Jilid Satu Bab 14: Kau, Si Tua yang Licik dan Penuh Perhitungan
Halaman (1/3)
“Aku... aku ingin makan manisan hawthorn. Tuan mau?”
Dalam perjalanan pulang, ia sekalian membeli beberapa tusuk manisan hawthorn. Buah-buahnya ditusuk satu per satu dan dilapisi gula putih. Rasanya sungguh lezat.
Ia sedikit memiringkan tubuh, lalu mengambil kantong di sampingnya.
Astaga, Sien Si, apa yang kau tanyakan? Kau bodoh, ya? Pada kehidupan sebelumnya, kue bunga persik yang kau berikan kepadanya dilemparkan orang ini untuk makanan anjing. Sekarang kau malah bertanya apakah dia mau makan atau tidak. Kenapa kau sebodoh ini? Otakmu sampai kaku karena ketakutan?
Melihat Min Yan tidak menjawab, Sien Si mengatupkan bibir dengan canggung. Tangannya yang terulur perlahan ditarik kembali.
“Kalau memang untukku, mengapa kau mengambilnya kembali?”
Sien Si menundukkan kepala dan menggenggam kedua tangannya erat-erat. Ia tampak kaku dan canggung. Inilah pertama kalinya dalam kehidupan ini ia bertemu Min Yan secara begitu resmi.
Dahulu ia selalu merasa penasaran. Bagaimana mungkin ada orang yang begitu tidak berperasaan? Jelas-jelas Min Yan juga dibesarkan di Kediaman Rongchen. Ia adalah adik Mu Jing, dan setelah bertahun-tahun hidup bersama, ia sama sekali tidak belajar sedikit pun tentang perangai baik.
Melihat Min Yan kembali memejamkan mata dan tidak berkata apa-apa, Sien Si tidak tahan duduk diam. Ia disuruh naik kereta, tetapi tidak diberi tahu hendak dibawa ke mana.
“Aku tidak mau. Kalau Tuan ingin pergi ke istana sendirian, pergilah sendiri.”
Setelah mendengar jawaban Min Yan, Sien Si melipat tangan di depan dada dan memalingkan tubuh. Ayahanda Kaisar telah mengizinkannya keluar dari istana, dan masih ada urusan penting yang belum ia selesaikan. Ia tidak mungkin pulang begitu saja.
Semula Min Yan tidak ingin banyak bicara. Namun, karena Sien Si mengganggu waktu istirahatnya, ia membuka mata.
“Hari ini tidak cocok untuk keluar.”
Jarang-jarang ia mau menjelaskan sesuatu kepada orang lain, tetapi orang ini sama sekali tidak menghargainya.
“Bukankah Tuan sudah mengepung Kediaman Wali Kota Jingzhao? Bahkan seekor lalat pun tidak akan bisa terbang keluar. Lalu, apa yang membuatnya tidak aman?”
Sien Si menatapnya dengan tidak puas dan menumpahkan semua isi hatinya.
Ia masih berniat menyelidiki di tengah kerumunan, mencari tahu apakah ada orang mencurigakan di sekitar sana. Setelah malam tiba, ketika suasana sunyi, ia akan menyelinap ke Kediaman Wali Kota Jingzhao untuk mencari benda yang dibutuhkannya.
“Bagaimana kau bisa tahu?”
Bulu mata Min Yan yang terkulai, sudut matanya yang menyerupai ekor burung hong membentuk lengkung dingin setajam bilah pisau. Kedalaman matanya dipenuhi niat membunuh yang mutlak. Tanpa sedikit pun penyamaran, tatapan dinginnya tertancap lurus pada Sien Si.
Tubuh Sien Si bergetar.
Sien Si, kau adalah Jenderal Bintang Hong yang pernah memimpin ribuan prajurit. Di medan perang, kau mampu menyusun strategi dan mengalahkan musuh. Bagaimana mungkin sekarang kau tidak menemukan alasan untuk mengelabui orang ini?
