Bab 22: Sudah Punya Pacar Saja
"Menyerahkan diri sebagai balasan?"
Gadis cantik berkuncir dua itu memerah, menatap Lu Tian dengan malu-malu, lalu menundukkan kepalanya dan bergumam pelan.
"Apa maksudnya?"
Lu Tian terpaku sejenak, lalu menatapnya dan bertanya, "Apa maksud gumamanmu barusan?"
"Ka... kau sendiri yang bilang tadi, ingin aku menyerahkan diri sebagai balasan. Aku... aku bersedia." Gadis berkuncir dua itu menjawab dengan wajah bersemu merah, bicaranya sedikit terbata-bata karena malu.
Otak Lu Tian berdengung hebat. Bukan begitu, dia tadi hanya bercanda, ternyata gadis cantik ini menanggapinya dengan serius.
"Kau serius?"
"Sekali seorang gadis berucap, takkan bisa ditarik kembali!" Gadis itu mengatupkan gigi putihnya, lalu mengulurkan tangan seraya berkata, "Apa yang kukatakan itu sungguhan!"
"Hiss~" Lu Tian menarik napas dalam-dalam. Kini gilirannya yang bingung harus berbuat apa.
Jika dibilang tidak tertarik pada gadis cantik, itu tentu mustahil bagi pria normal mana pun. Namun, jika dibilang tertarik, Lu Tian juga tidak bisa bertindak sembarangan. Semua ini terjadi terlalu mendadak.
"Aku perlu menenangkan diri."
"Kau... bukankah kau yang memintaku menyerahkan diri? Kenapa sekarang malah kau yang ragu setelah aku setuju!" protes gadis itu dengan kesal.
Lu Tian menjawab, "Bukan ragu, hanya saja aku belum bisa mencerna situasinya dengan cepat. Tapi, jika kau memang serius, aku tentu tidak keberatan mendapatkan pacar secantik dirimu."
"Bukan sekadar mendapatkan begitu saja, lagipula kau baru saja menyelamatkanku," ucap gadis itu dengan wajah yang makin memerah.
Lu Tian mencoba menggenggam tangan lembutnya. Melihat gadis itu tidak menolak, dia menarik napas pelan lalu merangkul pinggangnya dan menariknya ke dalam pelukan.
"Ehm," gadis itu mengeluarkan suara kecil, lalu menunduk dan berbisik, "Namaku Ning Ling, Ling seperti suara genta. Siapa namamu?"
"Lu Tian."
"Kalau begitu, boleh kupanggil kau Kak Tian?" tanya Ning Ling malu-malu.
Lu Tian tak kuasa menahan tawa, "Kalau begitu, aku akan memanggilmu Lingdang."
"Hmm." Ning Ling mengangguk, menyandarkan diri di bahu Lu Tian, hatinya diliputi kebahagiaan yang sulit digambarkan.
Suasana hati Lu Tian pun sangat baik. Merasakan kelembutan tubuh Ning Ling dan menghirup aroma harum yang terpancar darinya, ia merasa sangat bersemangat.
***
"Aku ingin pergi mencari makan, kau mau ikut?"
"Tentu." Ning Ling mengangguk. "Aku tahu satu tempat makan yang masakannya sangat lezat, akan kurekomendasikan padamu."
"Bagus, pimpin jalannya," ujar Lu Tian sambil tersenyum.
Keduanya berjalan pergi sambil bercanda tawa. Orang-orang di sekitar sana hanya bisa ternganga melihat mereka, "Gila, ini terlalu cepat!"
"Bukan begitu, ini situasi apa sebenarnya? Apakah anak muda zaman sekarang jatuh cinta secepat ini?"
"Terlalu berlebihan!"
"Sial, kenapa bukan aku yang di posisi itu!"
"Brengsek, andai tahu ada keberuntungan seperti ini, aku pasti sudah maju menyelamatkan si cantik tadi."
"Hei kawan, dengan wajahmu yang seperti itu, lupakan saja! Kalaupun kau berhasil menyelamatkannya, gadis itu mungkin hanya akan bilang ingin membalas budimu di kehidupan selanjutnya, bukan menyerahkan diri di kehidupan sekarang."
"Sialan, dasar pemuja wajah!"
"Hahaha!"
Orang-orang tertawa terbahak-bahak, kecuali dua penipu tadi yang tidak bisa tertawa. Mata mereka penuh kebencian pada Lu Tian, namun mereka tidak berani bertindak apa-apa.
Beberapa preman yang tadinya hendak mendekati Lu Tian tampak berubah wajah. Mereka kembali ke mobil dan melapor, "Bos Macan, bocah itu sepertinya punya kemampuan bela diri. Orang-orang kita saja mungkin tidak cukup."
