Tang Zhenhua renasceu. Ele renasceu de 2030 para 1990. Na vida passada, para a ciência e a tecnologia, ele se juntou à nacionalidade dos Estados Unidos. Até os pais morrerem, ele não retornou, e foi criticado por parentes e amigos por ser um filho desonrado! Lobo de olhos brancos! Ingrato! Cheio de arrependimento! Desta vez, na véspera da formatura, Tang Zhenhua escolheu retornar firmemente ao país. Nesta vida, ele quer ser um verdadeiro chinês, e ao mesmo tempo ajudar o pai a resolver a crise da fábrica de eletrônicos, então vamos começar fabricando televisores de cor...
Pada malam Tahun Baru Imlek 2030, di Desa Tang di Provinsi Yuzhou, salju lebat turun memenuhi langit. Tang Zhenhua, yang telah melewati usia enam puluh, berlutut di depan gerbang aula leluhur Keluarga Tang. Di telinganya, suara-suara tajam terus menusuk tanpa henti.
Namun Tang Zhenhua tak bergeming. Matanya hanya terpaku pada satu baris tulisan di silsilah keluarga yang terbentang di hadapannya: ia, keturunan ketujuh marga Tang, meninggalkan ayah dan ibu di ranjang sakit, lalu menelantarkan rumah leluhur di negeri seberang.
Bunga-bunga salju di atas silsilah itu, seolah menjadi lambang keputusasaan kedua orang tuanya, menusuk dalam ke dadanya.
Saat itulah Tang Zhenhua benar-benar merasakan seperti apa sakit yang mengoyak jantung.
Darah muncrat dari mulutnya. Di atas salju, mekar setangkai bunga merah yang begitu mencolok.
Lalu tubuhnya perlahan tumbang, dan kesadarannya lenyap.
“Tang, kau tidak apa-apa?”
Di detik berikutnya, sebuah suara terdengar di telinga Tang Zhenhua.
“Aku... ini di mana?”
Tang Zhenhua membuka mata, menatap sekeliling dengan bingung. Bangunan bergaya Barat, lampu kristal tergantung, meja rias dari kayu ek, sisa-sisa makanan dan minuman berserakan di dalamnya...
“Tang, selamat, kau sudah lebih dulu mendapat tawaran kerja dari Qualcomm!”
Saat itulah suara lain kembali terdengar di telinganya.
Tang Zhenhua mengangkat kepala. Di sampingnya berdiri seorang bule berambut keriting panjang, berhidung mancung seperti paruh elang, bermata biru.
“Jack?”
Tang Zhenhua agak heran.