Bab 5 Gang Kecil (1)
Air panas dituangkan ke dalam cangkir, uap yang mengalir perlahan menyapu wajah Ning Zhi. Kehangatan itu melunakkan kulitnya yang seputih porselen dan memesona, namun juga menyingkapkan sisi dingin dan acuh yang jarang terlihat. Baru saat air hampir meluap dari cangkir, ia mengulurkan tangan untuk mematikan keran.
Dengan cangkir penuh air panas di tangan, ia berbalik. Namun, di hadapannya sudah berdiri seorang pemuda tampan dengan senyum samar di bibir, seolah-olah menertawakan sesuatu. Ning Zhi menatap pria yang hanya berjarak beberapa langkah, jemari yang menggenggam cangkir sempat menegang sejenak.
Namun, senyum lembut terukir di wajahnya. Sikapnya sopan, tapi tetap menjaga jarak—sangat sesuai dengan suasana pertemuan dua teman sekelas baru setelah pindah sekolah. Ia memang memiliki paras yang menawan; bahkan hanya dengan senyum tipis, ia mampu menggetarkan hati siapa pun.
Saat jarak di antara mereka semakin dekat, Lu Jiming, yang biasa membanggakan dirinya pernah melihat banyak gadis cantik, pun sempat terpesona. Ning Zhi mengangguk ringan kepadanya, lalu berjalan melewati sisinya menuju kelas tanpa berkata apa-apa.
Baru beberapa langkah ia melangkah, Lu Jiming sudah menariknya. Kini, dengan wajah bersih dan menawan, ia memamerkan senyum cerah yang memikat, mulai memainkan jurus andalannya untuk merayu gadis. Dengan suara manis dan penuh rayuan, ia melontarkan berbagai topik pembicaraan.
Ning Zhi tetap menanggapinya dengan sopan, raut wajahnya lembut dan penurut. Hal itu semakin membuat Lu Jiming yakin akan keberhasilannya, senyumnya pun semakin cerah. “Ngomong-ngomong, kamu sudah punya pacar?”
Nada bicaranya lembut, tapi sorot matanya mengandung rasa percaya diri yang berlebihan, seolah siapa pun pacarnya sekarang, sebentar lagi pasti hanya akan jadi masa lalu.
Ning Zhi tersenyum dan menggeleng.
Lu Jiming pun merasa lega, senyumnya semakin melunak, ia melangkah lebih dekat dan bertanya dengan suara rendah, “Kalau begitu, bolehkah aku punya kesempatan itu...?”
Wajah pemuda itu sungguh menawan, terutama sepasang mata yang seolah mengandung pesona tiada tara. Tatapan penuh perasaan itu sanggup meluluhkan hati siapa pun.
Namun, semua itu sama sekali tak mempan terhadap Ning Zhi.
Ia tersenyum menggeleng, “Maaf, tapi...”
Di balik ekspresi Lu Jiming yang mulai membeku, Ning Zhi menggigit bibir, seolah sangat sungkan, lalu berkata pelan, “Kamu bukan tipe yang kusukai.”
Setelah berkata demikian, Ning Zhi menatapnya sejenak dengan tatapan menyesal, kemudian berlalu menuju kelas.
Lu Jiming yang ditinggalkan di tempat, senyumnya langsung lenyap, wajahnya tampak semakin kelam. Ia menatap penuh dendam pada punggung ramping Ning Zhi, kedua tinjunya mengepal erat.
Baru kali ini ia ditolak begitu saja oleh seorang gadis, tanpa basa-basi. Terlebih lagi, alasan gadis itu karena tak menyukainya!
Bagi Lu Jiming, yang selama ini teramat percaya diri atas daya tariknya, penolakan itu terasa seperti tamparan keras di wajah.
Ning Zhi tetap melangkah, merasakan tatapan menusuk di punggungnya. Di balik sudut bibirnya, perlahan terbit senyum penuh perhitungan. Bagi lelaki seperti Lu Jiming yang sombong dan gemar bermain-main, sesuatu yang tak bisa didapatkan justru akan semakin menggoda.
Lu Jiming kembali ke kelas dengan wajah muram. Suara gaduh dari meja dan kursi yang ia gerakkan membuat seluruh kelas menoleh. Jiang Yuan, yang sedang tidur, terbangun dan mengumpat.
“Kamu kenapa sih, gila ya?!”
Sepanjang hari Lu Jiming tak bersuara. Saat jam pelajaran terakhir hendak usai, Fang Mingzhu mendekat ke mejanya.
“Gimana? Nanti pulang sekolah kita ‘urus’ saja siswa spesial baru dari Kelas C itu?”
Jiang Yuan memang anak orang berada sejak lahir, tapi entah bagaimana, ia menderita gangguan emosi. Hanya obat yang bisa menenangkan, sedangkan emosi dan energi yang meluap-luap sulit dikendalikan. Siswa-siswa spesial tanpa latar belakang sering menjadi sasaran pelampiasannya.
