Bab 41: Pesta Dansa (3)
Sejak tadi, Lu Jiming sudah memperhatikan segalanya dari samping, dan seulas senyum dalam penuh makna melintas di matanya. Ia bahkan melangkah ke depan Gu Huai, menepuk pundaknya dengan raut wajah yang seolah-olah penuh kekhawatiran, “Ah Huai, kau merasa tidak enak badan? Wajahmu pucat sekali.”
Gu Huai yang masih diliputi amarah menunduk, menepis tangan Lu Jiming. Namun Lu Jiming sama sekali tidak tersinggung, malah tertawa, “Kau memang tidak pernah datang ke acara seperti ini, pasti belum terbiasa.”
“Kalau memang merasa tidak enak, jangan dipaksakan. Jangan lupa bilang padaku.”
Melihat kemurungan di mata Gu Huai hampir menjelma nyata, barulah Lu Jiming menarik kembali tangannya dan beranjak pergi. Sambil menggeleng dan tersenyum, ia teringat ekspresi Gu Huai barusan—ekspresi yang jarang sekali terlihat—dan hatinya terasa sangat lega dan puas.
Karena itulah, ketika melihat Ning Zhi, senyumnya makin merekah. Ia menghampiri, pura-pura menyesal, “Aduh, sepertinya aku masih belum menemukan pasangan dansa yang cocok.”
Belajar dari pengalaman sebelumnya, kali ini Lu Jiming tidak lagi berbelit-belit. Ia menatap langsung ke arah Ning Zhi, “Ning Zhi.”
“Ya?” Ning Zhi menatapnya sambil tersenyum.
Menatap bening dan kelembutan di mata Ning Zhi, tiba-tiba Lu Jiming merasa gugup. Ia terdiam beberapa detik, lalu bertanya, “Apa kau sudah memutuskan siapa yang akan kau ajak berdansa nanti? Kalau belum, aku—”
“Aku sudah memutuskan.”
Empat kata sederhana itu langsung memotong ucapannya. Senyum masih menghiasi wajah tampannya, dan setelah beberapa saat ia bertanya pelan, “Siapa?”
Di luar dugaannya, Ning Zhi menggigit bibirnya yang indah, merenung sejenak, lalu matanya berbinar-binar, “Rahasia.”
Ia memang cantik, dan saat ini, senyum yang cerah kian menambah pesona dan kehangatan pada kecantikannya yang polos. Jarang sekali Ning Zhi tampil begitu hidup di hadapannya, sampai-sampai Lu Jiming tertegun. Ning Zhi sudah pergi pun ia belum juga sadar.
Sementara itu, demi menghindari muncul bersamaan dengan Ning Zhi di hadapan banyak orang, Fang Mingzhu memilih berjalan menuju area makan yang lebih sepi. Di meja panjang, berbagai macam makanan penutup dan camilan tertata rapi, juga beberapa nampan penuh sampanye, anggur merah, dan minuman beraneka warna. Ia mengambil segelas anggur merah sembarangan, lalu duduk di sofa.
Setelah duduk sejenak, suasana pesta dansa yang kian ramai dan meriah mulai menggoda hatinya. Ia tidak mungkin menyerahkan seluruh sorotan hanya demi menghindari Ning Zhi. Fang Mingzhu tidak sanggup melakukan itu.
Ia berdiri, membawa anggur merahnya menuju meja makan, matanya menyisir kerumunan mencari sosok Jiang Yuan. Namun ia tak menemukan Jiang Yuan, melainkan menangkap percakapan dua gadis yang sedang menikmati makanan penutup di belakangnya.
“…Kakak senior Ning Zhi benar-benar cantik, ya.”
“Aku juga pikir begitu. Katanya dia baru saja pindah ke sini.”
“Pantas saja, baru sebentar sudah dinobatkan jadi ‘Dewi Serba Bisa’. Keren sekali. Andai aku secantik itu.”
“Hahaha, kamu bermimpi…”
Mereka berbincang dengan riang, sama sekali tak menyadari wajah Fang Mingzhu di depan mereka sudah dipenuhi amarah. Dan mereka masih lanjut.
“Eh, Kak Ning Zhi punya pacar nggak, ya?”
“Sepertinya sih nggak, aku belum pernah dengar.”
“Jadi nanti dia bakal pilih siapa jadi pasangan dansanya…”
Salah satu gadis merendahkan suara, nada suaranya penuh semangat bergosip, “Aku sih ada tebakan—”
Meski suara mereka pelan, Fang Mingzhu tetap jelas mendengar dua kata itu, dan hatinya langsung cemas.
“Jiang Yuan.”
Gadis satunya tampak terkejut, “Hah? Bukannya dia pacaran sama Kak Mingzhu?”
“Kamu nggak ngerti, ya. Di forum katanya Kak Ning Zhi suka sama Jiang Yuan, tapi entah kenapa akhirnya Jiang Yuan malah pilih Kak Mingzhu.”
“Kalau nanti Ning Zhi pilih Jiang Yuan, Kak Mingzhu pasti nggak mau, dong?”
