18. Satpam yang Terkena Racun Mayat
Aku berkata dengan nada tenang, “Kalian bicara apa sih, kami masih sehat, tak perlu kau selamatkan!” Kedua pria itu saling melirik, lalu berseru dengan suara tidak senang. “Yakin kalian sehat? Akhir-akhir ini, setiap malam tubuh kalian dingin seperti es, tidur pun tak peduli seberapa tebal selimutnya tetap tak berguna. Oh ya, di kedua sisi pusar kalian juga tumbuh bintik putih yang sangat gatal…” “Kalau tak ada gejala seperti itu, anggap saja aku tak pernah berkata apa-apa. Namun jika ada, ajal kalian sudah dekat!” Usai mengucapkan itu, aku berbalik dan melangkah pergi tanpa menoleh.
“Tunggu, Pak... maksudku, Guru! Jangan pergi!” Kedua pria itu buru-buru membuka gerbang besi dan mengejar, masing-masing menarik lenganku. “Guru, Anda bahkan tak mengenal kami, tapi bisa tahu keadaan kami?” kata pria berbadan besar dengan gugup. “Kondisi kalian terpampang jelas di wajah—jelas-jelas terkena racun mayat, dan gejala yang kusampaikan tadi adalah tandanya!” Aku tak sedang menakut-nakuti mereka. Saat diam-diam mendengar percakapan keluarga Lijuan dengan mereka, aku mengamati dari jauh, dan tanda-tanda racun mayat pada mereka sangat kentara.
Alasanku datang menemui mereka adalah karena hal itu, dan aku yakin mereka pasti akan memohon bantuanku. Tak ada orang yang mengabaikan nyawanya sendiri. “Jangan saling pandang seperti itu, orang biasa takkan bisa melihatnya. Angkat bajumu, biar kulihat pinggang kalian…” Mereka segera mengikuti perintahku, mengangkat seragam mereka.
“Ah!” Qiuyan menutup mulutnya dengan satu tangan, terkejut tak percaya. Di pinggang kedua pria itu, dengan pusar sebagai pusat, tumbuh barisan benjolan putih kecil di kedua sisi yang memanjang ke samping. Meski hanya beberapa kata mendeskripsikannya, kenyataannya, benjolan putih itu mirip telur serangga yang berkerumun, membuatku—yang tak punya fobia kerumunan—merinding melihatnya.
“Itu disebut ‘luka mayat’, tanda racun mayat yang mulai tampak. Setelah muncul, benjolan itu akan tumbuh setiap hari sepanjang satu-dua inci. Empat atau lima hari lagi, saat kedua ujungnya bertemu, kalian tamat!” Mendengar penjelasanku, kedua pria itu langsung tak kuat berdiri, berlutut di depanku, memohon agar kuselamatkan mereka.
“Guru, aku masih perjaka, aku tak mau mati!” ratap pria kurus. Pria berbadan besar menggaruk kepala, “Aku juga, padahal sudah lewat tiga puluh, masih perjaka. Sungguh, memegang tangan perempuan saja belum pernah...” Qiuyan menghentakkan kakinya, “Kalian ini, aneh-aneh saja! Mau minta tolong kok malah bahas perjaka segala!”
Aku membantu mereka berdiri. “Karena aku bisa menebak kondisi kalian, tentu aku juga bisa menyelamatkan kalian. Di ujung atap sana, ada tanaman paku atap?” “Ada, banyak sekali!” jawab mereka serempak. “Ambil beberapa, lalu siapkan semangkuk kecil darah ayam jantan dan dua ons beras ketan. Dengan tiga bahan itu saja cukup.” “Beras ketan, darah ayam... Semuanya ada di dalam perkebunan. Guru, tunggu sebentar, sepuluh menit lagi kami kembali!” Mereka lalu berlari masuk ke dalam kebun.
“Kenapa mereka bisa kena racun mayat?” tanya Qiuyan padaku. “Mana kutahu, nanti kita tanya saja.” “Kau ingin menggunakan kejadian ini untuk membujuk mereka agar membiarkan kita masuk?” Aku mengangguk, “Bukan hanya itu, orang biasa pun sulit terkena racun mayat. Jadi pasti ini berkaitan dengan penyelidikan kita.” “Begitu, ya.” Qiuyan tersenyum pahit, “Awalnya aku cuma ingin menolong Zhou Yan sedikit, tak kukira makin lama makin rumit. Ada orang hilang, ada satpam keracunan... Untung kau mau membantuku, kalau tidak aku pun tak tahu harus apa.”
