Bab 64: Aku yang Kalah
Teska menemui Jessica Jones di Rumah Sakit Gabungan Hell's Kitchen. Gadis ini terluka parah akibat hantaman Teska, dan seandainya tubuhnya tidak lebih kuat dari manusia biasa, mungkin ia sudah mati.
Berbeda dengan Zebediah Kilgrave, Jessica sejak lama sudah tercatat sebagai individu berkekuatan khusus dalam daftar S.H.I.E.L.D. Namun, setelah beberapa kali kontak, sifatnya dianggap tidak cocok menjadi agen S.H.I.E.L.D. dan karena tak melakukan tindakan berbahaya, ia hanya dijadikan subjek pengamatan berkala.
Dengan status seperti itu, S.H.I.E.L.D. jelas tidak akan menanggung biaya medisnya; cukup membawanya ke rumah sakit dan memastikan ia selamat. Ditambah lagi, berkat campur tangan Stephanie, anak kedua dari keluarga ular, Jessica masuk dalam "daftar aman yang tidak akan membocorkan rahasia".
Keluarga Malick sangat suka mengumpulkan individu berkekuatan khusus untuk dijadikan pekerja. Meski Jessica dikalahkan seketika oleh Teska, ia tetap punya nilai tersendiri sehingga tidak boleh dibiarkan S.H.I.E.L.D. mengurungnya.
Kini, Jessica terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Dibanding luka fisik, tampaknya luka mentalnya justru lebih parah. Efek cuci otak memang telah lenyap, tapi dampak jangka panjangnya tak akan mudah hilang. Kenangan-kenangan mengerikan itu terus-menerus datang dalam bentuk kilas balik, membuat Jessica hampir kehilangan kewarasan.
“Melihat kondisimu begini, kayaknya aku terlalu keras. Kukira kau lebih kuat,” kata Teska.
“Menjenguk orang sakit, cuma itu yang kau bilang?” Jessica memutar bola matanya.
“Begitukah caramu bersikap pada penyelamatmu?” Teska balik bertanya.
“Tulang punggungku sampai bergeser, ada ya penyelamat macam kamu?” Jessica tahu betul orang di depannya inilah yang menyelamatkannya, tapi entah kenapa melihat ekspresi Teska, ada rasa kesal yang membuncah.
Mungkin karena baru saja lewat Hari Valentine dan wajah Teska tampak berseri-seri layaknya pemenang kehidupan, sementara ia sendiri baru saja melewati Valentine terburuk sepanjang hidup. Kontrasnya terlalu besar.
Orang yang kalah benci melihat yang terlalu bahagia, tak peduli laki-laki atau perempuan.
Setelah berpikir, Jessica merasa ucapannya barusan agak tak tahu terima kasih, lalu berkata, “Kau terlalu keras, jadi jasa penyelamatanmu kukurangi setengah. Anggap saja aku utang setengah nyawa.”
Teska tak tersinggung. Gadis ini memang keras kepala, ada sisi uniknya. Ia pun menggoda lagi, “Kalau bukan aku, kau sudah diperlakukan macam-macam oleh si psikopat itu, masa cuma setengah?”
Tak disangka, Jessica berkata dengan bangga, “Kau salah besar. Bajingan itu malah takut disentuh sama aku, takut nyawanya melayang. Sentuh saja tidak berani.”
Teska dalam hati mengakui, memang benar, bukan urusan yang bisa diselesaikan dengan kekuatan fisik semata.
Keberanian Jessica membuat Teska angkat topi, dalam perang lelucon cabul kali ini, ia harus mengaku kalah.
“Entah itu setengah atau tujuh puluh persen, intinya kau punya utang budi padaku. Sekarang aku butuh bantuanmu,” Teska langsung ke pokok permasalahan.
“Aku minimal harus istirahat di ranjang tiga bulan, mau bantu pun tak bisa,” keluh Jessica.
“Tenang, aku bawa obat khusus,” Teska tiba-tiba mengeluarkan termos, membuka tutupnya dan menyuapi Jessica isinya.
Jessica sama sekali tak berdaya menolak, mulutnya langsung penuh cairan amis yang hampir membuatnya tersedak.
“Batuk…batuk…Apa yang kau paksa minum padaku?!” Jessica bertanya dengan marah.
“Sudah kubilang, ini obat mujarab. Semalam aku khusus meracikkannya buatmu.”
