Bab 97: Tindakan Chen Buyi
Gen waktu dan ruang milik Mawar adalah hasil jerih payah Morgana. Demi menjaga perasaan Mawar, Morgana hampir tidak mungkin akan menggunakan kekuatan iblis secara langsung lagi di Tiongkok. Paling banter, ia hanya akan mengganggu rencana yang akan dilakukan oleh Chen Buyi dengan cara serupa.
Namun, Chen Buyi bisa bertindak sesuka hati tanpa harus menahan diri.
“Aku tak tahu mimpi buruk apa yang dialami Ketua Li. Masa mungkin Sanhe Tang kami sampai menyinggung perasaanmu dalam mimpi? Tapi rasanya tak perlu sampai membuat keributan sebesar ini terhadap kami, bukan?” ujar Huang Yong.
“Huang Yong, kebetulan, aku juga bermimpi buruk semalam!” sahut He Yaoyang dengan nada kesal.
“Ketua Huang, bukan maksud kami khusus mengincar Sanhe Tang. Hanya saja mimpi buruk semalam membuat semua saudara di Dongru merasa gelisah!” tambah Zhao Changsheng, pemimpin Taman Yuheyuan.
Wakil dari kekuatan lain pun mengutarakan alasan serupa.
“Bagaimana bisa!”
Huang Yong merasa lucu, namun ia juga tak bisa menjelaskan. Bagaimana mungkin semua kekuatan di Dongru, bahkan organisasi netral seperti Qinglintang dan Persatuan Tabib, ikut-ikutan sampai segila ini?
He Yaoyang semakin kesal, melangkah maju dan berkata, “Huang Yong, kalau Sanhe Tang kalian sekarang menyerah dengan baik-baik, mungkin aku sedang dalam suasana hati yang baik dan akan membiarkan mayatmu tetap utuh!”
“Kak Huang, peledak kendali jauhnya sudah siap!” bisik Cai Wenjie yang entah sejak kapan sudah berdiri di dekatnya.
“Baik.”
Huang Yong mengangguk, lalu berkata kepada orang-orang di bawah, “Aku tak tahu mimpi buruk seperti apa yang kalian alami. Sanhe Tang kami memang tidak ingin bermusuhan dengan kalian, tapi kami juga bukan sasaran empuk yang bisa dipermainkan sesuka hati!”
“Hari ini, aku, Huang Yong, bersama saudara-saudaraku di Sanhe Tang, akan melihat bagaimana kalian menerobos masuk. Entah siapa yang nanti akan babak belur! Hahaha!”
Begitu Huang Yong berkata demikian, orang-orang di bawah mulai gelisah.
Li Kejun bertanya kepada anak buahnya, “Semua sudah siap?”
“Tenang, Ketua. Kami akan membuat Huang Yong itu merasakan kehebatan kami, Persaudaraan Hongshuang!” jawab anak buahnya dengan percaya diri.
Li Kejun mengangguk, lalu berdiskusi dengan kekuatan lain untuk menyerang Sanhe Tang secara serempak.
Alasan mereka bicara panjang lebar dengan Huang Yong, selain untuk mengumpulkan orang, juga untuk mempersiapkan serangan.
Bagaimanapun, markas Sanhe Tang terletak di sebuah pusat perbelanjaan, dan mereka memiliki hampir seratus senapan—kekuatan tembakan yang patut diperhitungkan.
Apalagi, walaupun banyak kekuatan berkumpul bersama, tiap-tiap pihak punya agenda masing-masing. Ada yang sengaja bermalas-malasan, membiarkan Persaudaraan Hongshuang menjadi korban.
Li Kejun pun berdiskusi dengan para ketua lain demi meminimalkan kerugian sendiri. Kalau mungkin, selesai menaklukkan Sanhe Tang, mereka bisa sekaligus menguasai kekuatan kecil seperti Yuheyuan dan Qinglintang.
Lewat mimpi buruk itu, orang-orang di internal Persaudaraan Hongshuang juga merasa bahwa sudah saatnya hanya satu suara yang terdengar di Dongru.
Meskipun mimpi itu aneh, menyelesaikan ancaman saat ini adalah yang utama. Lainnya, nanti saja dipikirkan setelah mereka berhasil lolos dari serangan makhluk luar angkasa.
Kelompok peledak kendali jarak jauh milik Cai Wenjie, belasan orang dengan remote control di tangan, mulai menggerakkan mobil-mobil dan pesawat mainan menuju arah Li Kejun dan He Yaoyang.
Suara mesin mobil dan pesawat mainan yang sudah dimodifikasi memang pelan, tapi di saat genting seperti ini, suara sekecil apa pun mudah menarik perhatian.
Li Kejun hendak memberi aba-aba menyerang saat ia menangkap suara seperti dengungan nyamuk. Ia refleks menengadah dan mendapati lima hingga enam pesawat mainan sudah melayang tepat di atas kepala!
