Bab Empat Ratus Tujuh: Seni Kekerasan

Kaisar Asura Perkiraan waktu 3761kata 2026-04-01 01:32:54

Bab Empat Ratus Tujuh: Seni Kekerasan

"Adikku, bagaimana jika Kakak membantumu mengusir kawanan jalang ini?" Roh Jiwa Salju berkata dengan senyum seindah bunga, membuat Ji Yun langsung mengangguk penuh semangat.

"Bagus sekali, bagus sekali! Kakak, sebaiknya kau bantai mereka semua!"

"Kalau begitu, bunuh semuanya tanpa sisa!" Wajah Roh Jiwa Salju seketika mendingin. Matanya memancarkan hawa dingin yang menusuk, dan pupil hitamnya langsung berubah menjadi kristal es.

Wajah semua orang berubah drastis. Pandai Besi bergegas mundur, sementara Ji Yun buru-buru menarik Gu Qinglan untuk mengikuti. Bukan main-main, Roh Jiwa Salju adalah salah satu dari sedikit pemilik Garis Keturunan Bawaan yang tersisa di benua ini. Kekuatan yang meledak darinya bukanlah sesuatu yang bisa ditahan oleh orang biasa.

*Wusss!*

Sebelum orang-orang dari Sekte Wangqing sempat bereaksi, ribuan pedang kristal es memadat dari udara, melesat sambil bersiul ke arah mereka semua. Di saat yang sama, suhu udara merosot tajam. Seluruh ruang seolah-olah membeku, mengeluarkan suara retakan yang nyaring. Udara menjadi sangat dingin, dan dalam sekejap, wanita paruh baya cantik yang baru saja berteriak sombong itu langsung membeku menjadi patung es.

Bersamaan dengan itu, kepingan salju seukuran daun berguguran dari langit, membawa hawa dingin yang mengerikan. Tepi kepingan salju itu berkilau dengan cahaya dingin yang mengancam, berputar dan melesat ke arah orang-orang Sekte Wangqing.

Serangan yang datang bertubi-tubi bagaikan badai dahsyat dalam sekejap mata membuat siapa pun terpana. Ji Yun merasakan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Garis Keturunan Bawaan memang luar biasa mengerikan; dia hampir bisa menggerakkan seluruh energi elemen es dan salju di ruang sekitar. Terlebih lagi, tempat ini adalah padang salju, yang merupakan wilayah kekuasaan Roh Jiwa Salju. Ini berarti dia bisa bertindak sesuka hatinya di sini.

Menghadapi serangan yang rapat dan dingin yang menusuk tulang, semua murid Sekte Wangqing terkejut setengah mati. Sambil membagi fokus untuk menahan invasi hawa dingin, mereka mengerahkan pusaka spiritual mereka dengan susah payah untuk menangkis serangan yang menutupi langit. Dalam sekejap mata, beberapa murid tertembus oleh kepingan salju yang padat, disusul oleh kepingan salju tak terhitung jumlahnya yang datang mencabik-cabik tubuh mereka hingga meledak menjadi kabut darah.

Ketiganya hanya menonton dengan tenang dari samping. Dengan Pandai Besi yang menghalau hawa dingin, alih-alih merasa dingin, mereka bahkan merasa cukup hangat.

Melihat beberapa orang dari Sekte Wangqing tewas, Pandai Besi menghela napas pasrah.

"Kenapa? Kasihan melihat wanita-wanita cantik itu mati?" Ji Yun menggoda.

"Bukan kasihan pada wanita cantik, hanya saja kematian mereka terlalu jelek! Jika itu aku, aku akan menggunakan palu untuk menghancurkan kepala mereka satu per satu! Itulah esensi sejati dari seni kekerasan!" Sambil berbicara, Pandai Besi terus memperagakan gerakan seperti mengayunkan tongkat bisbol, membuat Ji Yun dan Gu Qinglan merasa malu sekaligus tak bisa berkata-kata.

Roh Jiwa Salju tampaknya mendengar perkataan Pandai Besi. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman yang memikat sekaligus mendebarkan. Tangan rampingnya terangkat ke depan dada, ujung-ujung jarinya saling bersentuhan membentuk segitiga.

