Bab 98 Pendakian Gunung (3)
Setelah memeriksa peralatan dan mengenakannya dengan cermat, Lu Jiming perlahan menuruni tebing dengan berpegangan pada tali. Ia tak melihat sorot mata dingin penuh dendam yang mengendap di mata Lu Mingyuan saat menatapnya turun sedikit demi sedikit.
Tak lama kemudian, sosoknya pun lenyap dari pandangan Lu Mingyuan, hanya menyisakan titik pengikat dan tali yang masih tegang. Memang benar seperti yang dikatakan Lu Mingyuan sebelumnya, posisi bunga edelweiss itu memang sangat menyulitkan. Lu Jiming telah mencoba berkali-kali, tetapi tetap gagal meraihnya.
Lu Mingyuan berjalan mendekati tebing, menatap tali di tanah yang terukir nama Lu Jiming. Ia mengulurkan tangan, meraba lembut nama itu. Saat itulah, suara riang Lu Jiming terdengar dari bawah.
“Mingyuan, aku mendapatkannya!”
“Benar-benar indah, aku akan segera membawanya untukmu. Percayalah, hari ini kaulah juaranya!”
Namun, kebahagiaan dalam suara Lu Jiming tak mampu menular pada Lu Mingyuan. Sebaliknya, tatapannya seolah membeku dalam es. Perlahan ia berkata, “Kau memang sangat menyebalkan...”
“Mengapa setiap kali sudah merebut segalanya, kau masih harus berpura-pura murah hati dan tak mementingkan diri sendiri?”
“Tahukah kau, semakin kau bersikap seperti itu, semakin tampak betapa lemahnya aku, betapa menyedihkannya aku!”
Hening pun menyelimuti dasar tebing. Lu Jiming tampaknya juga terkejut mendengar ledakan emosi tiba-tiba itu, hingga tak tahu harus berkata apa.
Lu Mingyuan tak peduli. Ia menarik napas dalam-dalam, matanya memerah, seolah ingin meluapkan sesuatu. Ia berkata, “Aku ingin memberitahumu sebuah rahasia...”
“Waktu aku berumur delapan tahun, ibuku tewas tenggelam karena mabuk.”
Ia tertawa lirih, “Sebenarnya waktu itu aku ada di sana.”
Malam dimana ia, karena kesal, melarikan diri dari rumah.
Tak ada yang tahu, ibunya keluar rumah malam itu untuk mencarinya.
Saat itu, ia bersembunyi di lorong gelap di pinggir sungai, menatap dingin ibunya yang berjalan sempoyongan sambil berlari, memanggil-manggil namanya.
Saat itu, ia sangat membenci wanita yang telah jatuh, yang hanya memberinya rasa sakit dan malu tak berkesudahan. Ia hanya bisa menggertakkan gigi dan memejamkan mata.
Walau dipanggil-panggil, ia tetap tak keluar.
Ibunya yang sudah mabuk itu, karena satu kelengahan, terjatuhlah ia ke sungai.
Ia mendengar suara kecipak air, dan dengan panik membuka mata.
Ibunya sedang berjuang di dalam air.
Lu Mingyuan membelalakkan mata, hendak berlari keluar memanggil bantuan, namun saat sampai di ujung lorong, seolah ada kekuatan misterius yang menahannya—
“Itu anak si sundal.”
“Ibunya wanita murahan, menjijikkan, jangan main dengannya.”
“Bu guru, aku tak mau duduk sebangku dengannya, dia kotor...”
Ejekan dan penghinaan yang diterimanya sejak kecil tiba-tiba memenuhi benaknya.
Di saat yang sama, terdengar pula suara dalam yang entah dari mana, membujuknya dengan lembut—
“Mengapa harus menolongnya?”
“Semua penderitaan ini datang darinya. Jika ia mati, kau tak akan lagi jadi bahan ejekan.”
“Kau dilahirkan karena keinginannya, maka biarlah kematiannya jadi keputusanmu...”
Wajah bocah lelaki yang tampan itu menatap hampa ke arah sosok yang berjuang di dalam air, setetes air mata jatuh dari matanya.
Namun langkah kakinya justru terus mundur.
Mundur ke dalam bayang-bayang kelam lorong itu.
Ia menutup telinga, memejamkan mata, berjongkok di ujung lorong...
Setelah menceritakan semuanya, ia tak merasakan sedih lagi, malah menghela napas lega.
Kini, mau tak mau ia harus bertindak.