Hatinya bergetar, firasat buruk muncul. Ia langsung berteriak, “Semua berpencar! Tembak jatuh pesawat-pesawat di atas!”
Orang-orang di sekitarnya masih belum paham. He Yaoyang bahkan memandang Li Kejun dengan sinis karena takut pada beberapa pesawat mainan.
Pada saat itu, kelompok peledak Cai Wenjie memutus aliran listrik pesawat kendali mereka.
Lima atau enam pesawat remote itu pun jatuh bebas ke tengah kerumunan. Meski mereka tak tahu apa yang terjadi, orang-orang di sekitar tetap refleks menghindar.
Namun setelah melihat pesawat-pesawat itu hanya jatuh tanpa dampak apa pun, semua kembali tenang.
Hanya Li Kejun yang masih merasa gelisah.
Tiba-tiba terdengar suara mesin mobil mainan yang jelas. Banyak orang hanya diam memperhatikan tujuh hingga delapan mobil mainan melaju ke arah mereka.
Cai Wenjie yang berdiri di jendela tersenyum pada Huang Yong, lalu mengeluarkan remote dan menekan tombol-tombol merah satu per satu.
Li Kejun, seolah mendapat firasat, menengadah dan melihat senyum aneh Cai Wenjie. Sembari berlari ia berteriak, “Itu peledak! Cepat menghindar…”
“Boom!”
“Boom!”
“Boom!”
Belum sempat Li Kejun selesai bicara, peledak-peledak itu sudah meledak.
Setiap peledak minimal merenggut tiga nyawa, dan beberapa orang lainnya terluka terkena serpihan.
Karena tak memperhatikan pesawat dan mobil mainan tadi, He Yaoyang pun terkena serpihan di mata.
He Yaoyang pun menutupi matanya dan berteriak marah, “Serbu Sanhe Tang! Aku ingin Huang Yong merasakan nasib yang lebih buruk dari kematian!”
Orang-orang dari Surga Dunia langsung menyerbu lantai satu Sanhe Tang. Tapi baru saja melewati pintu, terdengar ledakan keras.
Ternyata Cai Wenjie memang sudah lama menyiapkan peledak di sekitar pintu, sebagai bentuk pencegahan—dan hari ini ternyata benar-benar diperlukan.
Ledakan di lantai satu Sanhe Tang membuat orang-orang di belakang takut maju, khawatir masih ada peledak di tempat lain dalam pusat perbelanjaan itu.
Akhirnya mereka hanya bisa menembak secara sporadis ke lantai atas dengan senapan.
“Tat-tat!”
“Tat-tat!”
...
Baku tembak pun terjadi. Namun karena Sanhe Tang berada di tempat yang lebih tinggi, mereka hampir tak terluka, malah banyak musuh yang tewas.
Melihat pihak lain mengalami banyak kerugian, Li Kejun tersenyum tipis dan berteriak, “Anggota Persaudaraan Hongshuang, maju!”
Puluhan orang Persaudaraan Hongshuang, masing-masing membawa dua botol, menyalakan sumbu api dan melemparkannya ke arah Sanhe Tang.
Botol-botol itu pecah dan langsung menyulut api di lantai dan dinding. Ternyata itu adalah bom molotov berisi bensin yang sudah dipersiapkan Li Kejun sebelumnya.
Ia bahkan meminta izin khusus kepada ketua mereka untuk mendapatkan satu peti bensin.
Api pun mulai berkobar di lantai bawah Sanhe Tang. Beberapa bom molotov juga dilempar ke lantai dua, menyebabkan api merembet ke sana.
Huang Yong tak tahu apa guna tindakan Li Kejun. Apa ia ingin membakar mereka hidup-hidup?
Padahal, membakar bensin di lantai hanya menghalangi pihak lain menyerbu Sanhe Tang, dan tak membahayakan mereka yang bertahan di atas.
Tentu saja Li Kejun tak sebodoh itu. Beberapa orang lagi kemudian melemparkan kantung-kantung kain berisi sesuatu ke dalam kobaran api.
Begitu kantung-kantung itu terbakar, keluarlah asap tebal.
Awalnya Huang Yong tak tahu apa yang dilakukan Li Kejun. Tapi tak lama, orang-orang Sanhe Tang mulai mencium bau pedas yang menusuk hidung.
Semakin banyak kantung yang dilempar, bau pedas makin terasa dan segera memenuhi lantai tiga.
“Uhuk! Li Kejun benar-benar licik!” ujar Cai Wenjie sambil berlinang air mata, begitu juga yang lain.
“Uhuk! Apa ini!” seru Liang Bing, juga terbatuk karena bau menyengat.
Chen Buyi yang mengamati situasi dari atas, tahu betul apa penyebab bau itu.
Ternyata Li Kejun dari Persaudaraan Hongshuang memang bukan orang sembarangan!
Cara seperti ini saja bisa terpikir olehnya. Rupanya ia memang sudah lama mempersiapkan diri untuk menaklukkan Sanhe Tang.