Bab Empat Puluh Dua: Keluarga Yu

Sisik Naga Adik Raja Roh 1298kata 2026-02-08 22:21:34

Malam itu, setelah dengan sangat kesal mengantar Li Tianji pulang, Xue Ning dan Fang Hongyao, perempuan licik itu, pergi menikmati hidangan mewah bersama. Li Tianji merasa sangat tertekan. Ia pun mengubah kesedihan dan kemarahannya menjadi motivasi untuk berlatih dengan sungguh-sungguh selama beberapa hari. Garis-garis hitam pada inti iblisnya kini telah mencapai enam puluh. Ia pun semakin dekat pada tingkat Seratus Pola Iblis Langit.

Namun, belakangan ini ia mendapati sesuatu yang aneh di sekolah. Zhou Mengmeng tiba-tiba saja menghilang. Biasanya, setidaknya mereka berdua akan pulang bersama...

“Jangan sembunyi-sembunyi di sini dariku!” teriak Marabunta Alam dengan penuh amarah, tak tahan lagi dengan cara Tang Xin bersembunyi.

Dao Jintai membelai janggutnya dengan bangga, melangkah mendekat, mengangkat semangkuk arak, meneguknya hingga habis, lalu terdiam sejenak, seolah menikmati rasa arak itu, dan berkata dengan santai, “Benar-benar arak yang luar biasa. Biarkan guci ini untukku saja, supaya saudara-saudaraku juga dapat menikmatinya.” Sambil berkata begitu, ia pun dengan santai mengangkat guci arak yang ada di atas meja.

Begitu jejak Lavina kembali ditemukan, seluruh cabang aliansi di perbatasan Malim tiba-tiba begitu bersemangat untuk menjalin kontak dengannya sekali lagi.

“Ayahanda Raja, sudah beberapa hari anakanda berada di istana, namun belum juga sempat berbakti. Hari ini anakanda membawa seteko teh terbaik agar Ayahanda dapat mencicipinya. Anggap saja ini sebagai wujud bakti anakanda.” Xue Yuhu berkata sembari menyodorkan cangkir teh yang ia pegang kepada Raja Yingzong.

Suara gelegar dan putaran itu, awan petir yang berkilat di dalamnya, serta petir-petir tak berujung dan aura surgawi yang menyelimuti langit, semua menunjukkan betapa mengerikannya ujian langit kali ini.

Lalu, sekuntum bunga kehidupan yang terdiri dari seratus delapan cahaya dewa beraneka warna perlahan-lahan mekar di Pohon Kehancuran Dunia, memancarkan cahaya gemilang yang menembus langit.

Lu Feng ingin membujuk lebih lanjut, namun ia mendapati burung Phoenix menggenggam bahunya. Saat menoleh, ia melihat Phoenix hanya menggelengkan kepala.

Su Tiande sendiri tidak terlalu menganggap hal ini sebagai sesuatu yang besar, ia malah memikirkannya dengan saksama, menelaah siapa sebenarnya dalang di balik semua ini.

Karena itu, ada anggapan bahwa di garis depan, kau bisa saja kembali dengan luka parah dan nyaris mati, paling tidak berbaring sebulan di ranjang, tapi mustahil kehilangan ponsel sihir ini.

“Siapa yang tahu? Mungkin ia ingin bertemu tunangannya!” Hu Yuche tersenyum lembut, wajahnya tetap menawan bak seorang pangeran, menawan perhatian siapa saja, seolah dapat meluluhkan hati.

“Jangan begitu, Paduka Raja. Kita sudah sampai di tambang, masa tidak mencari harta karun? Kita masih harus membuat perlengkapan dan kendaraan terbang,” ujar Bai Licai dengan cemas.

Ia tahu, Yunluo sebenarnya hanya bicara begitu saja. Mengenai penghiburan untuk Pei Yeling, Yunluo pun sama pedulinya dengan dirinya.

Mo Linghuan menghela napas pelan. Ia benar-benar tak berdaya menghadapi Xidanni. Xidanni rela mengorbankan nyawa demi dirinya, mana mungkin ia sanggup menghalanginya? Semakin hari ia merasa utangnya pada Xidanni makin bertambah, seumur hidup pun tak akan terbalas. Sebuah senyum tipis pun terukir di sudut bibir Mo Linghuan.

“Jangan terlalu banyak bicara manis, awasi anak itu baik-baik. Jangan sampai di saat genting malah berbuat ulah,” kata Liu Liuzi.

Mereka bertiga merasa heran, sudah ada sandera di tangan Yenanpei, tapi entah bagaimana, Rong Shaoqing justru bisa begitu marah dibuatnya.

Padahal itu ucapan yang sangat menyentuh, entah mengapa, ketika keluar dari mulut Mu Qingsu, Ji Weiwei justru menganggapnya sebagai sebuah lelucon besar dan tertawa terbahak-bahak.

“Satu hari rasanya seperti tiga tahun,” canda Pei Yeling ketika melihat Zhan Weiqi, suasana hatinya pun ikut membaik.

Mu Chen tertegun, “Tidak membiarkan Putri Lanxin datang…” Padahal sang Permaisuri sangat menyukai Putri Lanxin, setiap kali sang putri datang, beliau selalu tampak sangat bahagia.

Pesonanya yang menekan begitu langka, dan ekspresinya yang berani membuat biksu agung yang penuh wibawa itu pun sempat tertegun.

Saat ini ia benar-benar mulai menyesal, menyesali tindakannya yang kelewat batas, dan akhirnya ia pun merasakan ketakutan akibat ulahnya sendiri.

Mereka berdua tak berkata sepatah kata pun, hanya saling berpegangan tangan, kadang erat kadang lembut, menyampaikan perasaan yang tak terlukiskan. Mungkin, pada saat seperti ini, kata-kata memang tak lagi diperlukan.