Bab 113 Amarah yang Membara hingga Langit
Berkat pasokan giok yang melimpah dan kualitas yang unggul, toko perhiasan giok Shanyan kini telah membangun citra merek yang unik di Kota Xiang. Segala sesuatunya pun mulai berjalan sesuai rencana.
Setelah mandi, Han Sha duduk di sofa ruang tamu dengan mengenakan jubah tidur sutra sambil menonton televisi. Saat sibuk bekerja, ia tidak terlalu memikirkannya, namun begitu waktu senggang tiba, bayangan si nakal itu selalu melintas di benaknya. Jika dihitung dengan saksama, pria itu sudah sebulan tidak menemuinya. Memikirkan hal itu, muncul rasa kesal sekaligus rindu di matanya.
"Tok, tok!"
Suara ketukan pintu terdengar. Alis Han Sha sedikit berkerut; siapa yang datang mencarinya selarut ini?
"Siapa?"
"Ini aku."
Begitu mendengar suara itu, raut wajah Han Sha seketika ceria, namun ia segera memasang nada dingin, "Siapa kau?"
"Hehe, apa kau bahkan tidak mengenali suara priamu sendiri?"
"Huh, aku tidak punya pria. Pergilah, aku sudah mau tidur," sahut Han Sha ketus. Pria ini berani-beraninya tidak menghubunginya selama sebulan, ia harus memberinya pelajaran.
"Kau benar-benar ingin aku pergi?"
"Pergilah sejauh mungkin, lebih baik jangan pernah datang lagi mencariku."
"Baiklah, kalau kau memang tidak ingin melihatku, aku pergi sekarang!"
Han Sha mendengarkan dengan saksama dan benar saja, ia mendengar langkah kaki menjauh. Seketika, ia merasa panik. Apakah pria itu benar-benar pergi? Secara naluriah, ia ingin lari membukakan pintu dan memanggilnya, tetapi ia segera berpikir bahwa pria itu sangat tebal muka, tidak mungkin pergi semudah itu. Ia pasti sedang bermain tarik-ulur. Setelah berpikir demikian, ia merasa sedikit lebih tenang dan kembali duduk di sofa.
Satu menit. Dua menit. Lima menit. Sepuluh menit.
Tetap tidak ada suara dari luar. Han Sha tidak bisa duduk diam lagi. Apakah pria itu benar-benar pergi? Dengan langkah cepat, ia berjalan menuju pintu dan membukanya. Di luar kosong melompong, bahkan bayangan pun tak terlihat.
"Dasar brengsek, dia benar-benar pergi!" umpat Han Sha sambil menghentakkan kaki dengan kesal.
"Tidak baik mengumpat di belakang orang, lho."
Tiba-tiba, sebuah suara bernada mengejek terdengar dari belakang. Han Sha berbalik dengan cepat dan wajah yang menyebalkan itu langsung menyapa pandangannya. Ia pun sadar bahwa dirinya kembali dikerjai.
"Dasar brengsek, beraninya kau mengerjaiku!"
Pukulan bertubi-tubi mendarat di dada Song Yan. Setelah memukul beberapa saat, Han Sha menyadari Song Yan tidak bereaksi. Saat mendongak, ia mendapati mata pria itu sedang menatap bagian dadanya dengan penuh nafsu. Ia menunduk dan baru menyadari bahwa entah kapan, salah satu kancing baju tidurnya telah terlepas.
"Mandi begitu bersih, apakah kau sudah tahu aku akan kembali?"
Dengan satu gerakan, Song Yan menarik Han Sha ke dalam pelukannya. Menghirup aroma sampo dari rambutnya, ia merasa mabuk kepayang dan berbisik, "Sha Sha, aku sangat merindukanmu."
Han Sha, yang tadinya menyimpan kekesalan karena Song Yan tidak menghubunginya selama sebulan, merasa kemarahannya luluh seperti salju yang mencair saat mendengar ucapan itu. Ia pun bersandar sepenuhnya di pelukan sang pria. Tanpa perlu banyak bicara, bibir mereka bertaut, saling menghisap dengan rakus.
Song Yan bukanlah pria yang jujur. Saat berciuman, tangannya masuk ke dalam jubah tidur dan meremas gumpalan lembut di sana. Samar-samar ia merasa bahwa dalam sebulan ini, bagian itu terasa sedikit lebih besar.
"Eung."
