Bab 47 Langsung Saja Satu Pukulan
"Omong kosong, benar-benar omong kosong! Orang-orang di bawah komanku sama sekali tidak mungkin melakukan hal semacam ini!" kata Yang Ye dengan dingin, sambil mengedipkan mata kepada bawahannya itu.
Kau ini, tolong bertindak yang benar, jangan malah menyembunyikannya di dalam saku celana!
Bawahan itu buru-buru berkata, "Terima kasih atas kepercayaan Ketua Yang. Seumur hidupku aku tidak pernah melakukan hal buruk, mana mungkin aku melakukan tindakan yang begitu hina dan tidak tahu malu!"
"Tuan Lu, Anda bilang saya telah menukar label yang Anda tulis. Baiklah, Anda boleh menggeledah tubuh saya! Hanya saja, jika Anda tidak menemukannya, apa yang akan Anda lakukan?"
"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Lu Tian.
Bawahan itu menatap Lu Tian dan berkata, "Jika tebakanmu salah, kamu harus mencungkil kedua bola matamu. Apakah kamu berani menyanggupinya?"
"Oh, ternyata hanya mencungkil bola mata, kukira kamu mau melakukan apa tadi." Lu Tian tersenyum mengejek.
Bawahan itu tertegun sejenak. Apakah otak anak ini bermasalah? Bukankah mencungkil bola mata itu sudah cukup mengerikan dan menakutkan? "Hih, jadi begitu, kamu setuju?"
"Bagus, jika ternyata kamu tidak menukar labelnya, aku akan mencungkil kedua bola mataku," kata Lu Tian sambil tersenyum. "Tapi, bagaimana jika kamu benar-benar telah menukarnya?"
"Aku..." Wajah bawahan itu sedikit berubah.
"Aku tidak perlu kau mencungkil bola matamu sendiri, asal kau menampar Ketua Yang dengan keras beberapa kali saja sudah cukup," kata Lu Tian sambil tersenyum.
Bawahan itu tertegun sejenak, lalu menatap ke arah Yang Ye. "I-Ini, ini..."
"Tidak apa-apa, selama kamu tidak bersalah, kamu sama sekali tidak perlu mengkhawatirkan hal ini," kata Yang Ye sambil menggertakkan gigi. "Nanti tampar saja aku."
"Baik, Ketua Yang!" Bawahan itu mengangguk dan berkata.
Lu Tian berkata dengan tenang, "Kalau begitu, aku akan mulai menggeledah."
"Silakan," ejek bawahan itu dalam hati. Sesaat sebelum ini, memanfaatkan kelengahan semua orang, ia telah mengambil label dari saku celana dan kini sedang menggenggamnya di tangan.
Bocah sialan, kau tidak akan pernah menyangka kalau labelnya kusembunyikan di dalam tangan, bukan!
Ha-ha!
Namun sedetik kemudian, senyum di wajahnya membeku.
Tampak Lu Tian melangkah mendekat, tetapi sama sekali tidak berniat merogoh saku celananya. Sebaliknya, ia langsung mengulurkan tangan, mencengkeram pergelangan tangan pria itu, lalu berkata sambil tersenyum riang, "Bocah, kamu lumayan juga ya, gerakan tanganmu cepat sekali, hampir saja aku terkecoh olehmu!"
"Sayang sekali, usahamu tetap bertepuk sebelah tangan karena bertemu denganku. Kamu sudah ditakdirkan untuk kalah."
"K-Kau, apa yang ingin kau lakukan?" Wajah bawahan itu tampak sangat buruk, ia buru-buru melontarkan protes.
Lu Tian berkata, "Panik? Karena di dalam tanganmu itu tersembunyi label tersebut, kan!"
"T-Tidak, bukan begitu, jangan asal memfitnah!" Wajah bawahan itu berubah drastis, ia berteriak dengan panik. "Tidak ada apa-apa di tanganku!"
"Kalau begitu, kenapa cepat-cepat tidak membuka telapak tanganmu?" tanya Lu Tian.
"Buka ya buka!"
Bawahan itu menggertakkan gigi. Tanpa diduga-duga dan sebelum yang lain sempat bereaksi, ia langsung memasukkan label yang ada di tangannya ke dalam mulutnya sendiri.
Dengan suara berkerotok, ia benar-benar menelannya mentah-mentah.
Wajah banyak orang di tempat kejadian langsung berubah, terutama Lin Bingxue. Ekspresinya bahkan ikut berubah, dan ia mendengus dingin, "Pria tidak tahu malu!"
"Tidak tahu malu bagaimana? Aku tidak mengerti apa yang Nona Besar Lin katakan!" Bawahan itu mencibir.
Melihat pemandangan ini, Yang Ye merasa sangat gembira.