Baginya, emosi adalah hal yang paling sulit dikontrol. Ia duduk malas, tak berminat pada apa pun. Ia melirik Fang Mingzhu dengan dingin, hendak menolak, tapi Lu Jiming lebih dahulu menyahut, “Boleh.”
Wajahnya kini tak lagi diliputi amarah seperti tadi, hanya tersisa kemurungan yang samar. Perkataannya membuat Jiang Yuan, yang semula malas, sedikit tertarik. Baru saat itu ia teringat sikap aneh Lu Jiming hari ini.
Jiang Yuan seolah menemukan mainan baru. Ia menatap Lu Jiming, “Ada apa sih sama kamu tadi siang? Siapa yang bikin kamu kesal?”
Tentu saja Lu Jiming tak mungkin menceritakan kejadian memalukan itu, tapi kekesalan dalam hatinya membuat ia tak bisa mengabaikan pertanyaan itu, sehingga ia hanya diam dengan wajah kelam.
Melihat Lu Jiming yang biasanya angkuh kini tertunduk, Jiang Yuan pun terkekeh pelan. Wajah Lu Jiming semakin gelap, dan saat emosi hampir meledak, Jiang Yuan menepuk pundaknya.
“Oke, aku ikut. Malam ini kita puas-puasin saja.”
Fang Mingzhu yang berdiri di samping mereka menyelipkan rambut ke belakang telinga sambil tersenyum, “Iya juga, ya.” Lalu ia mengeluh, “Sayang si gendut itu sudah nggak ada, padahal lebih asyik kalau ada dia.”
Ucapan ringan itu terdengar jelas di telinga Ning Zhi yang duduk di bangku depan. Tubuhnya tegak, namun tulisan indah yang hampir selesai di bukunya mendadak bergeser tak terkendali.
Garis pena yang tertarik panjang hampir merobek kertas, tajam bagai belati yang menusuk hati.
Ning Zhi menatap garis itu lama, lalu berpaling kepada Yuan Mei di sampingnya yang tak tahu apa-apa.
“Mei kecil—”
Yuan Mei mendengar panggilan itu, menoleh lalu menemukan senyum hangat dan lembut di wajah Ning Zhi.
“Di gang belakang kampus ada restoran baru, katanya enak. Malam ini kita coba, yuk?”
Yuan Mei masih terbuai oleh sapaan akrab “Mei kecil”, menatap wajah cantik di depannya, lalu mengangguk bingung, “Boleh... boleh banget.”
*
Malam turun, di sudut gang yang sunyi, seorang siswa laki-laki berseragam Akademi Santo Stanislaus berlutut gemetar di tanah yang kotor dan basah. Seluruh tubuhnya menggigil, wajahnya sembab oleh air mata dan memar, ia memohon-mohon pada beberapa orang di hadapannya, “Maaf... maafkan aku, tolong lepaskan aku...”
Ia terus mengulang permintaan maaf, berharap belas kasihan mereka.
Tapi Jiang Yuan justru semakin kesal mendengar rengekannya, lalu menghajar pemuda itu dengan satu pukulan.
“Diam.”
“Berisik!”
Tatapan Jiang Yuan tajam dan kejam, seperti arwah jahat dari neraka. Sementara Fang Mingzhu hanya bersandar santai di dinding, menonton semua itu seperti hiburan. Lu Jiming memeluk pacarnya, sementara sebatang rokok masih menyala di antara jemarinya.
Semua yang hadir membiarkan kekerasan berdarah ini terjadi di depan mata mereka, seolah tak terjadi apa-apa.
Sementara itu, di jalanan sunyi beberapa puluh meter dari sana, Yuan Mei melirik lampu jalan yang remang dan lingkungan asing yang gelap, lalu menggenggam tangan Ning Zhi semakin erat.
“...Zhi kecil, gimana kalau kita lewat jalan biasa saja? Gang ini gelap sekali, aku takut.”
Selesai makan, mereka memang berencana pulang. Ning Zhi tiba-tiba bilang ada jalan pintas di sekitar sini, dan karena waktu sudah malam, Yuan Mei pun menurut. Namun kini, ia mulai menyesal.
Ning Zhi mengamati sekeliling dengan tenang, menenangkan Yuan Mei dengan suara lembut, “Tak apa, percayalah padaku.”
Dibandingkan rasa takut Yuan Mei, Ning Zhi tampak jauh lebih tenang, sehingga Yuan Mei pun perlahan merasa lebih nyaman.
Namun, ketika mereka melewati mulut gang, terdengar suara rintihan kesakitan dari dalam.
Suara itu memang lirih, tapi dalam keheningan malam yang pekat, terdengar sangat jelas.