Ia telah mengungkapkan rahasia terbesarnya, memutus jalan untuk kembali.
Akhirnya ia berkata, “...Kakak, sebenarnya aku menceritakan semua ini, hanya ingin memberitahumu.”
Tiba-tiba angin bertiup kencang, membawa dingin yang membekukan, menampar wajahnya.
“Kau selama ini selalu salah.”
“Aku bukan saudaramu, aku hanyalah seekor ular berbisa tanpa rasa.”
Suara Lu Jiming terbawa angin, menyapa telinganya, “Mingyuan...”
Dua kata singkat itu justru membuatnya semakin kalap, “Aku tak mau lagi menjadi Lu Mingyuan yang selalu kau tindas!”
Menatap tali di tanah, ia tak lagi ragu, mengambil pisau tajam yang sudah dipersiapkan sejak awal, lalu menghunuskannya ke tali bertuliskan nama Lu Jiming—
Tali yang tadinya tegang seketika mengendur, tertarik oleh beban di bawahnya, terjatuh... jatuh...
“Pluk—”
Sebuah suara berat menghantam salju, begitu mirip suara saat ibunya jatuh ke sungai dulu.
Segala sesuatunya telah berakhir.
Barulah Lu Mingyuan benar-benar kehilangan kekuatan, berlutut di tanah, dengan suara bergetar berkata lirih, “Kakak, maafkan aku.”
“Hutangku padamu, akan kubayar di kehidupan berikutnya.”
Namun Lu Jiming takkan pernah mendengarnya lagi.
Ia tergeletak di salju, darah hangat mengalir dari bagian belakang kepalanya, merahnya mencolok di antara putihnya salju.
Jiming, Jiming.
Nama itu berarti awan mendung telah sirna, matahari pun muncul.
Nama itu diberikan oleh Bai Suping, sebagai harapan terindah baginya...
Sepasang matanya yang dulu bening dan cerah masih terbuka, memantulkan matahari tinggi di langit.
Namun di sana, tak ada lagi senyum ramah dan kebaikan.
Yang tinggal hanya kehampaan kelabu yang beku...
Remaja unggul dan rendah hati, baik hati dan lembut, yang bahkan belum sempat menyatakan cinta pada orang yang disukainya...
Akhirnya gugur juga di salju.
Bai Suping yang biasanya lembut dan anggun, langsung pingsan saat mendengar kabar itu. Setelah sadar, ia bagaikan mayat hidup.
Lu Zhengcheng pun tampak menua dalam semalam.
Di saat inilah, Lu Mingyuan tampil penuh kedewasaan: mengurus dan menenangkan Bai Suping, serta mengatur pemakaman Lu Jiming...
Sedangkan Lu Zhengcheng, kini menatapnya dengan cara yang berbeda.
Menatap putra yang selama ini tak pernah ia anggap.
Putra yang kini menjadi satu-satunya yang tersisa.
Sebulan setelah kepergian Lu Jiming, akhirnya ia memanggil Lu Mingyuan ke ruang kerja.
Tak ada yang tahu apa yang mereka bicarakan hari itu.
Barulah menjelang senja, Lu Mingyuan keluar dari sana.
Ia kembali ke kamar, teringat pesan ayahnya barusan—
“Mulai hari ini, namamu adalah Lu Jiming.”
“Kau satu-satunya anakku.”
Ia berdiri di depan cermin, menatap wajah yang sedikit mirip dengan Lu Jiming.
Tersenyum.
Tersenyum seperti kakaknya dulu.
Ia berusaha menarik sudut bibirnya, namun tetap saja tak bisa menirukannya.
Tiba-tiba, ia teringat sesuatu, lalu mengambil sebuah foto dari laci.
Lu Jiming merangkul pundaknya, berdiri di depan pegunungan salju, tersenyum cerah.
Foto itu diambil pada hari itu.
Entah kenapa, ia selalu menyimpannya.
Lu Mingyuan menatap foto itu, menirukan senyum pada foto itu, menarik bibirnya.
Dengan contoh itu, kali ini ia berhasil.
Ia menatap cermin, melihat dirinya kini tersenyum cerah seperti Lu Mingyuan di foto.
Tidak, kini namanya Lu Jiming.
Ia tersenyum puas.
Kakak, terima kasih karena bahkan di akhir kau masih mau membantuku.
Ia tersenyum, lalu merobek foto di tangannya menjadi serpihan kecil.