Bab 2: Janji Tiga Puluh Tahun Guru Agung?
“Sudah dengar belum? Kepala Puncak Shen Nian pergi memenuhi janji tiga puluh tahun itu!”
“Aku juga pernah dengar sedikit. Katanya tiga puluh tahun lalu, Kepala Puncak Shen juga ditolak lamarannya, lalu membuat janji tiga puluh tahun dengan orang itu!”
“Pantas saja Puncak Tanpa Ingatan yang dipimpinnya dipenuhi oleh orang-orang gagal yang pernah ditolak lamaran, rupanya memang sepenanggungan!”
Entah siapa di antara para kepala puncak dari Sekte Awan Biru yang menyebar kabar bahwa Shen Nian hendak pergi ke Gunung Makam Dewa untuk memenuhi janji, membuat seluruh kepala puncak dan para murid di sekte ramai membicarakan hal itu.
“Ternyata yang menolak lamarannya dulu adalah Yun Wuxin dari Gunung Makam Dewa! Kabarnya sekarang dia sudah sampai tahap Penyeberangan Bencana, Kepala Puncak Shen pasti takkan kembali lagi kali ini!”
“Tsk, kalau ke tempat lain mungkin masih aman, tapi Gunung Makam Dewa itu, bahkan kultivator tahap Penyeberangan Bencana pun enggan melintas di sana.”
Gunung Makam Dewa menyimpan mayat para tokoh besar yang gugur dalam perang antara dewa dan iblis ribuan tahun lalu. Aura kematian begitu pekat, para kultivator yang nekat masuk akan diserang energi gelap, akhirnya meregang nyawa dengan menyedihkan.
Seperti kata pepatah, semakin besar gelombang, semakin mahal ikannya.
Di sanalah berkumpul sekelompok orang yang sehati sejiwa, berlatih ilmu aneh demi menyerap energi dari mayat-mayat itu lalu menggunakannya untuk diri sendiri.
Mereka mendirikan sekte dengan nama Gunung Makam Dewa.
Yun Wuxin adalah salah satu murid yang kemudian diterima Gunung Makam Dewa; begitu masuk, dia langsung membatalkan pertunangan dengan Shen Nian!
Di sudut gelap Sekte Awan Biru.
“Kepala Puncak Shen sudah pergi ke Gunung Makam Dewa, dia tahu dirinya takkan kembali, pasti dia meninggalkan banyak harta untuk Lin Ning.”
“Karena Puncak Tanpa Ingatan sudah tak punya pemimpin, Lin Ning yang cuma sampah itu tak perlu hidup lagi dan buang-buang sumber daya sekte.”
“Kita berdua sebaiknya diam-diam menyingkirkan Lin Ning, lalu membuat seolah-olah dia bunuh diri!”
“Ide bagus! Harta yang ditinggalkan Kepala Puncak Shen jadi milik kita!”
Puncak Tanpa Ingatan.
Kini Lin Ning sudah menjadi Kaisar Agung, ia bisa memahami seluruh pembicaraan, bahkan isi hati setiap orang.
“Jadi guru memang pergi memenuhi janji di Gunung Makam Dewa, pantesan tadi terburu-buru pergi.”
Lin Ning berpikir, karena ia telah mewarisi ingatan dan tubuh pemilik asli, maka Shen Nian memang guru baginya.
Guru sedang dalam kesulitan, sebagai murid mana mungkin ia membiarkan begitu saja.
Terlebih, kini ia sudah menjadi Kaisar Agung, sedang mencari tempat untuk menguji kemampuan.
Lin Ning pun memeriksa warisan dunia yang diberikan sistem.
Yang disebut warisan dunia, utamanya adalah warisan dari berbagai aliran besar, seperti teknik kultivasi, teknik alkimia, senjata, dan sebagainya.
Selain itu, ada juga kemampuan yang belum pernah diciptakan atau ditemukan orang lain.
Tentu saja, semua itu hanyalah warisan berupa kemampuan, keahlian, dan senjata.
Bukan berarti dunia ini langsung diberikan padanya, misal bahan untuk membuat pil tetap harus Lin Ning cari sendiri.
“Para kultivator di Gunung Makam Dewa menggunakan Bendera Seribu Jiwa untuk menyerap kekuatan dari mayat tokoh besar.”
“Aku pun cukup paham dengan teknik-teknik mereka.”
Lin Ning bergumam, lalu mengeluarkan Bendera Raja Manusia yang penuh asap hitam. “Sebagai kultivator jalan benar, aku Lin Ning punya kewajiban membersihkan para bajingan di Gunung Makam Dewa!”
Namun sebelum itu, aku ingin tahu dulu siapa di sekte ini yang berniat membunuhku.
...
Malam pun tiba.
Huang Feng, mengenakan pakaian hitam, menoleh ke kiri dan kanan memastikan tak ada orang, lalu memberi isyarat, “Cepat, ikuti aku!”
Tak lama, Liu Yu pun berlari dari belakang, mereka berdua bergerak cepat menuju Puncak Tanpa Ingatan.
Puncak Tanpa Ingatan terletak di pojok terpencil Sekte Awan Biru, sedangkan Lin Ning hanyalah seorang yang dipandang sebelah mata di sekte.
