Bab 2: Krisis Pabrik, Aku Bisa Menyelesaikannya!
"Tidak apa-apa," ucap Tang Zhiguo datar.
"Ceritakanlah, siapa tahu aku bisa membantumu mencari jalan keluarnya."
"Kamu tidak akan mengerti. Karena sudah pulang, istirahatlah yang cukup. Temani ibumu di rumah, urusan lain tidak perlu kamu pusingkan."
"Kalau Ayah tidak mau cerita, aku akan bertanya pada Ibu."
"Kamu ini... sebenarnya tidak ada apa-apa, hanya saja kinerja pabrik sedang kurang baik belakangan ini, jadi agak pening."
"Wah! Aku kira ada masalah apa. Tenang saja, serahkan padaku, dalam sekejap aku akan menyelesaikannya."
Jika di kehidupan sebelumnya, Tang Zhenhua tidak akan berani sesumbar itu. Namun kini, otaknya menyimpan berbagai teknologi mutakhir. Mengeluarkan satu saja sudah cukup untuk mengungguli dunia, apalagi hanya soal mencari uang.
"Jangan membual, kita sudah sampai!"
Tang Zhiguo sama sekali tidak memercayai putranya. Ia telah berjuang keras selama belasan tahun dan sudah mencicipi asam garam kehidupan. Menurutnya, masalah pabrik hanyalah sementara dan pasti akan berlalu.
"Oh!"
Melihat ayahnya enggan bicara lebih jauh, Tang Zhenhua pun tidak bertanya lagi.
"Ibu sayang, aku pulang!"
Setibanya di rumah, melihat Xu Shumin yang sedang sibuk di dapur, Tang Zhenhua segera menghampirinya dan memeluknya dengan hangat.
"Lepaskan! Sudah sebesar ini masih saja bertingkah seperti anak kecil."
Meski mulutnya menggerutu, Xu Shumin tidak menepis pelukan putranya.
"Seberapa besarpun aku, aku tetaplah anak Ibu!"
Saat ini, usia Xu Shumin baru kepala empat dan sedang berada di masa kecantikannya. Rambut gelombang besarnya berpadu serasi dengan wajah yang elok, menyaingi pesona bintang film ternama. Tang Zhenhua sering berpikir, entah apa yang dipikirkan ibunya dulu sampai bisa jatuh hati pada ayahnya. Padahal, Tang Zhiguo tidaklah buruk; dengan tinggi badan 180 cm, ia termasuk pria yang menonjol di era yang serba kekurangan itu.
"Iya, iya! Anakku sayang, lepaskan, masakannya hampir gosong!"
"Kalau gosong, biar Ayah saja yang makan."
"Dasar nakal, apa yang kamu katakan!"
"Kenapa? Apa Ayah merasa masakan Ibu tidak enak?"
"Ti... tidak!"
Melihat tatapan tajam istrinya, Tang Zhiguo seketika menciut.
"Hehe."
Tang Zhenhua di sampingnya menahan tawa.
"Dasar bocah, berani kamu menertawakanku?"
Tang Zhiguo melepas ikat pinggangnya, bersiap memberi pelajaran.
"Ibu! Ibu! Lihat Ayah, aku baru saja pulang malah mau dipukul!"
Tang Zhenhua segera berlindung di balik punggung Xu Shumin.
"Dia sudah besar, kamu juga, kalau tidak ada kerjaan bantu masak sana."
"Aku... nanti aku beri pelajaran kamu."
Di rumah ini, Xu Shumin adalah penguasa tertinggi. Tang Zhenhua berada di urutan kedua, sementara Tang Zhiguo berada di posisi terbawah. Tang Zhenhua tersenyum tipis, sungguh menyenangkan melihat kehangatan keluarga ini.
"Yah, sebenarnya ada apa dengan pabrik?" tanya Tang Zhenhua saat makan malam.
"Tidak ada apa-apa, habiskan saja makananmu." Tang Zhiguo kembali mengerutkan kening.
"Ibu, kalau Ayah tidak mau cerita, Ibu saja yang beri tahu aku," desak Tang Zhenhua.
"Nak, urusan pabrik tidak perlu kamu pikirkan. Kamu baru pulang, istirahatlah beberapa hari," ujar Xu Shumin sambil melirik suaminya.
"Ada apa? Apakah rugi? Atau bangkrut? Apa yang tidak bisa dibicarakan!" desak Tang Zhenhua cemas.
"Sebenarnya pabrik itu..."
"Tidak separah itu, hanya ada tumpukan stok barang yang belum terjual," potong Tang Zhiguo sambil menyalakan rokok.