Teska tidak berbohong. Saat datang ke Bumi, ia memang membawa satu teko ramuan pemulih yang akhirnya diberikan pada Ivan Vanko. Untung saja uang bisa menyelesaikan masalah, setelah membayar sepuluh ribu dolar untuk jasa antar, hotel itu pun mengumpulkan bahan-bahannya, dan ia merebus ramuan baru pakai ketel air panas. Mungkin karena tidak disaring, masih ada bau amis, tapi khasiatnya tetap utuh, sangat cocok untuk menyembuhkan luka Jessica.
Khasiat obat itu langsung terasa, hampir semua luka luar bisa sembuh seketika. Jessica merasakan hangat menjalar di seluruh tubuh, nyeri-nyeri pun mulai menghilang. Tak lama kemudian, ia bahkan bisa bangkit duduk.
“Baru minum langsung sembuh? Ajaib sekali!” seru Jessica dengan takjub.
Cedera tulang belakang yang tadinya parah, bahkan butuh operasi dan istirahat total, kini sembuh dalam sekejap, bekas luka operasi pun hilang.
“Kumaklumkan, obat ini memang mujarab. Ayo, cepat ikut aku, aku sedang buru-buru,” desak Teska.
Jessica ragu sebentar, lalu berkata, “Aku harus panggil dokter untuk periksa dulu.”
“Periksa apa? Obatku lebih ampuh dari dokter mana pun. Kalau kurang, kuobati lagi sampai kau bisa loncat-loncat,” ujar Teska sambil menepuk dadanya.
“Tidak, tetap harus periksa dulu,” Jessica bersikeras.
“Kenapa sih cerewet sekali?” Teska agak jengkel.
Ini obat dari sistem, mustahil bermasalah. Lagi pula, rumah sakit Hell’s Kitchen ini, asal bisa bikin pasien selamat saja sudah bagus, mana mungkin ada dokter sekelas Strange di sana?
Kalau benar-benar memanggil dokter, kesembuhan mendadak Jessica pasti akan menimbulkan banyak masalah. Pemeriksaan ulang saja sudah makan waktu, Teska tak mau seharian menghirup bau disinfektan di sana.
Akhirnya Jessica dengan marah melempar bantal ke wajah Teska sambil berteriak, “Pergi sana, aku masih pakai selang! Kalau tidak panggil dokter, kau mau yang cabut?”
Teska baru sadar akan hal itu. Kalau cedera tulang belakang, memang harus... ya sudah, tunggu saja.
Setelah menunggu agak lama, akhirnya Jessica keluar dari rumah sakit dengan ekspresi kesal, sepertinya ia sudah sangat jenuh dengan dokter dan perawat di sana.
Teska membayangkan, mungkin Jessica diperlakukan seperti kelinci percobaan, bahkan mungkin dokter-dokter itu ingin membedahnya demi mengejar Nobel.
“Apa sebenarnya yang kau mau dariku? Dengar ya, aku tidak punya uang, dan tidak mau direkrut jadi anggota organisasi rahasia mana pun,” tegas Jessica.
Ia memang tipe yang tak suka diatur, makanya tak diterima jadi agen S.H.I.E.L.D. Lebih baik hidup sebagai detektif swasta, bisa makan seadanya.
“Aku tahu kau detektif swasta yang hebat. Makanya, aku ingin kau menyelidiki sebuah organisasi bernama Tangan Bersatu...”
Teska pun memberitahu semua informasi yang ia tahu pada Jessica, terutama beberapa nama kunci.
Wilson Fisk, Nyonya Gao, Perusahaan Investasi Bersatu Global, Grup Rand... semua ini dicatat Teska saat menonton serial televisi. Dari lima pemimpin Tangan Bersatu, ia hanya ingat Nyonya Gao, karena kemampuan tinju kosongnya sungguh luar biasa.
Nenek tua yang berjalan pun harus pakai tongkat itu, hanya dengan ayunan tangan bisa membuat muatan seberat beberapa ton melayang. Teska merasa, kalau dia bisa mempelajarinya, mungkin bisa mendorong bulan.
Kalau bicara tentang keinginan terbesar Teska selain kemampuan dari sistem, tentu saja seni bela diri Kunlun, bahkan sihir Kamar-Taj pun kalah menarik. Mana ada pengelana dunia lain yang tak punya jiwa pendekar?
Setelah mendengarkan penjelasan Teska, Jessica mengangguk dan berkata, “Paling lambat satu minggu, akan kuberi kabar.”
Setelah terdiam sejenak, Jessica kembali berkata pada Teska, “Bagaimanapun juga, terima kasih.”