“Nggak mau pun percuma, ini aturan tahunan di St. Si, begitu sudah dipilih nggak boleh menolak. Masa iya dia mau bikin keributan di acara semegah ini?”
Ia lalu menambahkan, sambil tersenyum geli, “Tapi siapa tahu juga.”
“Haha, lihat saja nanti. Siapa tahu sebentar lagi ada tontonan seru.”
Baru saja kata-kata itu selesai, suara gelas pecah di depan mereka langsung menghentikan obrolan. Mata Fang Mingzhu merah menahan amarah, dadanya naik turun, menatap dua gadis itu seolah ingin menerkam mereka.
Dua gadis yang tadi masih santai langsung panik. Salah satunya, lebih cekatan, segera menunduk dan berkata pelan, “Halo, Kak Mingzhu,” lalu buru-buru menarik temannya pergi, menghilang di keramaian.
Fang Mingzhu bukan orang bodoh, ia tidak memilih mengejar mereka, apalagi membuka keributan hanya karena masalah sepele di tempat seperti ini. Ia hanya mengingat baik-baik wajah kedua gadis itu, berniat menyelesaikannya setelah pesta.
Namun ucapan mereka tadi terus terngiang-ngiang di benaknya, menekan dadanya seperti batu berat. Apa yang mereka katakan memang masuk akal. Jika Ning Zhi benar-benar memilih Jiang Yuan nanti, apa yang harus ia lakukan?
Sekalipun Fang Mingzhu keras kepala, ia tahu kapan harus menahan diri. Ia paham, jika sampai bertengkar di depan umum, yang jadi bahan tertawaan hanyalah dirinya sendiri. Lagi pula, ini sudah jadi tradisi setiap tahun, hanya sebuah dansa saja.
Tetapi, harus menyaksikan sendiri Ning Zhi bersama Jiang Yuan, bagi Fang Mingzhu rasanya seperti siksaan.
Ia sama sekali tak sanggup menahan diri!
Alih-alih terus mencari Jiang Yuan, Fang Mingzhu memilih menuju tengah ruang pameran untuk menemui Ning Zhi. Ia ingin tahu dengan pasti siapa yang akan dipilihnya.
Tak perlu waktu lama, ia sudah menemukan Ning Zhi yang dikelilingi banyak orang dengan senyum tenang di wajahnya. Dari kejauhan, Ning Zhi pun melihatnya.
Meski wajah Fang Mingzhu masih menyimpan permusuhan, ia sengaja menahan diri, berusaha tampak wajar dan tenang. Ia memberi isyarat dengan tatapan agar Ning Zhi menemuinya di balkon luar.
Senyum Ning Zhi sedikit menegang, terasa dingin. Siapa dia, pikirnya, sampai hanya dengan sebuah tatapan ingin memerintahnya?
Ning Zhi mengalihkan pandangan, tetap tersenyum dan berbasa-basi dengan orang-orang di sekitarnya, seolah tak melihat atau mengerti isyarat Fang Mingzhu. Fang Mingzhu mulai gelisah, terpaksa kembali dengan wajah cemas, permusuhan di wajahnya lenyap seluruhnya.
Barulah Ning Zhi merasa cukup puas, lantas berkata pada kerumunan, “Maaf, permisi sebentar,” lalu mengangkat gaunnya dan perlahan berjalan ke arah Fang Mingzhu.
Fang Mingzhu menunduk, “Kita bicara di luar saja, di sini terlalu ramai.”
Berbeda dengan suasana hangat dan hiruk-pikuk di dalam, balkon luar terasa sunyi, suara riuh dan musik terhalang kaca kedap suara yang berkualitas tinggi.
Jiang Yuan memang selalu membenci acara resmi yang mengharuskannya mengenakan setelan rapi. Begitu masuk ruang pameran, ia langsung berdiam diri di balkon. Angin malam yang dingin menerpa, ia menyelipkan sebatang rokok di antara jemarinya, bersandar di pagar, mengisapnya perlahan; garis wajahnya yang tegas dan dalam samar-samar tersembunyi dalam gelapnya malam.
Begitu mendengar suara langkah sepatu hak tinggi, ia menoleh. Melihat Fang Mingzhu, ia mengerutkan dahi, kesal.
Ia hanya ingin menikmati ketenangan sejenak, tidak bisakah?
Namun ia segera menyadari Fang Mingzhu tidak melihat keberadaannya, bahkan tak melirik ke arahnya. Jiang Yuan pun lega, mematikan rokok, meneliti sekeliling dan mendapati balkon dipisahkan sekat besar menjadi dua sisi. Fang Mingzhu berdiri di sisi lain. Ia pun perlahan berjalan ke balik sekat.
Ia memutuskan menunggu di sana sampai Fang Mingzhu pergi.
Fang Mingzhu dan Ning Zhi tidak menyadari ada orang lain di tempat itu. Mereka berdiri tak jauh dari sekat.
“Katakan saja, ada apa kau memanggilku ke luar?”
Suara lembut yang sangat dikenalnya terdengar terbawa angin malam ke telinga Jiang Yuan. Ia spontan mengernyit. Mengapa Ning Zhi juga ada di sini?