Putri Pendeta Qian
“Benar, Tuan Shen, saya juga ada di tempat kejadian, bisa menjadi saksi!” Dazhuang juga segera berkata.
Wajah Shen Hai berubah-ubah, ia mengulurkan tangan padaku dan berkata, “Biar kulihat ponsel itu!”
Jarak antara aku dan Shen Hai sekitar sepuluh meter. Baru saja aku melangkah beberapa langkah, tiba-tiba Pendeta Qian mengeluarkan segenggam uang logam kuno dan menaburkannya ke tanah.
Uang-uang logam itu seolah hidup, bergulir menuju ke arahku. Aku menginjak salah satunya, terjatuh ke tanah, dan ponselku ikut terlepas.
Saat aku hendak mengambil ponsel itu, uang-uang logam tiba-tiba melompat dan menghujani wajahku.
Rasanya memang tidak terlalu sakit, tapi cukup menghalangi gerakanku. Di telingaku terdengar suara Pendeta Qian:
“Kalian masih bengong? Cepat rebut ponsel itu!”
Anak-anak murid di belakangnya segera bergerak, serempak menerjang ke arah ponsel.
“Ayo, teman-teman, bantu aku!” teriak Dazhuang. Seketika, tujuh atau delapan satpam di belakangnya langsung menyerbu.
Awalnya kedua belah pihak hanya saling berebut ponsel, tapi lama-kelamaan pertikaian fisik pun pecah.
Terutama Dazhuang dan Li Tua, mereka secara bergantian menghajar beberapa pendeta muda hingga tersungkur...
Awalnya aku sempat khawatir pendeta Qian punya lebih banyak orang, aku sendiri mungkin akan rugi. Tapi sekarang aku lega, paling buruk pun jadi satu lawan satu.
“Tuan Shen, meski tak melihat foto itu, masih ada cara lain. Bukankah Anda selalu mengira yang ada di dalam peti mati itu istri Anda? Buka kainnya dan lihat sendiri, semuanya pasti jelas!”
Aku menatap Shen Hai yang berdiri terpaku di tangga, mengingatkannya.
Shen Hai seperti baru tersadar, langsung mengulurkan tangan hendak membuka kain penutup peti, namun tangannya ditahan erat oleh Pendeta Qian.
“Tuan Shen, kita sudah bekerja sama bertahun-tahun, apakah Anda lebih percaya pada fitnah orang luar?”
Jika sebelumnya Shen Hai masih ragu dengan ucapanku, maka rangkaian tindakan aneh Pendeta Qian ini jelas membuatnya semakin goyah. Ia pun berkata dengan nada agak dingin, “Justru karena aku tak percaya padanya, aku ingin membuktikan bahwa kau tidak bersalah, hanya tinggal melihat sebentar saja, kenapa harus kau larang?”
Selesai bicara, ia mencoba membuka kain penutup dengan tangan satunya, tapi kembali dicegah Pendeta Qian.
“Pendeta Qian, kalau kau begini, aku benar-benar akan mencurigai dirimu!” ujar Shen Hai dingin padanya.
Pendeta Qian menatapnya dan menghela napas.
“Terserah kau saja, waktunya sudah tiba, aku tak ada waktu untuk berdebat!”
Pendeta Qian langsung menunjukkan jati dirinya, mendorong Shen Hai hingga terguling jatuh dari tangga.
Lalu ia menggunakan telapak tangannya yang sudah terluka, menekan ke arah peti mati, hendak melanjutkan ritual yang sebelumnya sempat kucegah.
Aku yang baru saja berhasil menerobos kerumunan, berusaha maju untuk menghentikannya. Tapi Pendeta Qian dengan santai melemparkan selembar jimat.
Sekonyong-konyong, angin dingin berhembus, membalikkan dupa dan mengaduk abu hingga membungkus seluruh tubuhku.
Aku seolah berada dalam kabut tebal, tak bisa melihat apa-apa.
“Seorang penarik mayat saja berani ikut campur urusanku? Nanti, setelah urusanku selesai, kau akan kubereskan!”
Setelah berkata begitu, Pendeta Qian kembali melanjutkan ritualnya tanpa peduli lagi padaku.
Aku bersusah payah bangkit dari tanah, namun ke manapun aku melangkah, abu dupa itu selalu mengikuti, membuatku tak bisa maju selangkah pun.
Dalam hati, aku benar-benar terkejut.
Inilah kali pertama aku menyaksikan ilmu kebatinan. Entah itu uang logam tadi, atau abu dupa yang kini menghalangiku, semuanya hanyalah benda-benda biasa, namun aku tak bisa berbuat apa-apa.
Sementara Pendeta Qian, dari awal hingga akhir, nyaris tak berpindah tempat.
Inilah perbedaannya!
Jika ia berhasil menuntaskan ritual pemindahan arwah, lalu menghadapiku dengan tangan bebas, mustahil aku bisa selamat.
Memikirkan itu, aku menggigit ujung lidah hingga berdarah, lalu menyemburkan darah tersebut ke arah abu yang beterbangan.