“Beberapa hari lalu, Ayahanda tampak sangat cemas dan berkali-kali menyebut di hadapanku bahwa ada pengkhianat negara serta kaki tangan musuh di Kediaman Wali Kota Jingzhao. Ditambah lagi, sekarang Tuan memintaku segera kembali ke istana. Kalau semuanya dihubungkan, tentu masalahnya adalah ini.”
Jadi mereka sudah sejak awal menyadari ada yang tidak beres dengan Jang Songping. Kalau begitu, mengapa penanganannya begitu terlambat? Begitu juga dengan Su Luoluo. Jelas-jelas pada kehidupan sebelumnya dia juga menjebak dirinya dan Min Yan dengan cara yang sama. Lalu, mengapa pada kehidupan sebelumnya Jang Songping yang lebih dahulu mati?
Min Yan menatap Sien Si dalam-dalam, seolah belum puas sebelum berhasil membuat beberapa lubang di tubuhnya hanya dengan tatapan. Setelah itu, ia meluruskan tubuhnya yang tadi condong ke depan. Tangan kanannya mengusap ibu jari tangan kirinya, lalu berkata penuh makna,
“Wanwan memang cerdas dan secemerlang salju. Pantas saja Yang Mulia selalu memujimu di hadapanku. Beliau berkata bahwa memiliki putri yang begitu cermat dan mampu melihat segala sesuatu dengan tajam adalah berkah.”
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Sien Si terdiam. Di hadapan Min Yan, ia harus berhati-hati dan waspada. Orang ini sejak lahir memang sangat penuh curiga.
“Namun, sungguh tidak kusangka Wanwan yang begitu cerdas ternyata bisa diracuni oleh seorang dayang.”
Sien Si teringat kejadian ketika ia meraba-raba tubuh Min Yan. Kepalanya yang semula tertunduk seketika terangkat. Ia menatap Min Yan tajam dengan perasaan ingin menggertakkan gigi.
Min Yan sialan, aku sudah tahu kau akan menagih perhitungan kepadaku!
“Kuda saja bisa tersandung, apalagi manusia. Aku sangat berterima kasih karena Tuan telah menyelamatkanku. Anggap saja aku berutang budi kepadamu. Aku pasti akan membalasnya.”
Sien Si sangat tidak senang. Ia melipat tangan di depan dada dan tidak lagi menoleh kepada Min Yan.
Apakah mencari sebuah benda memang sesulit ini?
Bisa jadi pada kehidupan sebelumnya para mata-mata tidak dibasmi sampai tuntas, sehingga Ibu Suri akhirnya tewas dalam kebakaran dan Ayahanda meninggal karena terlalu banyak memikirkan berbagai hal. Namun, sekarang ada Nan Sigu. Ia akan membantunya mengawasi segala pergerakan di istana belakang.
Karena ia sudah terlanjur mengatakannya, sekalian saja ia bertanya bagaimana masalah ini akan diselesaikan. Namun, tiba-tiba terdengar suara denting tajam. Ketika Sien Si tersadar dan melirik tempat duduknya tadi, tampak sebatang anak panah menancap di sana!
Kalau bukan karena Min Yan, kehidupan barunya akan berakhir bahkan sebelum dimulai!
“Kau tidak apa-apa?”
Suara Min Yan terdengar dari atas. Sien Si mendongak dan menggelengkan kepala.
“Aku tidak apa-apa.”
“Tuan, ada pembunuh!” Suara Su juga terdengar dari luar.
Telinga Sien Si bergerak sedikit. Ia dapat mendengar sekelompok pembunuh datang dari luar. Sungguh kebetulan yang menyebalkan.
Min Yan meraih tangan Sien Si, lalu langsung mendobrak sisi kanan kereta. Ia menarik Sien Si dan berlari.
Tunggu. Tidak mungkin. Min Yan, kau ternyata bisa bela diri! Dasar tua bangka licik yang penuh perhitungan. Dalam keadaan sebegawat ini pun kau masih menyembunyikan kemampuanmu dariku? Baiklah, aku juga akan menyembunyikan kemampuanku!
Sien Si menatap punggung Min Yan sambil mengutuknya berkali-kali dalam hati.
Rubah tua!