Mantra kuno dan rumit mengalir dari bibirnya, sementara matanya memancarkan dua berkas cahaya dingin. Di depan dadanya, sebuah segitiga yang tampak seperti kepingan es melayang keluar, berputar dan membesar di udara. Dalam sekejap mata, benda itu telah menjelma menjadi segitiga raksasa berdiameter sepuluh zhang yang melayang di langit. Seketika, hawa dingin di seluruh ruangan semakin pekat, dan tekanan yang tak dapat dijelaskan muncul dari lubuk hati setiap orang. Di hadapan segitiga es tersebut, semua orang merasa sekecil semut, kecuali Ji Yun yang sama sekali tidak terpengaruh.

Para murid Sekte Wangqing menatap segitiga misterius di langit dengan ngeri. Pegangan pada senjata mereka melonggar sesaat, dan jeritan histeris pun segera terdengar. Beberapa murid kembali tewas, menyisakan hanya empat orang yang kini berlumuran darah. Mereka memandang segitiga misterius di langit dengan ketakutan, namun tangan mereka sama sekali tidak berani berhenti menangkis.

Kepingan salju yang tajam ini seolah tak ada habisnya. Bahkan jika hancur, mereka dapat dengan cepat memadat kembali. Bahkan jika berhasil dihindari, mereka akan berputar kembali untuk bergabung dalam gelombang serangan baru, membuat para murid yang memiliki kekuatan tinggi itu hanya bisa bertahan dengan letih lesu.

"Apakah ini kekuatan Garis Keturunan Bawaan?"

Ji Yun menatap Roh Jiwa Salju yang tampak seperti dewi es dan salju dengan tatapan penuh damba. Dia juga memiliki kekuatan garis keturunan, namun sayangnya, dia sama sekali tidak tahu bagaimana cara membangkitkan kekuatan itu sepenuhnya seperti Roh Jiwa Salju. Ini adalah pertama kalinya dia melihat kekuatan garis keturunan alami yang sesungguhnya.

*Wusss!*

Sesosok raksasa kristal es yang memancarkan hawa dingin pekat melangkah keluar dari segitiga es seolah menembus permukaan air. Diiringi raungan keras, segitiga es itu hancur berkeping-keping. Wajah Roh Jiwa Salju seketika memucat. Pandai Besi terkejut, lalu bergegas mendekapnya ke dalam pelukan hangatnya, berkata dengan lembut, "Serahkan sisanya padaku."

Merasakan tatapan penuh kasih sayang mereka yang begitu membara hingga sanggup melelehkan satu sama lain, Ji Yun memalingkan pandangannya ke sembarang arah dan bergumam, "Ah! Matahari hari ini bulat sekali, ya!"

"Bulat!" Gu Qinglan mendongak dengan cepat, menatap tajam ke arah matahari yang memancarkan cahaya lembut di langit. Dia percaya, jika Ji Yun berkata matahari hari ini bulat, maka matahari itu pasti lebih bulat daripada kemarin. Karena itu, dia berusaha keras mencari perbedaan antara matahari hari ini dan kemarin.

Di saat yang sama, langkah liar raksasa kristal es setinggi sepuluh zhang membuat ruang berguncang. Setiap langkah yang diayunkannya membawa kekuatan dahsyat yang tak terbayangkan. Ia menghentakkan kakinya di udara seolah-olah berpijak di tanah datar. Dengan suara ledakan keras, tubuh raksasa kristal es itu melompat tinggi, menutupi sinar matahari. Palu kristal es berbentuk persegi di tangannya diangkat tinggi-tinggi di atas kepala, lalu diayunkan turun dengan raungan dahsyat, menghantam kepala sisa-sisa murid Sekte Wangqing.

*Boom!*

Gelombang udara mengerikan yang bercampur dengan serpihan es melesat bagaikan pedang-pedang tajam. Tekanan luar biasa itu langsung menghancurkan ruang di sekitarnya. Tiga murid perempuan Sekte Wangqing bahkan tidak sempat berteriak sebelum akhirnya hancur menjadi bubur daging. Satu-satunya yang masih hidup terlempar dan menghantam padang salju sambil memuntahkan darah segar.

*Hummm...*

Kepingan kristal es yang beterbangan ke arah mereka terhalang oleh riak gelombang tak kasat mata. Kristal-kristal es itu bergetar hebat sebelum akhirnya hancur lebur. Ji Yun menoleh ke belakang, melihat raksasa kristal es malang itu terseret masuk ke dalam ruang yang retak dengan enggan, lalu menggelengkan kepalanya. Makhluk besar yang bodoh lainnya.