Di bawah belaian Song Yan, Han Sha semakin tak berdaya, mengeluarkan suara-suara yang memancing gairah. Song Yan tak lagi mampu menahan diri; dengan sedikit kasar ia merobek jubah tidur Han Sha dan menindihnya di atas sofa.
Keesokan harinya.
Sinar matahari menyelinap melalui tirai jendela, menyinari ruangan. Melihat Han Sha yang masih terlelap, Song Yan mengecup dahinya dengan lembut, bangkit dari tempat tidur, mengenakan pakaian, lalu menuju dapur.
Setelah sebulan tidak bertemu, Han Sha menunjukkan stamina yang luar biasa. Namun, hal itu justru membangkitkan jiwa petarung Song Yan. Alhasil, dari ruang tamu ke dapur, dari dapur ke kamar mandi, hingga ke balkon dan kamar tidur, jejak mereka tertinggal di mana-mana. Pertarungan itu baru berakhir pada pukul empat pagi. Meski tubuh Han Sha jauh lebih kuat dari orang biasa karena latihan, ia tetap merasa kelelahan.
Setelah membereskan sisa-sisa kegilaan mereka semalam, Song Yan pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Tak lama kemudian, sarapan siap. Ia kembali ke kamar dan mendapati Han Sha masih tidur nyenyak. Setelah berpikir sejenak, ia melepaskan pakaiannya, masuk ke balik selimut, dan memeluknya kembali.
Mereka tertidur hingga pukul dua siang. Han Sha membuka matanya yang sayu dan bertanya, "Jam berapa sekarang?"
"Jam dua!" jawab Song Yan.
Wajah Han Sha seketika berubah. Ia berteriak panik dan segera bangkit duduk.
"Ada apa?"
"Bekerja! Hari ini ada acara di toko," sahut Han Sha dengan nada menyalahkan.
"Tidak apa-apa, bukankah itu hanya acara biasa? Lagipula, ada Kak Su di sana yang mengawasi," hibur Song Yan.
Han Sha berpikir sejenak lalu berkata, "Baiklah, aku akan menelepon Kak Su dan bilang aku tidak ke toko hari ini."
"Nah, begitu baru benar. Sayangi dirimu sendiri. Uang priamu ini sudah lebih dari cukup untuk dihabiskan, tidak perlu bekerja terlalu keras!"
"Cih!"
Han Sha memutar bola matanya ke arah Song Yan, lalu mengambil ponselnya yang sempat dimatikan Song Yan tadi malam. Setelah menelepon, segalanya di toko berjalan normal dan acara yang dipandu Su Huiyun berlangsung sangat sukses.
"Krukk."
Begitu menutup telepon, perut Han Sha berbunyi nyaring. Wajahnya seketika memerah karena malu.
"Ayo, kita pergi makan di luar."
Tiga hari berikutnya, Song Yan tetap tinggal di Kota Xiang untuk menemani Han Sha, sekaligus memberinya waktu libur. Sebelum pergi, Song Yan juga sempat mengunjungi paman dan bibinya. Sang paman kini memiliki karier yang cemerlang dan penuh semangat. Wali Kota Xiang, yang baru saja dipromosikan menjadi orang nomor satu di kota, bahkan sempat membocorkan bahwa ia telah mengusulkan agar sang paman diangkat menjadi Wakil Wali Kota Eksekutif.
Setelah makan bersama di rumah pamannya, Song Yan langsung mengendarai Perahu Perak kembali ke Kota Yan. Malam harinya, ia mengajak Gan Zhipeng, Long Bo, Zhang Xixi, serta murid perempuannya untuk makan malam.
Setelah makan, ia tidak kembali ke asrama, melainkan pergi ke rumah sewanya dan mengeluarkan Su Niang serta Murong Keke dari ruang penyimpanan.
"Suamiku, inikah duniamu?"
Su Niang dan Murong Keke mengamati perabotan di kamar dengan penuh rasa ingin tahu. Lampu listrik, komputer, dan berbagai peralatan rumah tangga membuat mereka takjub. Setelah Song Yan dengan sabar menjelaskan cara penggunaan peralatan tersebut, ia mengambil beberapa set pakaian dari cincin penyimpanannya dan meminta mereka untuk mencobanya. Pakaian itu dibelikan langsung oleh Song Yan, lengkap dengan pakaian dalam.
Namun, karena ini pertama kalinya bagi kedua wanita itu bersentuhan dengan bra, mereka benar-benar bingung cara memakainya. Akhirnya, Song Yan harus menjalankan semangat "berbuat baik tanpa pamrih" dengan mengajari kedua wanita itu cara memakainya secara langsung.