Bab Sembilan Puluh Tujuh: Mimpi Semu yang Menghilang
Tuan Lin segera melangkah maju dan meminta maaf kepada Bai Hongdi, “Maaf sekali, cucu perempuan saya memang kurang ajar, dia baru saja pulang dari luar negeri dan sepertinya masih belum sepenuhnya sadar, nanti saya pasti akan menegurnya dengan keras.”
Zhen Jian yang tadi kena tampar juga menunjukkan wajah tak bersahabat, ia mendorong Lin Xiaodie sambil memaki, “Kau mau mencelakakanku, ya? Benar-benar perempuan pembawa sial, belum pernah kulihat wanita sebodoh dirimu.”
Mata Lin Xiaodie memerah menahan rasa terhina. Ia tadi bersikap lantang demi membela Zhen Jian, tapi malah dimaki juga.
Zhen Jian benar-benar bodoh, hanya Bai Hongdi saja, memangnya sehebat apa?
Zhen Jian merasa sangat malu, tak punya muka lagi untuk tetap berada di sana.
Saat melihat Zhen Jian ingin pergi, Lin Xiaodie berlari ke pintu dan menarik lengannya, bertanya, “Kak Zhen, maksudmu apa?”
Zhen Jian benar-benar sedang mencari pelampiasan amarah. Ia mendorong Lin Xiaodie hingga terjatuh ke lantai, lalu berkata penuh kebencian, “Ini semua gara-gara kau memaksaku menemui Bai Hongdi. Sekarang, kalau dia sampai menuntut keluarga kami, kau juga tak bakal selamat.”
“Kak Zhen, bukan begitu, aku juga tak tahu akan jadi seperti ini, semua gara-gara Lin Jiajia, dia yang berbuat licik,” Lin Xiaodie baru sekarang sadar betapa seriusnya masalah ini.
Zhen Jian adalah pria yang dengan susah payah berhasil ia dekati, impian menikah ke keluarga kaya sepenuhnya bergantung pada Zhen Jian.
Tapi sekarang, jelas Zhen Jian ingin memutuskan hubungan.
Zhen Jian melepaskan tangan Lin Xiaodie dengan kasar sambil memaki, “Peduli setan dengan kelicikanmu. Tak ada satu pun yang berguna di keluargamu. Aku muak dengan wanita sepertimu, jangan dekati aku lagi.”
“Jangan, aku mohon!” Lin Xiaodie berdiri dan mengejar Zhen Jian, “Semuanya salahku, maafkan aku, kau suruh aku apa saja, aku akan lakukan.”
“Pergi!” Zhen Jian benar-benar kejam, sekali lagi menepis Lin Xiaodie.
Hubungan mereka memang hanya main-main sejak awal. Lin Xiaodie terlalu percaya diri.
Sejak awal, Zhen Jian tak pernah berniat menikahi gadis yang suka menarik perhatian seperti Lin Xiaodie.
Ia datang ke pesta malam ini hanya ingin pamer kekuasaan di keluarga Lin dan menarik perhatian Lin Jiajia.
Bagi Zhen Jian, dibanding Lin Xiaodie, ia jauh lebih menginginkan kecantikan luar biasa Lin Jiajia.
Sayang, rencananya gagal total, ia tak hanya gagal mendekati Lin Jiajia, malah menyinggung Bai Hongdi. Sungguh rugi besar.
Menghadapi sikap dingin Zhen Jian, Lin Xiaodie hanya bisa melongo.
Mana ia tahu segalanya akan berubah jadi seperti ini?
Padahal Zhen Jian sendiri yang bilang ia sangat akrab dengan Bai Hongdi.
Zhen Jian pergi sambil menggerutu, meninggalkan Lin Xiaodie yang berlinang air mata.
Tuan Lin pun tak sempat lagi mempedulikan Lin Xiaodie. Ia berjalan ke hadapan Bai Hongdi, membujuk, “Tuan Bai, semua ini salah saya yang lalai, bagaimana kalau kita naik ke kursi kehormatan?”
“Aku tidak berminat.” Tatapan Bai Hongdi begitu dingin menatap Tuan Lin. “Kudengar, kalian ingin mengganti Lin Jiajia?”