Secercah cahaya putih melesat dari tanah, terbang ke arah Sekte Wangqing. Tampaknya seseorang mencoba melarikan diri, namun dia jelas belum meminta izin kepada Pandai Besi.

Sebuah palu sepanjang dua kaki muncul di tangan Pandai Besi. Kepala palu yang berbentuk persegi memiliki panjang satu kaki, dan di atasnya tampak terukir deretan tulisan kecil. Seluruh tubuh palu itu berwarna hitam misterius, memancarkan aura kuno yang sangat berat.

Pandai Besi mengayunkan tangannya. Palu hitam itu berubah menjadi bayangan kabur yang meluncur turun. Di langit, bayangan palu raksasa sepanjang seribu zhang mendadak muncul. Kepala palu berukuran lima ratus zhang itu tampak bagaikan gunung raksasa yang runtuh dengan kekuatan tak tertandingi.

*Boom!*

Saat palu raksasa itu menghantam bumi, seluruh langit dan bumi seolah-olah melonjak, lalu bergetar hebat. Hantaman ini dengan sempurna menggambarkan seni kekerasan dalam benak Pandai Besi. Kepala murid terakhir Sekte Wangqing hancur berkeping-keping, meninggalkan sebuah kawah raksasa berdiameter lima ribu zhang di atas padang es.

Menatap kawah melingkar yang hampir tak berdasar itu, Ji Yun agak kehilangan kata-kata. Seperti yang diharapkan dari Dewa Penempa, dia masih saja sekasar dan sekejam ini. Tiba-tiba dia teringat sesuatu dan menundukkan kepalanya untuk merenung. Pada saat bayangan palu raksasa itu muncul, dia sepertinya melihat sesuatu.

"Seribu ton? Ya! Tepat sekali, seribu ton!" Ji Yun tertegun sejenak, lalu menatap Pandai Besi dengan ngeri. Benda itu beratnya seribu ton? Padahal kelihatannya hanya seberat belasan kati...

Dengan pasrah, dia mengemasi barang-barang rampasan perang. Melihat kedua orang yang masih bermesraan layaknya api yang membara itu, dia berkata, "Kita harus pergi!"

"Benar, saatnya pergi!" kata Pandai Besi dengan sungguh-sungguh sambil menggendong Roh Jiwa Salju dalam pelukannya. Sambil membisikkan kata-kata mesra yang menggelikan, keduanya berjalan menuju arah timur laut benua.

Sementara itu, Ji Yun dan Gu Qinglan tetap mengekor di belakang mereka dengan jarak sekitar seratus meter. Di dalam hatinya, Ji Yun diam-diang menghitung berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai Pegunungan Lianxu dengan kecepatan seperti ini. Namun, hasil perhitungannya membuatnya ingin menangis tanpa air mata.

"Ji Yun, sebenarnya siapa mereka berdua?" tanya Gu Qinglan sambil mengedipkan matanya.

"Kenapa? Ingin tahu?"

"Tentu saja! Mereka hebat sekali!" Mata Gu Qinglan berbinar-binar penuh kekaguman. "Alangkah baiknya jika suatu hari nanti aku bisa menjadi sehebat mereka!"

Ji Yun menatap kedua orang di depan mereka dengan penuh arti, lalu menghela napas. "Pria itu adalah Pandai Besi, penguasa kota generasi sebelumnya dari Kota Yuntie yang telah hancur."

"Apa?" Gu Qinglan seketika terperangah. Dia sebelumnya sempat mencurigai mantan penguasa Kota Yuntie itu sebagai dalang di balik kehancuran kota tersebut. Seketika, wajah cantiknya terasa panas karena malu.

"Sedangkan kakak perempuan itu..." Saat ini, Ji Yun hanya berani memanggilnya dengan sebutan "Kakak". Setidaknya dengan panggilan ini, wanita itu tidak akan marah.

"Dia adalah keturunan terakhir dari Ras Salju Kuno."

Ji Yun berkata demikian. Meskipun dunia luar menyebarkan rumor bahwa Roh Jiwa Salju adalah sisa-sisa pengikut Kuil Es dan Salju, di mata Ji Yun, Roh Jiwa Salju tidak diragukan lagi adalah keturunan dari Ras Salju Kuno. Hal ini dibuktikan dengan kekuatan Garis Keturunan Bawaan yang dimilikinya.