Darah ujung lidah memang sakti, angin dingin langsung berhenti, abu dupa pun perlahan jatuh ke tanah.
Aku segera melesat ke tangga. Namun tiba-tiba, sebuah bayangan hitam melintas di atas kepalaku.
Seorang pendeta muda, yang sebelumnya bertarung dengan Dazhuang, dilempar dari pundaknya tepat ke arah peti mati tempat anak perempuan Pendeta Qian berada.
Begitu cepat kejadiannya, hingga Pendeta Qian tak sempat bereaksi untuk mencegah.
“Byur...”
Ternyata di dalam peti itu penuh dengan air. Pendeta muda itu mendarat, memercikkan air ke mana-mana.
Ia segera berusaha bangkit, hendak melompati peti. Tiba-tiba tubuhnya bergetar hebat. Sambil menjerit aneh, ia meraih punggungnya, seolah ada sesuatu yang mencengkeram dari belakang.
Ia kehilangan keseimbangan, akhirnya terjatuh dari peti ke tangga.
Barulah aku melihat, di punggungnya menempel seorang perempuan berambut panjang, memakai gaun merah!
Keempat anggota tubuhnya seperti laba-laba, mencengkeram erat tubuh pendeta muda itu, mulutnya menempel di leher belakang, tampak seperti sedang mengisap sesuatu.
“Ah... ah...” jeritan menyayat dari pendeta muda itu membuat semua orang yang bertarung terhenti, menoleh ke arahnya.
Saat itu perempuan itu sudah menggigit leher pendeta muda, darah segar mengucur deras.
Lalu ia mendongakkan kepala, menarik sesuatu yang entah urat atau sumsum, dari leher korban, dan menelannya dengan lahap.
Ia menjilat bibirnya, tampak sangat menikmati.
Pendeta muda itu pun terkulai, jelas tak bernyawa lagi.
Seseorang telah tewas!
Dan perempuan yang membunuhnya jelas bukan manusia!
Setelah ia mengangkat kepala, barulah semua orang melihat wajahnya kering kerontang, benar-benar seperti kulit membungkus tengkorak, kedua matanya hanyalah rongga hitam, tanpa bola mata.
Itulah putri Pendeta Qian!
Sudah dua puluh tahun ia meninggal, tubuhnya telah membusuk dan mongering, menjadi mayat kering—mungkin inilah alasan kenapa Pendeta Qian ingin “menghidupkan” kembali putrinya.
Awalnya ia hanya terbaring pasrah dalam peti, menunggu ayahnya mencarikan tubuh baru sebagai wadah “kelahiran” kembali.
Siapa sangka, di saat genting, pendeta muda itu justru terlempar masuk.
Mayat kering adalah jenis zombie yang paling haus dan lapar, karena sudah lama tidak mendapatkan asupan kehidupan.
Energi manusia adalah santapan paling lezat baginya. Jika jaraknya cukup jauh, ia masih bisa menahan diri, namun kontak sedekat tadi seperti dengan pendeta muda itu, sudah pasti tak akan mampu menahan, hingga akhirnya ia melahap korbannya.
Begitu merasakan nikmatnya sumsum manusia, ia langsung menjadi liar.
Melihat mayat perempuan di depanku, aku teringat pada siang hari saat mengambil akar teratai arwah di kolam, sosok “hantu perempuan berbaju merah” yang menyerangku dari belakang, bukankah itu dirinya?
Hampir semua misteri kini terjawab.
Mayat perempuan itu berjongkok di atas peti mati, menatap orang-orang di bawah, tampak ragu antara ingin melompat memangsa atau takut.
Inilah yang membuatku yakin kekuatannya belum terlalu tinggi:
Semua makhluk jahat menyukai, sekaligus takut pada energi kehidupan manusia. Kadar energi yang bisa mereka hadapi tergantung tingkat kekuatan mereka sendiri.
Kini, di hadapan mayat perempuan itu, berdiri puluhan pria muda yang sehat, kadar energi kehidupan yang terkumpul jauh melampaui kemampuannya, membuat ia ragu untuk bergerak.
“Tolong... hantu... kabur!” entah siapa yang berteriak, orang-orang pun berhamburan lari.
Bukan hanya satpam dan pekerja, para pendeta muda pun banyak yang melarikan diri.
Dalam sekejap, aula besar itu hanya tersisa kurang dari sepuluh orang.
Aku langsung sadar bahaya mengintai. Orang semakin sedikit, energi kehidupan semakin tipis, tak akan sanggup menakuti mayat perempuan itu.
Benar saja, ia menjerit aneh dan hendak melompat, namun Pendeta Qian tiba-tiba memegang lehernya yang kurus kering, berteriak, “Xiaoyun, jangan buang-buang waktu, cepat kemari!”
Mayat perempuan itu sempat ragu, lalu menurut dan mengikuti ayahnya ke atas peti mati milik Li Juan.
Melihat ia akan membuka kain penutup sesuai arahan ayahnya, jantungku berdegup kencang.
Langkah terakhir ini, apa pun yang terjadi, tidak boleh sampai berhasil!