Tapi bagaimanapun, Lin Ning tetap anggota sekte. Jika Huang Feng dan Liu Yu mau membunuh Lin Ning dan merampas hartanya, mereka harus hati-hati, jangan sampai ketahuan orang lain.
Kalau tidak, mereka bisa dihukum mati karena membunuh sesama anggota sekte, lalu harta rampasan pun akan diam-diam diambil pihak lain.
Semakin dekat dengan Puncak Tanpa Ingatan, bayangannya makin jelas, mata Huang Feng memancarkan cahaya emas, ia menyeringai, “Shen Nian pasti meninggalkan banyak harta berharga untuk Lin Ning.”
“Nanti setelah kita bunuh Lin Ning dan menguasai semua harta itu, kita bisa jadi murid inti sekte!”
Shen Nian, seorang kultivator tahap Maha Sempurna, kali ini pergi memenuhi janji, jelas sudah pasrah takkan kembali, jadi pasti meninggalkan harta berharga untuk muridnya, Lin Ning.
Huang Feng dan Liu Yu pun sudah membayangkan masa depan gemilang mereka.
Namun, impian mereka seketika buyar.
“Ehem!”
Tiba-tiba terdengar suara dari depan, membuat keduanya langsung waspada.
“Siapa di sana!” seru Huang Feng tajam.
Begitu melihat sosok keluar dari bayang-bayang, ketegangan mereka langsung reda, berganti tawa riang.
“Rupanya Kakak Lin Ning, kebetulan kami sedang mencarimu,” kata Huang Feng sambil tersenyum.
“Oh? Ada urusan apa mencari aku?” Lin Ning berpura-pura polos.
Sesaat kemudian.
Ciaat!
Cahaya biru tajam menembus malam, sebilah belati sangat tajam meluncur diam-diam dari tangan Huang Feng.
“Tentu saja untuk membunuhmu!”
Huang Feng tahu benar, penjahat binasa karena banyak bicara, jadi ia tak buang waktu dan langsung menyerang Lin Ning.
Soal harta peninggalan Shen Nian, itu bisa dicari setelah Lin Ning mati.
Lagipula, Lin Ning cuma sampah tanpa kemampuan kultivasi, masa ia bisa menyembunyikan harta sehebat itu?
Belati itu melesat cepat, hampir menembus dada Lin Ning, namun tiba-tiba Lin Ning lenyap tak berbekas.
“Mustahil!” wajah Huang Feng berubah, “Apa itu harta pemberian Shen Nian?”
“Kau sedang mencari aku?”
Suara Lin Ning tiba-tiba terdengar dari belakang.
Huang Feng buru-buru berbalik, dan melihat Liu Yu sudah tergeletak tak bernyawa.
“Tak mungkin, mana mungkin dia memberimu harta sehebat ini?”
Lin Ning hanya tersenyum, lalu aura kuat langsung meledak dari dalam dirinya.
“Kau... kau ternyata punya kekuatan kultivasi?” Mata Huang Feng membelalak, dan akhirnya ia roboh dengan penuh penyesalan.
Pada saat bersamaan.
Di berbagai penjuru Sekte Awan Biru.
Ketua sekte dan para tetua utama serempak membuka mata, menatap ke satu arah dengan wajah tegang.
“Celaka, ada musuh menyerang!”
“Cepat, pergi bantu!”
Lin Ning sengaja menahan auranya di tahap Penyeberangan Bencana, dan aura itu dipenuhi niat jahat yang kuat, membuat seluruh sekte gempar.
Begitu seluruh anggota sekte tiba di dekat Puncak Tanpa Ingatan, yang mereka temukan hanyalah mayat Huang Feng dan Liu Yu, keduanya mati dengan tragis.
“Ini... aura iblis!”
Ketua sekte merasakan sisa aura yang ada, alisnya mengerut dalam.
“Penatua Agung, adakah hasil penyelidikan?” tanya ketua sekte.
Penatua Agung adalah kultivator tahap akhir Penyeberangan Bencana, kekuatan batinnya bisa meneliti perubahan dalam radius lima ratus li.
Namun semakin ia menyelidik, alisnya justru makin rapat.
Seolah-olah musuh telah menghilang dari dunia ini, sama sekali tak bisa ditemukan!
“Iblis sekuat ini, masa hanya memburu dua orang ini?” Ketua sekte bingung, “Atau ini semacam peringatan untuk kita?”
“Tunggu, Lin Ning juga menghilang!” seseorang tiba-tiba berseru.
“Jangan-jangan dia juga dibunuh iblis itu? Tapi di mana mayatnya?”
“Mungkin saja, karena waktu janji tiga tahun hampir tiba, dia sudah pergi dari sekte, toh tinggal pun cuma menanti mati.”
“Hmph, lebih baik memang dia mati. Kalau nanti di perjanjian tiga tahun kalah dari Chu Qingge, hanya akan mempermalukan nama sekte kita.”
Setelah berpikir panjang, ketua sekte berkata dengan tegas, “Penatua Shen Nian kali ini pergi memenuhi janji, sepertinya juga takkan kembali.”
“Puncak Tanpa Ingatan pun tak perlu dipertahankan lagi.”