"Lanu kenapa kau tidak memberitahuku? Kau membuatku sangat malu!" Gu Qinglan menarik rambutnya dengan kesal, lalu berabelok dan memelototinya dengan tajam.

"Kau kan tidak bertanya padaku," jawab Ji Yun sambil mengedikkan bahu dengan santai. Seketika, Gu Qinglan menerkamnya sambil mencakar-cakar kesal...

Waktu berlalu, dan benua itu dilanda gelombang badai yang lebih besar. Banyak ahli dari ras manusia kembali. Setelah memamerkan kekuatan besar faksi-faksi mereka di benua tersebut, di tengah sorak-sorai masyarakat, para ahli ini berbondong-bondong memasuki Pegunungan Lianxu.

Ketika para ahli ini melihat kabut hitam pekat yang jahat di pintu masuk Pegunungan Lianxu, mereka ragu-ragu. Semua orang memiliki rasa takut terhadap hal yang tidak diketahui. Oleh karena itu, mereka mengutus beberapa murid luar terlebih dahulu untuk merintis jalan.

Namun, murid-murid tersebut ternyata lenyap tanpa suara. Bahkan giok jiwa mereka hancur di tangan sesepuh yang memimpin, membuat semua orang tersentak ngeri.

Akibatnya, mereka mulai memaksa para kultivator biasa yang mengikuti mereka untuk maju merintis jalan. Rombongan besar kultivator biasa dipaksa masuk ke dalam Pegunungan Lianxu, namun hasilnya selalu sama: begitu mereka melangkah masuk, tidak ada kabar sama sekali yang terdengar kembali.

Saat gelombang terakhir kultivator biasa dipaksa masuk, sebuah ledakan dahsyat bagaikan guntur yang teredam tiba-tiba terdengar dari dalam kabut hitam. Semua orang di bawah tingkat kultivasi Roh memuntahkan darah secara bersamaan akibat getaran ledakan tersebut. Kejadian ini membuat mereka semakin waspada dan ragu apakah harus melangkah masuk atau tidak.

Di tengah kebuntuan itu, wajah sesepuh pemimpin dari Sekte Wangqing berubah. Dia memimpin murid-muridnya untuk mundur terlebih dahulu. Setelah itu, semakin banyak faksi yang ikut mundur, hingga rencana untuk mengepung Pegunungan Lianxu pun berakhir tanpa kejelasan.

Kabar angin segera menyebar di benua bahwa Pegunungan Lianxu telah berubah menjadi tanah kematian yang mutlak. Berita tentang ratusan juta kultivator yang tewas di dalamnya membuat semua orang gemetar ketakutan. Sejak saat itu, Pegunungan Lianxu menjadi tempat yang membuat siapa pun pucat pasi hanya dengan mendengar namanya.

Mendengar kabar ini di sebuah kedai arak, Ji Yun hanya tersenyum tipis tanpa berkomentar banyak. Bagi orang-orang yang bersikeras ingin masuk ke Pegunungan Lianxu, kematian mereka bukanlah masalah baginya. Dia bahkan tidak memiliki rasa simpati sedikit pun. Di matanya, orang-orang itu memang pantas mati!

Sementara itu, Pandai Besi merasa cukup bersemangat. Informasi yang didapatnya dari Ji Yun sebelumnya tidak banyak selain tentang keberadaan Formasi Bawaan. Namun, desas-desus yang didengarnya di kedai arak sangatlah berbeda. Berbagai versi cerita tentang Pegunungan Lianxu menggambarkan kedahsyatan Formasi Bawaan hingga ke tingkat yang ekstrem, seolah-olah pegunungan itu telah menjelma menjadi neraka jahanam di mana tidak ada satu pun makhluk hidup yang bisa keluar dengan selamat.

Apalagi setelah mengetahui dari Ji Yun bahwa "Tarian Liar Para Iblis" dapat melenyapkan semua kultivator di bawah tingkat Kaisar Agung, dia menjadi semakin tidak sabar untuk melihatnya. Bagaimanapun, dia juga memiliki pemahaman tentang formasi. Meskipun tidak ada catatan kuno yang menyebutkan seseorang berhasil meneliti sesuatu dari Formasi Bawaan, itu tidak berarti hal tersebut mustahil dilakukan...

~...Bersambung...~