"Bukankah kita merakit televisi? Kenapa sampai menumpuk stok?"
Di tahun 90-an, permintaan pasar akan televisi sangat tinggi. Tang Zhiguo biasanya menerima pesanan dari pabrik besar untuk merakit mesin, jadi seharusnya tidak ada masalah penumpukan barang.
"Itu semua gara-gara kamu..."
"Uhuk!" Xu Shumin segera terbatuk untuk memotong ucapan suaminya.
"Tidak ada apa-apa, Ayah hanya ingin mencari untung lebih. Kamu tahu sendiri merakit televisi tidak memberikan banyak laba, jadi Ayah mencoba membuat merek sendiri, siapa sangka ternyata tidak laku," jelas Tang Zhiguo dengan nada santai.
"Ayah? Jadi begitu?"
Di kehidupan sebelumnya, Tang Zhenhua tidak pernah mendengar cerita ini. Kalaupun ayahnya pernah bercerita, ia mungkin tidak akan mendengarkannya. Teringat betapa borosnya dirinya di kehidupan lalu, ia merasa ingin menampar dirinya sendiri.
Sambil menahan air mata, Tang Zhenhua berkata, "Yah, beri tahu aku detailnya, siapa tahu aku bisa membantumu menjual televisi-televisi itu."
"Kamu?"
"Kenapa? Ayah meremehkan aku yang lulusan doktoral dari Harvard?"
"Sudahlah, anakmu jauh lebih pintar darimu. Kalau dia bilang bisa, pasti bisa," dukung Xu Shumin.
"Baiklah, aku ingin lihat apa yang bisa kamu lakukan." Tang Zhiguo pun menjelaskan kondisi pabrik dan situasi pasar secara rinci.
"Huaqiangbei?"
Mendengar nama itu, Tang Zhenhua tidak terkejut. Di kehidupan sebelumnya, ia sudah mengenal tempat itu bahkan saat berada di luar negeri. Di era 80-an dan 90-an, Huaqiangbei awalnya adalah kawasan komersial untuk produksi dan penjualan komponen elektronik, tempat berkumpulnya pabrik kecil dan pedagang grosir. Memasuki abad ke-21, berkat kebangkitan industri manufaktur elektronik Tiongkok, Huaqiangbei berubah menjadi pusat distribusi produk elektronik terbesar di negeri itu, bahkan menarik pembeli dari mancanegara.
"Kamu juga tahu tempat itu?" tanya Tang Zhiguo heran.
"Pernah dengar dari teman. Yah, apakah televisi berwarna sudah banyak di pasaran sekarang?"
Tahun 90-an adalah masa transisi di mana televisi berwarna menggantikan televisi hitam-putih. Jika bisa menguasai peluang ini, kesuksesan sudah di depan mata.
"Ada, tapi semuanya produk impor."
"Kalau begitu, masih ada kesempatan!"
"Hah?"
"Yah, tenang saja, aku pasti bisa menjual televisi-televisi itu."
"Bagaimana caranya?"
"Itu urusan nanti, besok bawa aku ke pabrik untuk melihat-lihat."
Di bawah tatapan bingung ayahnya, Tang Zhenhua kembali ke kamarnya.
"Akses data mengenai televisi berwarna."
Dalam benaknya, data-data mulai mengalir. Televisi berwarna membutuhkan saluran kroma dan dekoder, sirkuit penguat video tiga warna primer, tabung sinar katode warna, sistem kendali jarak jauh dengan CPU, teknologi pengodean yang kompatibel, serta pasokan daya multi-jalur. Bagi orang lain ini mungkin rumit, tapi bagi Tang Zhenhua, ini hanyalah hal sepele.
Tang Zhenhua tidak hanya ingin membantu menjual stok televisi ayahnya, ia juga ingin memberikan kejutan bagi pasar. Ia segera mengambil kertas dan pena, lalu mulai menggambar.
Saluran kroma dan dekoder untuk memproses sinyal warna, tabung sinar katode dengan sistem *shadow mask*, serta sirkuit kendali cerdas untuk pengaturan volume dan kanal. Mulai dari struktur internal hingga desain eksterior, semua ia gambar dengan detail.
Setelah bekerja hingga larut malam, Tang Zhenhua akhirnya merancang sebuah televisi berwarna yang unik. Ia yakin, begitu televisi ini diluncurkan, pasar elektronik akan dibuat gempar!
"Ah!"
Tang Zhenhua menguap lebar, merebahkan tubuhnya di tempat tidur, dan seketika terlelap.