Bab Dua Puluh Lima: Ciuman Berdarah
Rasa sakit itu tertanam dalam-dalam di leher Su Yu’er. Air mata mengalir deras tanpa bisa dikendalikan, jeritannya pun tak bisa dihentikan. Secara naluriah ia mengayunkan kedua tangan, ingin mendorong sumber rasa sakit itu. Namun, saat ia mencoba, baru terasa betapa lemah tubuhnya; sedangkan pria itu, kuat laksana gunung, menindihnya tanpa bisa digoyahkan sedikit pun.
Meski lemah, Su Yu’er justru dapat merasakan dengan sangat jelas sesuatu tengah mengalir dari lehernya, dan di telinganya samar-samar terdengar suara menelan...
Tiba-tiba, kata-kata Ny. Chen bergema di benaknya!
Dia meminum darah manusia dan memakan daging manusia! Ada dua orang yang darahnya dihisap hingga kering olehnya, satu orang lagi daging seluruh tubuhnya dipotong! Bahkan ada satu orang yang dikuliti hidup-hidup olehnya, kulitnya dibuat menjadi lampu dan digantung di tengah aula utama kediaman pangeran...
Ketakutan, rasa dingin, semuanya meluap bersamaan dalam sekejap. Saat itu, seolah ia melihat ejekan di wajah Ny. Hao, senyum seram Ny. Qin, dan tatapan dingin Su Qing.
Menikah sebagai pengganti, hidup lebih buruk dari mati, benarkah ia baru saja lolos dari sarang harimau lalu masuk ke sarang serigala? Akankah ia benar-benar menjadi satu lagi istri yang darahnya dihisap hingga kering oleh Sang Pangeran Cacat?
Tidak, tidak! Ia tidak mau mati, ia ingin hidup, hidup!
Rasa takut yang luar biasa tak membuatnya lumpuh, justru menyalakan hasrat untuk bertahan hidup. Ia berusaha mengayunkan tangan, walau lemah tetap dipaksakan menghantam tubuh pria itu, sambil menjerit-jerit memanggil pertolongan.
“Tolong! Tolong! Siapa pun, tolong aku! Aku tidak mau mati, jangan...”
Mendadak, rasa sakit di lehernya lenyap. Pria yang menindihnya seperti gunung itu mendongakkan dada. Satu tangannya menekan leher Su Yu’er, satu tangan lain perlahan menghapus darah merah di sudut bibirnya. Ia menatap wajah Su Yu’er yang ketakutan dengan ekspresi datar.
“Jangan berisik, aku cuma minum sedikit darahmu, kau tidak akan mati.”
Apa?
Bibir Su Yu’er bergetar hebat. Lama ia membuka tutup mulut tanpa sepatah kata pun terucap. Ia tak mengerti, bagaimana mungkin pria tampan dan menawan itu bisa berkata sedatar dan sedingin itu.
Cuma minum sedikit darah? Tidak akan mati?
Tubuh Su Yu’er bergetar, ia langsung berguling dan merangkak keluar dari pelukan Sang Pangeran Cacat, jatuh ke lantai. Tak dihiraukannya luka di leher yang masih mengucurkan darah, ia hanya ingin segera lari keluar.
Namun tubuhnya terlalu lemah, berdiri pun susah, merangkak pun tak sanggup jauh. Sang Pangeran Cacat menatapnya tanpa ekspresi. Setelah tujuh delapan detik, ia baru menghela napas, lalu berdiri.
“Kau tak perlu setakut itu, aku hanya... hmm...” Kalimatnya terputus. Tubuhnya tiba-tiba mengejang, tangan menekan dada, lalu tubuhnya terguncang dan ia berdiri kaku seperti patung.
Su Yu’er yang berusaha merangkak keluar, mendengar kalimat yang menggantung itu, secara naluriah menoleh dan terkejut. Pria peminum darah itu kini berdiri kaku di sisi ranjang, satu tangan menggenggam dada, dan entah sejak kapan wajahnya berubah merah padam, makin lama makin pekat, hampir kehitaman!
Jangan-jangan, Sang Pangeran Cacat punya penyakit jantung?
Pemandangan aneh itu membuat Su Yu’er tiba-tiba berpikir demikian, karena semuanya sangat mirip gejala serangan jantung.
“Tuanku... Anda... Anda tidak apa-apa?” Meski berniat lari, Su Yu’er tetap tak bisa menahan kekhawatiran.
Sang Pangeran Cacat tak menjawab, tubuhnya tetap kaku, seolah berubah jadi batu.
Jangan-jangan... ia...
Su Yu’er membayangkan seseorang yang mati mendadak, lalu secara naluriah berbalik dan merangkak ke arahnya.