“Tidak, sama sekali tidak ada hal seperti itu. Mungkin Jiajia salah paham, makanya bilang sesuatu padamu,” Tuan Lin berkata dengan gugup.
Wajah Bai Hongdi tampak membeku, “Wakil Direktur Lin tak bicara apa-apa, tapi informasi dari dalam keluarga Lin justru bocor ke mana-mana.”
Maksud Bai Hongdi jelas, di keluarga Lin banyak sekali orang suka mengadu, tak perlu Jiajia bicara pun kabar sudah menyebar.
Tuan Lin sampai gemetar ketakutan, merasa seperti menghadapi musuh besar.
Perusahaan Grup Hongdi sudah mereka raih dengan susah payah, jika sampai terjadi masalah sekarang, semuanya akan sia-sia.
Tuan Lin sadar betul betapa pentingnya hal ini, sedikit saja lengah, kerugian perusahaan bisa jauh lebih besar dari satu proyek lima milyar, bahkan masa depan grup bisa jadi taruhannya.
Ia pun segera membungkuk, membujuk dengan suara merendah, “Ini semua hanya salah paham. Saya selalu paling menghargai Jiajia, juga tahu Tuan Bai sangat memercayainya. Bagaimana mungkin saya mau mengganti orang? Tentu saja tidak akan saya lakukan.”
Wajah Tuan Lin terasa seperti ditampar berkali-kali, setengah jam lalu ia masih merasa senang karena bisa mengganti Lin Jiajia, sekarang malah bersumpah tak akan pernah melakukannya.
Perubahan sikapnya benar-benar luar biasa, bisa menyaingi pertunjukan sulap tingkat dunia.
“Bagus kalau memang tidak ada niat seperti itu. Tapi kalau sampai ada, lebih baik segera diurungkan. Aku peringatkan dari sekarang, bila kau mengganti Lin Jiajia tanpa persetujuanku, maka seluruh kerja sama akan langsung dihentikan. Kau juga tahu, keluarga Bai kami tidak peduli dengan ganti rugi itu,” Bai Hongdi berkata dengan wibawa besar, membuat siapa pun tak berani remeh.
Tuan Lin gemetar ketakutan, “Benar, benar, kami pasti akan bekerja sama sepenuhnya dengan Tuan Bai.”
Dengan demikian, tujuan Bai Hongdi untuk menekan keluarga Lin sudah tercapai.
Ia melambaikan tangan, berkata, “Aku hanya ingin menyapa Wakil Direktur Lin, lalu pergi. Kau lanjukan saja urusanmu.”
Tuan Lin merasa seperti mendapat pengampunan, segera memanggil Lin Jiajia untuk menyambut Bai Hongdi, sementara ia sendiri bergegas pergi.
Bai Hongdi sendiri maju menyalami Lin Jiajia dan Wang Yi, lalu meninggalkan tempat itu lebih dulu.
Begitu Bai Hongdi pergi, Lin Xiaodie yang menangis tersedu-sedu segera mencari Tuan Lin untuk mengadu.
“Kakek, kau harus membela aku!” Lin Xiaodie menatap Lin Jiajia di seberangnya dengan penuh kebencian.
Tuan Lin melihat wajah Lin Xiaodie yang berlinang air mata, ikut merasa terenyuh.
“Kenapa kau menangis? Di mana Zhen Jian?”
Lin Xiaodie makin keras menangis. Ia menutupi wajah, sangat sedih, “Zhen Jian marah, bahkan... bahkan memutuskan aku.”
Tuan Lin menghela napas kecewa. Memang, kejadian tadi cukup memalukan.
Ia sempat berharap dengan hubungan Zhen Jian, keluarga mereka bisa lebih dekat dengan keluarga Bai. Tapi ternyata semua hanyalah mimpi kosong.
Untungnya Bai Hongdi tak sampai membatalkan kontrak, jika tidak, Tuan Lin bisa saja jatuh sakit karena saking marahnya.
Semua ini gara-gara Lin Jiajia. Kalau saja Lin Jiajia mau mengalah demi keluarga, mundur dari jabatan penanggung jawab, tak akan terjadi kekacauan sebesar ini.
Sekarang malah Lin Xiaodie ikut jadi korban, ditinggalkan Zhen Jian. Sangat menyebalkan.
