yi sudah nyaris pupus.
Apa pun yang harus dihadapi, tetap harus dihadapi. Kalau Wang Yi pergi, ia sendiri yang harus bertahan.
Di tengah ejekan semua orang, Lin Jiajia benar-benar sedih. Bukan karena akan diusir dari keluarga Lin, melainkan karena kecewa Wang Yi menghilang.
Tiba-tiba, seseorang bergegas masuk dari luar. Tatapan Lin Jiajia seketika memancarkan harapan. Namun saat melihat siapa yang datang, matanya kembali redup.
Ternyata yang masuk adalah Lin Mussen dengan lengan digips, masuk dengan penuh amarah, “Mana si Wang Yi tidak berguna itu? Sampai sekarang belum kelihatan juga!”
Lin Xiaodong menimpali dengan mengejek, “Orang tolol itu tahu dirinya bersalah, pasti sudah kabur. Dari dulu aku bilang, sampah seperti itu cuma bisa membual.”
Lin Mussen pun kegirangan. Semalam ia mendengar dari Lin Xiaodong tentang janji Wang Yi di depan Lin Tua, hatinya jadi sangat senang.
Ia punya hubungan pribadi dengan Li Changsheng, jadi tentu tahu bahwa sekarang Li Changsheng dilindungi oleh orang-orang kejam.
Wang Yi yang bodoh itu mana mungkin bisa menyentuh Li Changsheng, apalagi menyelesaikan masalah hanya dalam satu malam.
Bisa jadi sekarang Wang Yi sedang disekap entah di mana, bahkan mungkin sudah diam-diam disingkirkan oleh orang-orang Li Changsheng.
Demi bisa melihat Lin Jiajia dan Wang Yi dipermalukan secara langsung, Lin Mussen nekat keluar dari rumah sakit semalam, meski dokter melarang.
Semua kemarahannya sebelumnya kini dilampiaskan pada Lin Jiajia, “Lin Jiajia, kau benar-benar buta, masih saja berharap si sampah itu bisa membelamu. Kalian berdua hanya pembawa sial, sudah membuatku begini, hari ini aku ingin lihat bagaimana kalian akan binasa!”
Lin Jiajia hanya bisa menahan diri, berusaha menjaga sisa harga dirinya, “Itu semua akibat perbuatanmu sendiri. Kalau dulu kau tidak memfitnah aku dan ayahku, Wang Yi pasti tidak akan memukulmu.”
Lin Mussen pun naik pitam.
“Cukup!” seru Lin Tua dengan suara lantang.
Hari ini tujuannya adalah menyelesaikan masalah reputasi Lin Group, ia tak punya waktu untuk mendengar perdebatan tak berguna seperti ini.