Ketika para pembunuh di belakang melihat Min Yan hendak melarikan diri, salah seorang dari mereka melompat di antara tepian atap dan dinding, lalu mendarat di hadapan mereka.
“Putri Jiasing, hari ini pasti menjadi hari kematianmu!”
Semula wajah Min Yan tampak tenang, tetapi seketika berubah. Ia memiringkan kepala dan menatap Sien Si.
“A-aku mana tahu?”
Melihat ekspresi Min Yan, Sien Si menampilkan wajah polos dan kebingungan, seolah sama sekali tidak menyangka bahwa orang-orang itu ternyata datang bukan untuk Min Yan, melainkan untuk dirinya.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Jika mereka terus melarikan diri, entah apakah mereka mampu bertahan sampai Su dan Sin Yu tiba.
“Kelompok ini datang untuk membunuhku. Tuan yang lemah dan tak berdaya ini, bersembunyilah baik-baik di belakangku.”
Sien Si menarik Min Yan ke belakang. Saat berbalik menghadapnya, ia tetap tidak mampu menahan diri untuk melontarkan keluhan keras.
Setelah itu, ia maju seorang diri.
Ia mengeluarkan Pedang Bulan Lenyap dari balik lengan bajunya. Panjang pedang itu kira-kira empat inci, bilahnya sangat tajam, sementara gagangnya dihiasi ukiran bunga magnolia putih.
Tangan kanan Sien Si menggenggam gagang Pedang Bulan Lenyap erat-erat, lalu ia berhadapan dengan sang pembunuh.
Kilatan kedua pedang beradu di udara. Tubuh mereka bergerak cepat dan bertukar posisi. Sang pembunuh berbalik dan bersiap menebas bahu kanan Sien Si.
Sien Si mencibir. Beraninya orang ini mengira dirinya bisa menghadapi seorang jenderal perempuan yang pernah turun ke medan perang. Bagaimana mungkin orang seperti ini pantas disebut pembunuh?
Ia berbalik seketika. Setelah menangkis pedang lawan dengan satu tebasan, bilah pedangnya berputar turun ke arah tubuhnya sendiri. Lalu, dengan putaran tajam pada pergelangan tangan kanan, ia menusukkan pedang ke dada kiri sang pembunuh secepat kilat.
Pembunuh yang menutupi separuh wajahnya itu sama sekali tidak sempat menghindar. Ia tewas di tempat.
Setelah membereskan pembunuh itu, Sien Si menatap Min Yan di seberang dengan wajah tenang. Bagaimanapun, ia telah berlatih bela diri sejak kecil. Jika sengaja menyembunyikan kemampuannya, justru akan tampak mencurigakan. Ia tidak boleh membiarkan Min Yan semakin curiga kepadanya.
“Bagaimana? Latihan dari Paman ternyata tidak sia-sia, bukan?”
Namun, sebelum sempat melangkah mendekat, seseorang tiba-tiba melompat keluar dari gang di sebelah kanan Min Yan. Sien Si sama sekali tidak sempat maju. Min Yan langsung terluka di lengannya.
Mata Sien Si membelalak. Ia panik bukan kepalang.
Apa sebenarnya yang dipikirkan orang ini? Apakah dia takut Sien Si mengetahui rahasianya lalu memberitahukannya kepada orang lain?
Sien Si segera maju. Tepat ketika pembunuh itu kembali hendak menoleh ke arah Min Yan, Pedang Bulan Lenyap di tangannya menembus jantung sang pembunuh. Nyawanya pun melayang seketika.
Sien Si langsung maju dan merangkul sebagian tubuh Min Yan. Wajahnya tegang dan suaranya tak dapat menahan diri untuk meninggi.
“Kau benar-benar gila! Apa kau tahu—”
Karena kepanikannya, ia nyaris saja membongkar rahasianya sendiri. Ia segera menarik napas, lalu memarahinya,
“Memangnya kau tidak tahu rasa sakit? Wajahmu sama sekali tidak berubah!”
Min Yan tidak menjawab.
Su dan Sin Yu juga telah membereskan para pembunuh di sisi lain, lalu datang menghampiri mereka.
“Tuan, Anda tidak apa-apa?”
Halaman (3/3)