Tadi saat pergelangan tangan bawahannya dicengkeram, ia sempat merasa khawatir, namun sekarang ia merasa bisa bernapas lega dan tidak perlu cemas lagi.
"Sudahlah, berhenti membicarakan omong kosong yang tidak berguna ini. Mari kita lihat seberapa banyak darah yang akan mengucur saat bola mata bocah ini dicungkil nanti. Ha-ha-ha!"
"Bocah, masih menunggu apa lagi, kenapa tidak segera mencungkil matamu sendiri!"
"Benar, kalah bertaruh harus berjiwa besar, kau tidak berniat menarik kata-katamu sendiri, kan?" Bawahan itu turut mencibir.
Sebaliknya, Lu Tian justru tersenyum. "Kau pikir menelan secarik kertas itu sudah hebat?"
"Apa maksudmu?" Bawahan itu tertegun.
Sedetik berikutnya, rona di wajahnya seketika berubah.
Tampak Lu Tian melayangkan sebuah tinju telak yang menghantam keras perutnya. "Barangku yang sudah kau makan, keluarkan lagi! Pernah dengar lagu itu?"
"K-Kau, ah-ah!" Pupil mata bawahan itu melebar, ia merasakan nyeri hebat di bagian perutnya. Seketika itu juga ia membuka lebar mulutnya, dan memuntahkan kembali kertas yang tadi ditelannya!
Belum sempat ia bereaksi, Lu Tian sudah melayangkan sebuah tendangan ke lututnya. "Berlutut! Buka label ini! Jika kau berani berulah lagi, kutendang sampai hancur kepalamu! Dengar tidak?"
"B-Baik, baik!" Dengan kesakitan, bawahan itu berlutut di tanah karena diliputi ketakutan, dan terpaksa menuruti perintah Lu Tian.
Melihat adegan tersebut, Yang Ye yang tadinya hampir lupa diri karena terlalu gembira, mendadak berubah pucat pasi. Ia langsung berteriak dengan lantang, "Bagus sekali kau, bocah kurang ajar! Sudah kalah tapi malah berbuat curang, berani-aninya menindas orang!"
"Saudara-saudara, maju bersama-sama! Beri bocah ini pelajaran! Biar dia tahu apa akibatnya jika berani mencari masalah dengan kita!"
"Betul kata Ketua Yang!"
"Bocah ini benar-benar sudah keterlaluan. Di bawah pengawasan banyak orang, dia masih berani menyakiti saudara kita, kita tidak boleh melepaskannya begitu saja!"
"Serbu bersama-sama!"
Sekelompok orang itu berteriak riuh, lalu berhamburan menyerang Lu Tian.
Suasana tampak begitu riuh dan mengintimidasi.
Banyak orang di tempat kejadian menunjukkan ekspresi terkejut, merasa khawatir untuk keselamatan Lu Tian. Dikeroyok begitu banyak orang sekaligus, bisa dibayangkan betapa malangnya nasib orang itu nanti!
Namun!
Lu Tian tetap berdiri dengan tenang di tempatnya, melirik mereka sekilas dengan santai, lalu melayangkan satu tamparan demi satu tamparan, merobohkan mereka semua ke lantai dalam sekejap.
"Aduh, argh!"
"Sialan!"
"Aduh, wajahku!"
"Gigiku!"
"..."
Sekelompok bawahan itu berguling-guling di tanah, merintih kesakitan dan menderita luar biasa! Mereka sama sekali tidak memiliki tenaga lagi untuk bangkit!
Melihat Lu Tian hanya butuh beberapa gerakan saja untuk melumpuhkan seluruh bawahannya, Yang Ye tidak bisa menahan diri untuk tidak gemetar ketakutan. "K-Kau, sebenarnya siapa kau ini!"
"Aku kakekmu," jawab Lu Tian.
"Kakek..."
"Bagus, cucu yang baik!" kata Lu Tian sambil tertawa riang.
Yang Ye sadar dirinya telah dipermainkan, wajahnya seketika memerah menahan amarah. Sambil menggertakkan gigi ia berkata, "K-Kau, jangan terlalu sombong! Mereka itu hanya bidak-bidak kecil, tidak ada apa-apanya!"
"Jika kau terus bersikap angkuh seperti ini, kelak kau akan menderita."
"Hal seperti itu tidak perlu kau urusi lagi." Lu Tian tersenyum kecil, lalu menendang si pembuat ulah tadi dan bertanya, "Sudah dibuka belum?"
"Sudah, sudah! Tuan Lu, mohon jangan pukul saya lagi, lepaskan saya kali ini, ya?" kata bawahan itu buru-buru, sambil membentangkan label yang baru saja dimuntahkannya.
Beberapa patah kata tertulis di atasnya, persis sama dengan batu giok hijau yang telah dipoles itu, "Giok Hijau Jenis Es!"