Bab 32: Tak Bisa Kembali Lagi
Kejutan tampak jelas di wajah Xiaoying. Selama dua tahun terakhir, orang yang paling disayangi oleh Liu Ruyan tak lain adalah Tuan Muda. Mendengar ucapan seperti itu, tentu saja ia sangat terkejut.
Dengan sedikit ragu, ia bertanya lagi, "Nyonya, hal-hal apa saja yang harus saya selidiki secara khusus?"
"Aku ingin tahu bagaimana Ye Chen bisa terkena racun, juga apa saja yang ia lakukan di belakangku terhadap suamiku."
Alis Liu Ruyan semakin mengerut. Ia sangat ingin mengungkap kebenaran, namun juga takut kenyataannya terlalu kejam dan menghancurkan semua bayangan indahnya tentang Ye Mu.
Semakin buruk Ye Mu, maka semakin menonjol pula betapa dalam luka yang dulu ia berikan pada Ye Chen, juga betapa kelam masa lalunya sendiri.
Karena itu, ia tak punya pilihan lain selain berkata lagi, "Selain itu, segera atur keberangkatanku keluar kota."
Setelah menerima perintah, Xiaoying segera bergegas pergi. "Baik, hari sudah larut, Nyonya sebaiknya beristirahat dulu malam ini."
Keberangkatan Liu Ruyan dijadwalkan esok sore, sementara banyak urusan di rumah yang masih harus ia selesaikan.
Malam itu, ia tidak kembali ke kediaman utama, melainkan membawa tubuh lelahnya ke kamar pernikahan untuk beristirahat sebentar.
Sudah lama Ye Chen tidak menginjakkan kaki di tempat itu. Tata letaknya kini sangat berbeda dari masa lalu.
Potret dirinya bersama Liu Ruyan entah sejak kapan telah diganti dengan potret Liu Ruyan dan Ye Mu.
Sprei dan selimut di tempat tidur menggunakan motif kesukaan Ye Mu; di rak barang-barang di samping pun penuh dengan milik Ye Mu.
Tubuh Liu Ruyan yang memang sudah lelah seketika membeku begitu melihat semua barang di kamar itu berkaitan dengan Ye Mu.
Ia duduk di tepi ranjang, melepas mantel dengan satu tangan, lalu menyalakan sebatang dupa tipis.
Wajahnya terlihat sangat letih dan kesepian. Ia menatap potret di atas meja kecil di samping tempat tidur tanpa berkedip.
Padahal, ini adalah tempat kenangannya bersama Ye Chen, tetapi kini jejak Ye Mu ada di mana-mana. Lalu, apa arti Ye Chen baginya?
Setelah dupa itu habis terbakar, ia malas untuk membersihkan diri. Ia mengambil kotak kayu cendana, lalu memasukkan semua barang milik Ye Mu ke dalamnya, seolah dengan begitu ia benar-benar bisa menghapus keberadaan Ye Mu dari hidupnya.
Barang-barang yang sudah dikumpulkannya itu ia niatkan untuk disimpan sementara di lemari. Namun, begitu membuka lemari pakaian, ia benar-benar terkejut.
Selain pakaian miliknya, separuh lemari berisi pakaian Ye Mu—mulai dari baju musim semi hingga jubah musim dingin, bahkan pakaian dalam dan kaus tipis pun ada.
Liu Ruyan menatapnya lama, lalu tersenyum getir. Senyum itu penuh dengan ejekan terhadap dirinya sendiri. Emosinya pun memuncak, tangannya menarik beberapa pakaian lalu melemparkannya ke lantai.
Ye Mu telah merasuk ke seluruh sisi kehidupannya. Pakaian-pakaian itu bisa ia singkirkan, tapi jejak keberadaan Ye Mu tidak akan pernah bisa ia hapus.
Dengan hati dongkol, Liu Ruyan meninggalkan semua barang itu lalu melangkah lebar ke ruang dalam, menutup pintu dengan keras hingga terdengar dentuman yang menggema.
Ye Chen melihat kekacauan di depannya tanpa ekspresi apa pun.
Mungkin, suatu hari nanti Liu Ruyan akan mengetahui siapa sebenarnya Ye Mu.
Namun, apa artinya itu? Hubungan mereka sudah tidak bisa kembali seperti semula.
Ye Chen berdiri dengan tangan di belakang punggung di depan jendela, menatap ke kejauhan kota yang gemerlap.
Meski sudah larut malam, kota masih ramai, lampu-lampu di gedung tinggi seberang jalan tetap terang benderang.
Malam ini, berapa banyak orang yang sulit memejamkan mata?
Berapa malam lagi keluarganya bisa tidur dengan tenang? Ia menunggu jawabannya.
Liu Ruyan hanya tidur beberapa jam saja. Ketika cahaya matahari pagi pertama menyentuh wajahnya, ia pun terbangun.
Ia membuka lemari untuk memilih baju yang akan dikenakan hari ini. Awalnya ia ingin mengambil yang berwarna terang, namun akhirnya memilih gaun panjang berwarna gelap.
Ia melangkah keluar dengan langkah pasti.
Hal pertama yang ia lakukan adalah memanggil pelayan kecil, Xiaolu, dan dengan suara tegas berkata, "Buang semua barang di dalam itu!"
