Sejak aku menyadari bahwa diriku adalah seekor naga, hidupku mengalami perubahan yang luar biasa besar...
Sisa cahaya senja memandikan kota kecil Huiliu, memantulkan kilauan emas yang mempesona di seluruh penjuru. Seorang remaja berwajah tampan dengan kulit pucat, mengenakan seragam sekolah dan membawa ransel di punggungnya, berjalan menunduk, rambut hitamnya melambai tertiup angin.
Seperti biasa, remaja itu melangkah masuk ke sebuah warung pangsit. Di dalam, tak ada seorang pun.
Begitu masuk, terdengar suara parau yang sudah akrab di telinganya, "Tianji, kau sudah pulang sekolah ya."
"Bu Liu," jawabnya.
Li Tianji menatap perempuan yang setengah badan keluar dari dapur warung, hanya mengangguk datar tanpa ekspresi.
Perempuan itu adalah pemilik warung pangsit, janda sejak muda, hanya memiliki seorang putri tunggal. Karena bekerja tanpa henti siang malam, di usianya yang baru empat puluhan wajahnya sudah kuning pucat penuh keriput, tampak sangat tua.
Dengan raut lembut dan mata penuh kasih, ia sudah terbiasa melihat Tianji yang selalu tampak dingin. Sambil menyipitkan mata, ia berkata lembut, "Bibi akan memasakkan sesuatu untukmu sekarang."
Perempuan itu pun kembali ke dapur, sibuk menyiapkan makanan.
Di hati Tianji muncul perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Dua tahun lalu, perempuan itu membawanya pulang.
Saat itu tengah musim panas yang terik. Di bawah matahari yang membakar, Tianji yang lusuh dan kelelahan duduk bersandar di samping tong sampah, menatap kosong. Bu Liu yang kebetulan pulang berbelanja, tergerak hatinya melihat Tianji yang memprihatinkan. Ia segera menghampiri dan bertanya.