12. Hantu Perempuan dalam Mimpi
Qiu Bailu ingin meminta bantuanku untuk melihat temannya, katanya gadis itu dibuat kelimpungan oleh kejadian yang diduga berbau gaib.
Baru saja ia membuka mulut, aku buru-buru memotongnya,
"Urusan semacam ini cari orang lain saja, aku ini penarik mayat, bukan ahli penangkap hantu."
"Oh, bukankah itu mirip-mirip saja?"
Belum sempat aku membalas, ia sudah menimpali,
"Orangnya ada di luar, kubawa kemari untuk menemuimu, kalian bicarakan saja nanti!"
Selesai berkata, ia segera bergegas keluar, tak sempat lagi aku mencegahnya.
Tak lama kemudian, seorang gadis tinggi digandeng masuk oleh Qiu Bailu.
Gadis itu dengan enggan menggerutu, "Aku juga tidak bilang ini kejadian gaib, mungkin cuma mimpi buruk biasa."
"Sudah terlanjur ke sini, dengarkan saja aku, ceritakan masalahmu pada kakak tampan ini. Dia hebat, berhati baik, juga rupawan..."
Aku berdeham, menelan kembali kata-kata penolakan tegas yang semula hendak kuucapkan.
Qiu Bailu memaksa gadis itu duduk di bangku hadapanku, kemudian kami saling berkenalan.
Namanya Zhou Yan, teman sekelas Qiu Bailu, berwajah putih bersih—tapi, rona kulitnya bukan putih natural, melainkan hasil terpapar aura gaib, yang dalam istilah orang awam disebut terkena pengaruh makhluk halus.
Namun, kondisinya belum terlalu parah.
Pengalaman bertahun-tahun menarik mayat membuatku mampu mengenali hal itu dalam sekejap, meski kemampuanku terbatas hanya sampai di situ.
Kata kakek, hendak menilai nasib baik buruk seseorang, apalagi menilai hidup mati, itu keahlian dukun khusus dalam keluarga Wang Si, yang meskipun satu aliran dengan kami, namun warisannya jauh lebih tertutup.
Kakek dan Pak Chen hanya pernah belajar sedikit, tak mampu mengajariku lebih jauh.
Soal apakah suatu saat aku dapat mempelajarinya, tergantung keberuntunganku sendiri.
Setelah duduk, Zhou Yan mulai menceritakan keanehan yang dialaminya—
Sekitar sebulan lalu, tiap malam tidur, dalam dua-tiga hari sekali ia bermimpi didatangi seorang wanita berambut awut-awutan, wajahnya tak jelas, berdiri di hadapannya sambil menangis, berbisik seolah memohon sesuatu.
Tapi tiap kali bangun, Zhou Yan hanya ingat kejadian itu, sama sekali tak bisa mengingat apa yang diucapkan wanita itu.
Awalnya ia kira cuma mimpi buruk biasa, namun mimpi itu terus berulang, dengan tempat dan tokoh yang persis sama.
Bahkan belakangan, setiap kali ia tidur, pasti mimpi itu datang!
Yang lebih aneh, di awal wanita itu hanya berlutut di halaman, kemudian berpindah ke depan jendela, lalu masuk ke dalam rumah, dan kini, wanita itu sudah sampai di tepi ranjangnya...
"Soal Zhou Yan sering mimpi buruk, aku sudah lama tahu, dulu kukira karena stres kerja saja. Tapi setelah beberapa hari lalu ikut kamu menarik mayat, aku baru percaya hal-hal gaib memang benar ada..."
Qiu Bailu menatapku penuh perasaan, lalu melanjutkan,
"Jadi aku pikir, mungkin saja Zhou Yan benar-benar ketempelan sesuatu yang tidak bersih. Maka hari ini kusengaja membawanya menemuimu, tolong periksa keadaannya!"
Untuk memastikan apakah betul kena pengaruh gaib, caranya mudah saja. Aku minta Zhou Yan memotong sepotong kukunya, lalu memanggangnya di atas lilin.
Tak lama, dari kuku yang hangus itu merembes cairan hitam pekat.
"Shui Sheng, apa yang terjadi ini!"
Qiu Bailu menjerit kaget.
Aku tak langsung menjawab, terus membakar kuku itu hingga cairannya menguap jadi asap hitam. Setelah kuhirup sedikit, aku pun paham.
"Jadi... Zhou Yan, ya? Memang benar kamu sedang diikuti arwah wanita!"
Kujelaskan pada mereka, kuku dan rambut manusia adalah bagian paling peka bagi makhluk gaib; jika pernah bersentuhan langsung dengan arwah, pasti akan tertempel jejaknya dan butuh waktu sebelum hilang.
Seperti Zhou Yan yang berkali-kali memimpikan arwah wanita itu, jelas kukunya menyimpan banyak aura gaib.