Tuan Lin benar-benar sulit menahan amarahnya.
Ia menegakkan kepala, memanggil, “Lin Jiajia, ke sini!”
Lin Jiajia sempat berharap malam ini akan berjalan tenang, tak disangka namanya dipanggil juga.
Perlahan ia melangkah maju, “Ada urusan apa, Kakek?”
Saat itu juga, Lin Jiajia merasakan hawa dingin dari tubuh Tuan Lin.
Wajah Tuan Lin penuh amarah, ia berkata dengan suara dalam, “Perusahaan Zhang di sebelah timur kota masih menunggak hampir sepuluh juta pada kita. Sekarang juga kau pergi tagih, sebelum jam lima sore besok aku ingin melihat uangnya sudah masuk ke rekening.”
Apa!
Sekarang sudah lewat jam delapan malam, kantor perusahaan orang itu pasti sudah tutup.
Artinya, ia hanya diberi waktu kurang dari sepuluh jam.
Lin Jiajia tertegun, matanya yang indah membelalak.
Tadi pagi, Tuan Lin bilang ia hanya perlu membantu bagian keuangan menagih piutang itu, dan diberi waktu seminggu. Kenapa sekarang jadi hanya satu hari?
Jelas sekali, ini upaya untuk melempar tanggung jawab padanya.
Lin Jiajia bukan orang bodoh, ia paham Tuan Lin sengaja mempersulitnya, ingin mengurangi kekuasaannya.
Pasti ada hubungannya lagi dengan Lin Xiaodie.
Lin Jiajia tak bisa berkata apa-apa. Ia tak bisa menolak, hanya bisa mencoba bernegosiasi, “Kakek, sekarang sudah malam, perusahaan Zhang sudah tutup, satu hari waktu sepertinya terlalu singkat.”
“Itu urusanmu sebagai wakil direktur, bukan urusanku. Kalau kau tak bisa menyelesaikannya, pikirkan sendiri akibatnya. Di keluarga Lin ini masih banyak yang lebih mampu darimu. Kadang, seseorang harus tahu kapan waktunya mengalah, itu bukan hal buruk,” kata Tuan Lin tanpa belas kasihan.
Saat Lin Jiajia tengah bingung, Wang Yi mendekatinya.
“Tak apa, kalau Kakek sudah begitu mendesak, kau setujui saja,” Wang Yi berkata tenang.
Lin Jiajia menunduk, menatap Wang Yi dengan kesal.
Apa kau bodoh? Jelas ini jebakan. Siapa pun yang menerimanya pasti celaka.
Wang Yi tersenyum lembut padanya, tampak sangat santai.
Melihat sikap Wang Yi yang tenang, tatapan Lin Jiajia sejenak berubah.
Tuan Lin mengibaskan tangan dengan tak sabar, “Sudah, kalau tak ada lagi, pergi saja, jangan ganggu di sini.”
Lin Jiajia masih ingin membujuk, tapi sang Kakek sudah tidak memberinya kesempatan.
Ia pun memasang wajah masam, menarik lengan Wang Yi sambil mengeluh, “Kenapa kau sok jago, kau tahu sendiri seperti apa keluarga Zhang, malah sengaja memperparah situasi. Kau memang ingin Kakek punya alasan menyingkirkanku, ya?”
“Menurutku, kau sudah terlalu lelah jadi wakil direktur, kenapa tak sekalian berhenti saja? Bagaimana?” Wang Yi menggoda.
“Kenapa harus berhenti? Posisi ini aku raih dengan usahaku sendiri, tak mau aku menyerah. Aku yakin, selama aku punya prestasi, mereka takkan bisa macam-macam,” Lin Jiajia menegakkan kepala, pantang menyerah.
Wang Yi mencolek hidungnya dengan manja, tersenyum, “Itulah Lin Jiajia yang kukenal. Tenang saja, aku akan membantumu menyiapkan jalan.”
Lin Jiajia menatapnya malu-malu, “Tak usah ikut campur, aku harus segera pulang cek data, tahu lawan tahu diri, baru bisa menang.”
“Sekarang?”
“Tentu, ayo cepat!” Lin Jiajia menarik lengan Wang Yi meninggalkan rumah keluarga.