Bab Delapan: Muslihat Apa Lagi yang Sedang Dia Rencanakan
Gu Yanxiu meliriknya, pandangannya perlahan jatuh pada aneka hidangan lezat di belakang wanita itu, lalu tiba-tiba tertawa, "Semuanya masakanku yang favorit?"
"Tentu saja, maukah kau mencicipinya? Aku menghabiskan banyak usaha untuk membuatnya, ini buatan tanganku sendiri!" Mata jernih Lin Shutang tampak sangat terang di dalam ruang kerja yang agak redup. Ia menyeka tangannya dengan kain bersih di sampingnya, lalu mengambil sumpit kayu eboni dan menyodorkannya ke hadapan pria itu.
Gu Yanxiu tidak menerimanya, malah memilih untuk mengabaikannya, "Aku tidak lapar, bawa pergi saja."
Lin Shutang tidak memaksanya. Setelah meletakkan sumpit ke dalam kotak makanan, ia berjalan ke belakang pria itu. Namun, baru saja jemarinya yang lentik menyentuh bahu sang pria, pergelangan tangannya sudah dicengkeram dengan erat.
Gu Yanxiu bertanya, "Trik apa lagi yang ingin kau mainkan?"
"Aku hanya takut kau kelelahan karena urusan dinas, apa memijat bahumu saja tidak boleh?" Lin Shutang menghela napas sedih. Nada suaranya yang menggoda terdengar bergetar, seolah-olah ia menderita ketidakadilan yang luar biasa.
"Bicaralah dengan benar, untuk apa merayu?" suara Gu Yanxiu dingin.
"Bagaimana aku tidak bicara dengan benar?" Lin Shutang sedikit membungkuk, helaian rambutnya yang selembut sutra jatuh ke bahu pria itu. "Tuan Muda Kedua benar-benar pandai menindas orang, lihatlah, memar di leherku saja belum hilang."
Gu Yanxiu merasa aroma bunga yang samar itu sungguh mengganggunya hingga ia tidak bisa tenang. Ia tiba-tiba merasa tenggorokannya kering, lalu menuangkan secangkir teh tawar untuk dirinya sendiri. "Dulu kau tidak seperti ini, bahkan sekadar bicara denganku saja kau tampak enggan. Kenapa, sekarang setelah keluarga asalmu tertimpa musibah, kau mulai belajar merendahkan diri?"
"Orang harus menundukkan kepala jika sedang berada di bawah atap orang lain," Lin Shutang tersenyum manis menatapnya.
Gu Yanxiu terdiam sejenak, ujung jarinya yang putih pucat bertumpu pada cangkir teh porselen biru putih. Dengan nada lirih ia berujar, "Jika kau tahu caranya menunduk, kau tidak akan melakukan tindakan percobaan pembunuhan terhadap suamimu sendiri."
Lin Shutang tidak terima, "Tapi Tuan Muda Kedua juga hendak membunuh istrinya, kita berdua sama saja."
"Pergilah, dengan kegigihanmu untuk menjilat ini, aku yakin apa pun yang kau kerjakan akan berhasil."
Lin Shutang tahu tidak perlu terburu-buru saat ini. Ia tersenyum lalu meninggalkan ruang kerja.
Xiting baru berani masuk setelah orang itu pergi, "Tuan, makanan ini..."
"Buang." Gu Yanxiu menyesap tehnya, suaranya datar dan dingin.
Xiting merasa sayang. Ia mengambil jarum perak untuk mengujinya. Sejak tadi di luar ia sudah mencium aromanya dan kini ia merasa sangat lapar. Penjaga lainnya yang bernama Yin Ci pun ikut masuk. Ia adalah adik kandung Xiting yang dua tahun lebih muda, memiliki paras rupawan layaknya pemeran pria dalam pertunjukan opera.
"Tuan, bagaimana jika diberikan kepadaku saja?" Yin Ci menatap tajam piring daging babi masak kecap yang menggiurkan itu, air liurnya beberapa kali tertelan.
Gu Yanxiu meliriknya, "Kalau tidak takut mati, silakan makan."
Yin Ci sudah sering melihat berbagai racun dan yakin bahwa makanan ini tidak diracuni. Setelah mendapat izin, ia mengambil sumpit dan mencicipinya. Matanya berbinar, dalam sekejap ia hendak menghabiskan daging babi itu dengan nasi. Xiting berteriak memanggilnya 'bocah nakal' dan hendak mengambil sumpit, namun sumpit itu justru direbut oleh tangan Gu Yanxiu yang ramping bak giok.
"Kau dan Yin Ci gunakan satu pasang sumpit saja." Alis Gu Yanxiu sedikit berkerut, ekspresinya tampak serius.
Xiting tidak berani bertanya lebih lanjut, ia hanya meminta Yin Ci menyisakan bagian untuknya.
Gu Yanxiu menunduk menatap sumpit di tangannya, sumpit yang baru saja digunakan oleh Lin Shutang...
Setelah kembali ke Paviliun Shaoya, Lin Shutang tidak benar-benar menganggur. Usai makan, ia membuat kudapan kue teratai dan kue kacang pinus. Kali ini ia tidak mengantarnya sendiri melainkan menyuruh Chunqi. Hingga waktu makan malam tiba, ia tetap menyuruh Chunqi yang mengantarnya.