“Hey, hey, jangan mati seperti ini! Tarik napas dalam, tarik napas dalam! Ada orang?! Tolong! Ada yang bisa menolong?!”
Sambil mengucapkan langkah-langkah pertolongan, Su Yu’er berteriak minta tolong berharap ada yang datang. Malam pengantin ini, sudah cukup ia digigit dan dihisap darah, bila Sang Pangeran Cacat tiba-tiba mati mendadak, bukankah ia akan dituduh sebagai penyebabnya?
Ia berteriak keras-keras, namun di luar aula sunyi senyap, tak ada suara jawaban.
Jarak mereka sebenarnya hanya dua langkah, Su Yu’er tadi tak sempat merangkak jauh. Setelah lama berteriak tanpa respon, akhirnya ia berhasil merangkak kembali ke sisi Sang Pangeran Cacat, dan langsung melakukan langkah dasar pertolongan.
“Tarik napas dalam, tenang! Kalau kau bisa melewati kejang ini, pasti akan selamat, yang penting tetap tenang!” Su Yu’er berkata sembari memeluk paha Sang Pangeran Cacat, berusaha berdiri.
Namun efek arak membuatnya kehilangan tenaga, menarik-narik pun tak berhasil. Saat matanya melirik ke arah ikat pinggang pria itu, ia teringat kalau pertolongan kedua harus dilakukan, yaitu yang paling penting. Ia segera melepaskan pahanya, lalu berlutut di depannya dan mulai menarik ikat pinggangnya.
“Kau...” Sang Pangeran Cacat sangat kesakitan, perasaan murka yang familiar itu tiba-tiba menguasai dirinya. Ia tahu, harus melawan sekuat tenaga agar tidak kehilangan kendali.
Ia menggertakkan gigi, mengerahkan seluruh kekuatan batin untuk menahan, tapi sialnya, ada seorang wanita bodoh yang tak tahu diri malah memeluk dan meraba tubuhnya. Bahkan kini menarik-narik ikat pinggangnya, mencoba melakukan hal yang aneh!
Dalam penderitaan yang luar biasa, ia hanya mampu mengeluarkan satu kata, lalu merasa dirinya mulai kehilangan kendali.
Ia tak berani bicara lagi, apalagi melepas kendali, karena tahu jika gagal menahan kekuatan beringas dalam tubuhnya, kediaman malam ini pasti...
“Ayo, cepat buka dong!” Su Yu’er yang berusaha membuka ikat pinggang itu mulai putus asa. Sebagai mahasiswi kedokteran, meski pelajaran utama belum tuntas, langkah pertolongan pertama sudah dihafalnya di luar kepala. Ia tahu harus cepat membuka ikat pinggangnya agar pernapasannya lancar.
Tapi, pertama, ia sangat lemah, gerakannya lamban. Kedua, ikat pinggang itu aneh, sudah diraba-raba lama tetap tak menemukan pengaitnya.
Melihat wajah Sang Pangeran Cacat makin merah kehitaman, Su Yu’er panik. Ia langsung menggunakan giginya, menggigit ikat pinggang itu.
Toh hanya seutas kain, masa tidak bisa digigit hingga robek!
Ia berniat menolong, tapi tindakannya membuat Sang Pangeran Cacat yang sudah bertahan di ambang batas hampir tak kuasa menahan diri. Seorang wanita menelungkup di pinggangnya, kedua tangan menggerayangi bagian sensitif, bagaimana ia bisa terus menahan kekuatan panas dan liar dalam tubuhnya?
Kini wanita itu malah menempel erat, ia benar-benar hampir tak kuat menahan...
Wanita ini... sial...
Ia menggertakkan gigi, tangan di belakang bergerak perlahan untuk mendorongnya pergi. Namun saat itu, Su Yu’er yang tengah menggigit ikat pinggangnya tiba-tiba merasakan ada celah kecil. Secara refleks, tangannya menarik bagian itu.
“Klik!” Suara lirih terdengar, ikat pinggang sialan itu akhirnya terbuka. Wajah Su Yu’er baru saja tersenyum lega ketika tiba-tiba sebuah kekuatan dahsyat menyembur dari depan, membuatnya terpental keras membentur pintu aula.
Di saat bersamaan, suara auman mengerikan meledak dalam ruangan, berat dan liar bagai raungan naga. Bersamaan dengan auman itu, Su Yu’er yang terhempas ke pintu, mendongak dan melihat tubuh Sang Pangeran Cacat bergetar hebat, dan matanya yang semula hitam kini berubah menjadi merah darah!
Ini... apa yang sebenarnya terjadi?