Xiaolu tampak takut. Ia sudah beberapa tahun melayani di kediaman itu, tahu benar perubahan yang terjadi di ruang dalam, juga tahu perubahan sikap Nyonya terhadap Tuan Muda.
"Tapi... itu semua barang milik Tuan Muda. Kalau nanti dia tahu barang-barangnya tidak ada, dia pasti marah."
Semua orang tahu betapa pentingnya Ye Mu bagi Liu Ruyan, apalagi tubuhnya lemah dan punya penyakit jantung. Setiap Ye Mu datang, semua orang melayaninya bagaikan raja.
Jika sampai penyakitnya kambuh karena emosi, siapa yang berani menanggung risikonya?
Xiaolu bertanya dengan sangat hati-hati, namun hal itu justru membuat Liu Ruyan sangat tidak senang.
"Brak!"
Liu Ruyan membanting cangkir teh di tangannya ke meja. "Dia bukan suamiku. Apa pantas barang-barangnya ada di ruang dalam milikku?"
"Tidak pantas, tidak pantas," Xiaolu cepat-cepat mengangguk dan mulai membereskan semuanya.
Ye Chen merasa kasihan padanya. Bukankah semua ini terjadi karena izin Liu Ruyan sendiri? Tanpa persetujuannya, mana mungkin Ye Mu berani sejauh itu? Baru sekarang ia marah-marah, pantaskah ia menyalahkan orang lain?
Sebagai pelayan, Xiaolu tentu tidak berani membantah. Ia hanya menunduk dan membereskan barang-barang di lantai, lalu masuk ke kamar. Melihat begitu banyak barang yang dilemparkan Liu Ruyan ke lantai—mulai dari benda pribadi sampai pakaian—ia bertanya lagi, "Nyonya, semuanya dibuang saja?"
Liu Ruyan menjawab dengan suara penuh amarah, menekankan setiap kata, "Semuanya!"
"Baik."
"Tunggu, setelah semua barang itu dibuang, atur barang-barang suamiku kembali ke tempatnya."
Wajah Xiaolu sejenak dipenuhi keraguan. "Ini... Nyonya..."
"Ada apa?"
"Semua barang milik Tuan sudah dibuang oleh Tuan Muda. Saya sempat ingin menyimpannya, tapi Tuan Muda berkata tak perlu, katanya masih banyak, jadi suruh saya buang saja." Suara Xiaolu makin mengecil.
Wajah Liu Ruyan langsung berubah, matanya membelalak marah. "Berani-beraninya kau!"
Dulu, Liu Ruyan tidak pernah semarah ini, tapi belakangan ia jadi makin mudah tersulut emosi.
Bentakannya yang tiba-tiba hampir membuat Xiaolu berlutut di tempat.
"Siapa dia sampai kau menuruti semua ucapannya?"
Xiaolu gemetar ketakutan. "Nyonya, karena Tuan Muda punya penyakit lama, kami takut membuatnya tersinggung, jadi..."
Liu Ruyan mengerti juga, ia menghela napas dan melambaikan tangan. "Sudah, rapikan saja dulu. Nanti kalau suamiku pulang, akan kuatur lagi."
"Baik."
Wajah Liu Ruyan tampak sangat lelah. Setelah sarapan seadanya, ia kembali sibuk mengurus urusan rumah.
Pada saat itulah, Ye Mu datang tanpa permisi.
Kedatangannya pas saat melihat barang-barangnya sedang dibereskan untuk dibuang. Wajahnya langsung jatuh. "Kakak ipar, kau sedang apa?"
Liu Ruyan perlahan menengadah, pandangannya pada Ye Mu kini berbeda: dingin dan penuh jarak.
Ye Mu pun menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Dengan wajah penuh keluhan, ia meraih lengan Liu Ruyan. "Kakak ipar, apakah aku berbuat salah? Aku minta maaf, jangan marah padaku, ya?"
Selama ini, Liu Ruyan selalu tak berdaya menghadapi sikap manja dan penurut Ye Mu.
"Kau ke sini mau apa?" tanya Liu Ruyan dengan tatapan penuh selidik, sembari menarik lengannya dengan paksa.
Ye Mu rupanya menyadari perubahan sikap Liu Ruyan, kegelisahan pun melintas di matanya, namun segera ia pasang senyum lagi.
"Kakak ipar, aku tahu kau pasti sedih setelah Abang kena racun. Kau tampak lebih kurus sekarang. Pagi-pagi sekali aku sudah membuatkan kue bunga sedap malam untukmu, coba cicipi."
Setelah Liu Ruyan mencicipi sepotong, Ye Mu bertanya dengan senyuman, "Enak, kan?"
Liu Ruyan berbisik lirih, "Enak, tapi pasti bukan kau yang buat."
Ye Mu menjawab, "Aku tahu kue bunga sedap malam di toko itu memang enak, makanya aku sengaja belajar membuatnya. Aku tahu aku tak bisa menandingi Abang. Dulu ia rela belajar memasak demi kau, aku pun ingin melakukan sesuatu agar kau bahagia."
Liu Ruyan bertanya pelan, "Kenapa kau selalu membandingkan dirimu dengan suamiku?"
Ye Mu tertegun. Saat menatap mata Liu Ruyan, ia menemukan kedalaman yang asing. "Kakak ipar, hari ini kau aneh sekali."