Chunqi telah bolak-balik beberapa kali dan merasa bingung, namun tetap menjalankan perintahnya. Hanya saja kali ini ia kembali dengan cepat, "Nyonya Muda Kedua, Tuan Muda Kedua tidak ada di ruang kerja."
Mendengar itu, Lin Shutang menyunggingkan senyum. Kesempatannya telah tiba.
"Apakah orang-orang di kediaman tahu ke mana dia pergi?" tanyanya.
"Hamba mendengar dari pelayan yang membersihkan Kediaman Zhuxuan bahwa terjadi masalah di kantor pemerintahan. Tuan Muda Kedua sudah meninggalkan kediaman sebelum waktu matahari terbenam."
Lin Shutang membuka jendela, menjulurkan tubuhnya menatap langit yang mulai gelap. Di sepanjang koridor kediaman, para pelayan sudah lewat membawa lentera istana segi enam. Cahaya lilin kuning hangat hanya cukup menerangi bagian depan saja, bayangan orang tampak samar-samar. Jika tidak ada lampu, suasana saat ini sudah gelap gulita dan sulit terlihat jelas.
Langit harus menjadi lebih gelap lagi.
Lin Shutang menutup jendela, lalu berbalik dan memberi isyarat pada Chunqi, "Kemarilah, aku ingin merundingkan strategi denganmu..."
Setengah jam kemudian, malam semakin pekat. Sesosok tubuh ramping menyelinap ke dalam hutan bambu kecil di Kediaman Zhuxuan, menimbulkan suara gemerisik halus yang segera hilang ditelan angin dingin yang menusuk.
Chunqi membawa kotak makanan dan lentera, berjalan perlahan melewati gerbang bulan. Jalan setapak berbatu di sana dipenuhi kerikil, menciptakan suasana sunyi yang tersembunyi. Dua lentera tergantung di luar ruang kerja, memancarkan lingkaran cahaya di atas salju, tampak berkilau seolah memegang air.
Baru saja sampai di luar ruang kerja, Yin Ci menghadangnya, "Nona Chunqi, sudah kubilang, Tuan tidak di ruang kerja."
"Jangan salah paham, Nyonya Muda Kedua baru saja memerintahkanku untuk memberikan makanan ini kepadamu, supaya tidak terbuang sia-sia." Chunqi berucap pelan sembari membuka kotak makanan itu. Di dalamnya terdapat sepiring bebek kukus arak, bakso kepala singa dengan siraman saus, tumis tunas goji, dan semangkuk nasi putih yang harum.
Melihatnya saja sudah membuat air liur menetes.
"I-ini, apa tidak apa-apa..." Yin Ci memerah telinganya, namun tangannya dengan jujur menerimanya lebih dulu, sehingga ia tidak menyadari ada bayangan yang melintas di belakangnya.
Lin Shutang sengaja memilih waktu gelap gulita ini untuk pergi ke Kediaman Zhuxuan. Makanan yang dibuatnya selama tiga jam itu hanyalah umpan untuk menciptakan suasana, agar Gu Yanxiu lengah dan mengira ia hanya berusaha menjilat untuk mendapatkan petunjuk. Terkadang, melakukan sesuatu meski tahu itu tidak mungkin hanyalah umpan yang ia lempar.
Baru saja ia membuka jendela dan meluncur masuk dengan hati-hati, sebuah bilah pisau dingin sudah menempel di sisi lehernya.
Angin dingin dari luar jendela berhembus masuk. Ia merasa kehilangan kesadaran sejenak, tangannya gemetar hebat. Namun di dalam hatinya, ia merasa seolah sedang terbakar. Ia mengepalkan tangan yang disembunyikan di balik lengan bajunya, mulai berpikir siapa orang lain yang berani menyelinap ke ruang kerja Gu Yanxiu sepertinya.
Apakah musuh politik Gu Yanxiu atau orang lain?
Ia berusaha menenangkan nada suaranya, "Apa pun yang ingin kau ketahui tentang Gu Yanxiu, aku bisa memberitahumu."
Begitu kata-kata itu terucap, terdengar suara tawa sinis dari belakang, "Lin Shutang, kau benar-benar orang yang pengecut dan takut mati ya."
Lin Shutang segera mengenali suara yang familiar itu, "Gu Yanxiu?! Singkirkan pedangmu."
Gu Yanxiu mencibir, "Menyingkirkannya? Kau berani menerobos masuk ke ruang kerjaku dengan begitu lancang, aku bahkan belum meminta pertanggungjawabanmu."
Lin Shutang mengatupkan bibirnya. Ia memang takut mati. Bagaimanapun, rasa sakit saat terjepit truk di dunia nyata tidak ingin ia rasakan untuk kedua kalinya. Kematian adalah hal yang mengerikan bagi seseorang yang sangat menghargai nyawa seperti dirinya.
"Aku hanya mencari petunjuk. Bukankah kau sudah berjanji akan memberikan barang itu padaku? Kenapa sekarang malah ingkar janji?"
Mata Gu Yanxiu tiba-tiba meredup, "Petunjuk apa yang kau cari? Jangan-jangan kau sudah punya titik terang mengenai kasus ini?"