Beberapa belas menit kemudian, kedua satpam itu kembali membawa bahan-bahan yang kuminta. “Darah ayam dan beras ketan juga ada di kebun?” Dua bahan itu memang umum, tapi kebun keluarga Shen rasanya bukan rumah tangga biasa, aku penasaran dari mana mereka mendapatkannya, dan begitu cepat pula. “Kalau hari biasa memang susah mencari, tapi beberapa waktu lalu Pendeta Qian menyuruh kami membeli beberapa bahan, termasuk beras ketan dan ayam jantan besar. Barusan kami sembunyi-sembunyi menyembelih seekor ayam...” Kuduga, Pendeta Qian itu pasti orang yang disebut wanita penjual anggur tadi.
Banyak hal mencurigakan dari dirinya, tapi tak cukup hanya dengan bertanya singkat. Aku bertanya pada mereka, “Saat mengambil bahan ini, kalian tak membuat gaduh kan?” Pria berbadan besar menggeleng, “Tenang, Guru. Pendeta Qian dan pengurus Liu sedang di aula, dua pintu besar dijaga kami berdua. Barusan kami pergi, tak ada seorang pun melihat.” Aku mengangguk, lalu mengolah bahan yang mereka bawa jadi adonan, dan mengoleskannya pada luka mayat di pinggang mereka.
Sebenarnya ini bukan metode tinggi, melainkan resep kuno para pencari mayat—seperti kakekku dulu yang memakai air acar untuk mengobati penyakit orang mati, kami para pencari mayat biasanya menggunakan barang sehari-hari untuk melawan hal gaib. Sederhana, tapi agak merepotkan. Sebenarnya, untuk menghilangkan racun mayat, para ahli boneka kertas punya cara lebih mudah—yaitu dengan jimat kertas! Satu lembar jimat penolak setan dicairkan saja sudah cukup. Namun aku belum sepenuhnya menguasai itu, dan alat menggambar jimat pun tidak kubawa, jadi terpaksa pakai cara tradisional.
“Bagaimana rasanya?” Setelah mengolesi, aku membalut pinggang mereka dengan kain kasa dan bertanya. “Hangat, tubuh langsung tak sedingin tadi!” “Benar, tadinya lemas, sekarang jauh lebih segar!” “Terima kasih, Guru!” Mereka sangat gembira.
“Ucapan terima kasih saja tak cukup, kasih kami juga manfaat nyata!” seru Qiuyan pada mereka. Aku tahu dia sengaja membantuku mempertegas permintaan. “Oh, benar juga. Tak pantas kalau Guru sudah repot-repot tapi tak kami balas. Guru, berapa upah yang Anda inginkan?” tanya pria berbadan besar sambil menggosok-gosok tangannya, tersenyum malu.
Aku tersenyum, “Kalian bukan orang kaya, upah tak perlu. Tapi aku ingin tanya sesuatu. Bagaimana kalian bisa terkena racun mayat, tahu?” Mereka menggeleng bingung. “Dari pertumbuhan luka mayat di pinggang kalian, aku perkirakan kalian terkena racun itu sekitar tiga-empat hari lalu. Ingat-ingat, apakah waktu itu kalian menyentuh sesuatu yang aneh… misal, mayat!” Dua satpam itu saling melirik, lalu menggeleng bersamaan. “Mayat? Tidak… eh, Dazhuang, jangan-jangan gara-gara peti mati Nyonya Shen…” Dazhuang, si satpam bertubuh besar, menghitung-hitung, lalu menepuk pahanya. “Ya, empat hari lalu kami memindahkan makamnya! Pantas saja waktu mengangkat peti, tubuhku terasa dingin sekali…”
“Nyonya Shen?” Qiuyan mengernyitkan dahi. “Bukankah dia sudah meninggal beberapa tahun lalu? Juga bukan meninggal di sini, kenapa harus dipindahkan makamnya?”