"Huh, ternyata bocah itu menyimpan kemampuannya. Dia benar-benar memberi kita banyak kejutan," dengus Macan dingin. Dia lalu berkata, "Tapi kalian tidak perlu khawatir. Selama kalian bisa menangkap bocah itu untukku, semuanya akan beres."
"Bos Macan, Anda ingin turun tangan sendiri?" tanya mereka terkejut.
Macan mengangguk, "Sudah lama aku tidak meregangkan otot. Hari ini, biarlah bocah itu menjadi santapanku!"
"Baik, Bos Macan!" jawab anak buahnya dengan semangat, lalu segera membuntuti Lu Tian.
Lu Tian sebenarnya sudah menyadari ada yang membuntuti sejak tadi. Namun, karena pihak lawan belum bertindak, ia pun malas memedulikannya. Baginya, makan adalah hal yang lebih penting saat ini.
Tempat makan yang direkomendasikan Ning Ling memang memiliki cita rasa yang luar biasa. Meski harganya cukup mahal, itu sangat sepadan.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Ning Ling.
Lu Tian tersenyum, "Sangat enak."
"Syukurlah," ujar Ning Ling senang. "Aku tahu banyak tempat makan seperti ini. Jika ada kesempatan nanti, aku pasti akan mengajakmu berkeliling ke semuanya."
"Itu akan sangat menyenangkan," jawab Lu Tian.
Tepat saat itu, dua kakek di meja sebelah mulai berselisih.
"Lao He, apa maksudmu! Aku tulus ingin menjual harta ini kepadamu, tapi kau menawar dengan harga serendah itu, bukankah ini keterlaluan?" Seorang kakek kurus dengan wajah penuh bercak penuaan berdiri sambil menggebrak meja dengan marah, menunjuk pria tua gemuk yang duduk di seberangnya.
"Kita sudah berteman puluhan tahun, apakah kau tega memperlakukanku seperti ini?"
"Jangan emosi begitu, Lao Tan. Dalam kondisi ekonomi seperti sekarang, bisnis apa pun sulit dijalankan, aku juga tidak punya pilihan," jawab Lao He sambil terkekeh santai. Sambil menikmati makanan dan minumannya, ia menambahkan, "Kalau kau merasa tawaran hargaku terlalu rendah, silakan cari pembeli lain saja."
"Kau, kau!" Wajah Lao Tan memucat. Tangan kurusnya mengepal erat, matanya menatap Lao He dengan penuh amarah.
"Lao He, tidak... Bos He, aku benar-benar tidak menyangka, setelah puluhan tahun berteman, kau malah ingin memanfaatkan kesulitanku. Kau sungguh kejam!"
"Cih, kata-kata macam apa itu? Kapan aku memanfaatkan kesukaranmu? Lao Tan, jangan bicara sembarangan, atau kita bahkan tidak bisa menjadi kenalan lagi." Bos He mengerutkan kening dengan kesal. "Hari ini, kalau tidak mau menjualnya, silakan bawa pulang barang itu. Bagaimanapun, tiga puluh ribu adalah harga tertinggi yang bisa kuberikan untukmu."
"Apa kau pikir di seluruh Kota Jiangjing hanya kau satu-satunya pedagang barang antik? Kalau kau tidak mau beli, aku akan cari orang lain!" seru Lao Tan kesal, lalu bersiap mengambil cincin giok putih dari atas meja.
Mata Lu Tian sedikit berbinar. Cincin giok putih itu adalah barang berharga. Jangankan tiga puluh ribu, bahkan jika dibeli seharga tiga ratus ribu pun, itu akan menjadi keuntungan besar!
Namun, Bos He mencibir, "Kau punya harga diri! Tapi jangan lupa, siapa yang kau lawan, Lao Tan! Di seluruh Kota Jiangjing saat ini, siapa yang berani membeli barang darimu?"
"Selain aku, He Qiang, siapa yang mau mengeluarkan tiga puluh ribu untuk membelinya?"
"Kau!" Wajah Lao Tan pucat pasi.
Karena cucunya, ia sempat menyinggung seorang tokoh besar yang sangat berpengaruh. Orang itu sudah mengeluarkan perintah, sehingga tidak ada pedagang barang antik resmi yang berani menerima barang darinya. Bahkan toko-toko besar pun tidak berani mengambil risiko.
He Qiang tersenyum puas, "Lao Tan, dengarkan saranku, telan saja rasa pahit ini. Itu jauh lebih baik daripada barangmu membusuk di tangan sendiri, bukan begitu logikanya?"
"Tiga ratus ribu!" tiba-tiba sebuah suara terdengar dari samping.