Aura tersebut akan terurai jika terkena api, makanya kugunakan cara tadi untuk memeriksa.
— Sebenarnya aku sudah tahu sejak pandangan pertama bahwa ia terkena pengaruh gaib, tapi proses pemeriksaan barusan kulakukan agar Zhou Yan percaya padaku, agar pembicaraan berikutnya bisa lebih mudah.
"Selain itu, yang mengikutimu adalah arwah air," kataku sambil menatap Zhou Yan.
Wajah Zhou Yan berubah pucat, terkejut, "Bagaimana kamu tahu itu arwah air?"
"Mayat yang lama berada di satu tempat, jiwanya akan membawa aroma khas—kalau tercium bau tanah, berarti mayatnya dikubur di darat. Tapi barusan yang kuendus adalah bau lumpur basi, itu tandanya arwah air."
Qiu Bailu menarik napas dalam-dalam, "Maksudmu, jasad wanita itu sekarang juga masih di dalam air?"
Aku mengangguk, menatap Zhou Yan yang kini gemetaran,
"Tidak perlu terlalu takut. Jika arwah wanita itu hanya mendatangimu lewat mimpi, berarti raganya tak bisa menjangkau, jadi ia pun tak bisa menyakitimu. Lagipula dari ceritamu, ia sepertinya sedang minta tolong padamu!"
Mendengar penjelasanku, Zhou Yan mulai tenang, mengingat-ingat,
"Tapi aku bahkan tidak tahu siapa dia. Dalam mimpi, wajahnya seperti tertutup kabut, tidak tampak sama sekali."
Aku mengangguk, "Sebenarnya kamu sudah melihat wajahnya dalam mimpi, hanya saja kekuatan arwahnya terlalu lemah, sehingga tak meninggalkan kesan, dan setelah bangun kamu pun lupa."
Zhou Yan terdiam.
Qiu Bailu menyela, "Lalu, apa yang sebaiknya kami lakukan sekarang?"
Aku menatap Zhou Yan,
"Kalau kamu hanya ingin berhenti mimpi buruk, mudah saja, cukup bawa benda pusaka yang sudah diberkati. Tapi… pernahkah kamu bertanya, kenapa arwah itu memilih mendatangimu dalam mimpi, bukan orang lain?"
Zhou Yan tampak ragu, "Maksudmu..."
"Kekuatan arwah itu sangat lemah, ia bisa masuk ke dalam mimpimu pasti karena ada ikatan tertentu antara kalian—bisa jadi saudara atau temanmu. Jadi, mau menolongnya atau tidak, keputusan ada padamu."
Zhou Yan menatapku dengan bingung,
"Tuan Zhao, menurutmu apa yang sebaiknya kulakukan?"
"Aku hanya penarik mayat, bekerja sesuai bayaran, terserah pilihanmu, tugasku hanya menjelaskan situasinya." Aku mengangkat bahu.
Zhou Yan menoleh ke arah Qiu Bailu.
Qiu Bailu mengangguk mantap.
Zhou Yan menggigit bibir, lalu berkata padaku, "Kalau begitu, aku ingin mencoba menolongnya!"
"Baik, langkah pertama adalah mencari tahu siapa dia dan apa permintaannya... Tunggu sebentar, akan kuberikan sesuatu padamu."
Aku berdiri, mengambil kertas kuning dan bilah bambu, lalu membuat sebuah "lentera" sederhana.
Seni melipat kertas memiliki empat cabang utama: manusia kertas, kuda kertas, jimat kertas, dan perahu kertas, masing-masing dengan fungsi berbeda.
Seperti bunga buah yang pernah kuberikan pada Ye Qingshan, dan lampu penenang arwah di tanganku sekarang, keduanya termasuk jimat kertas. Dengan kemampuanku saat ini, hanya jenis sederhana seperti inilah yang bisa kubuat.
Manusia dan kuda kertas, sampai sekarang pun aku tak berani mencoba.
Kuserahkan lentera penenang arwah itu pada Zhou Yan, berpesan,
"Nanti malam saat tidur, gantungkan lentera ini di tepi ranjang, lalu nyalakan sebatang lilin di dalamnya. Dengan begitu, jika arwah air itu kembali masuk ke mimpimu, auramu tidak akan membuyarkan kehadirannya, sehingga kamu tak akan lupa pesan yang disampaikan dalam mimpi."
"Ingat, cari tahu siapa dia, apa yang dikatakannya padamu, dan juga tempat kalian bertemu—semakin lengkap, semakin baik. Kalau semuanya jelas, besok datanglah lagi menemuiku!"
Zhou Yan menyimpan lentera itu dengan hati-hati, menatapku penuh rasa terima kasih,
"Tuan Zhao, Anda benar-benar orang baik, terima kasih!"
Setelah berkata demikian, ia berdiri hendak pergi.
"Tunggu!" Aku buru-buru menahannya.
"Ada pesan lain, Tuan Zhao?"