Ouyang Ning
Setelah mengetuk pintu tiga kali, Xia Yuhua tidak melanjutkan, melainkan dengan sabar menunggu di luar. Tak lama kemudian, pintu perlahan terbuka.
Seorang bocah laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun mengintip keluar dari balik pintu. Setelah melihat Xia Yuhua, ia juga melirik ke belakangnya. Melihat hanya seorang pelayan perempuan yang menemani, barulah ia melompat keluar sepenuhnya.
“Kau siapa? Apa keperluanmu datang ke sini?” Cara anak laki-laki itu bertanya berbeda dengan kebanyakan anak-anak lain. Ia tidak bertanya siapa yang dicari Xia Yuhua, melainkan langsung bertanya tentang identitas dan tujuannya.
Bocah di hadapannya itu kira-kira seumuran dengan adik Xia Yuhua, Cheng Xiao. Xia Yuhua pun tersenyum lembut padanya dan berkata, “Adik kecil, bolehkah aku bertanya, apakah Tuan Ouyang tinggal di sini?”
“Aku tanya siapa kamu, ke sini ada perlu apa?” Anak itu sama sekali tidak mengindahkan pertanyaannya, malah mengulang pertanyaan dengan nada tidak sabar. Dari sikapnya, jelas jika Xia Yuhua tak menjawab, pintu akan segera ditutup lagi.
Melihat itu, Xia Yuhua pun mengerti situasinya. Ia tersenyum dan menjawab, “Namaku Xia Yuhua, aku datang untuk menemui Tuan Ouyang. Aku ingin memohon agar beliau sudi menerimaku sebagai murid.”
Begitu kalimat itu selesai, anak laki-laki itu langsung tertawa terbahak-bahak, seolah mendengar lelucon paling lucu di dunia. Ia tertawa tanpa henti, bahkan sampai memegangi perutnya yang terasa sakit karena terlalu banyak tertawa.
Melihat kejadian itu, Feng’er merasa sangat tidak senang. Sejak awal ia sudah menganggap anak ini tak punya sopan santun. Nona majikannya sudah begitu santun, tapi anak ini malah begitu kurang ajar. Ia hendak maju untuk menegur, tapi belum sempat berbicara sudah dihalangi oleh Xia Yuhua.
“Nona, Anda lihat sendiri...” Feng’er benar-benar merasa kasihan pada Xia Yuhua. Dulu sudah sering mendapat perlakuan dingin dari para bangsawan muda, tapi sekarang bahkan bocah yang giginya pun belum tumbuh lengkap berani bertingkah seperti ini. Padahal, para bangsawan muda itu akhirnya tetap tunduk pada Xia Yuhua. Masa harus takut pada bocah kecil seperti ini?
Xia Yuhua tetap tidak berkata apa-apa, hanya menggelengkan kepala pada Feng’er, memperingatkannya agar jangan gegabah.
Setelah anak itu puas tertawa dan akhirnya berhenti sendiri, Xia Yuhua dengan tenang kembali berkata, “Mohon adik kecil sudi menyampaikan pesanku. Aku sungguh-sungguh ingin belajar kepada tuanmu.”
“Kau bercanda? Berani-beraninya ingin belajar ilmu pengobatan dari tuan kami? Segeralah pulang, tuan kami tidak menerima murid sekarang, apalagi murid perempuan sepertimu.” Anak itu jelas tak mengenal Xia Yuhua, dan tawa tadi pun bukan karena hal lain, melainkan ia merasa perempuan di depannya benar-benar tak tahu diri. Ia mengira menjadi murid tuan rumah semudah makan nasi saja, benar-benar membuatnya tercengang.
“Apakah tuanmu bersedia menerima murid atau tidak, biarlah nanti diputuskan. Mohon, tolong sampaikan pesanku, biarkan aku bertemu beliau walau sebentar saja,” balas Xia Yuhua. Sejak awal ia memang sudah tahu hal ini tidak akan mudah, jadi ia tidak terkejut dengan keadaan sekarang.
“Tidak bisa, tidak bisa. Tuan kami sangat sibuk, mana mungkin punya waktu menerima tamu. Kalau setiap orang harus diterima, antrian di depan rumah pasti sudah sampai ke luar gerbang kota,” anak itu mengibaskan tangannya, menyuruh Xia Yuhua segera pergi.
“Maksudmu apa? Nona kami bukan orang sembarangan, beliau adalah—” Feng’er hendak memperkenalkan identitas Xia Yuhua dengan nada marah.
“Feng’er, jangan kurang ajar.” Xia Yuhua menoleh, memotong ucapan Feng’er. Lalu ia berkata pada anak laki-laki itu, “Kalau begitu, hari ini aku takkan mengganggu lagi. Mohon sampaikan pesanku pada tuanmu, besok aku akan datang lagi. Apapun yang terjadi, aku berharap bisa bertemu beliau walau sebentar saja.”
Anak itu memperhatikan penampilan Xia Yuhua yang anggun, diiringi pelayan berpakaian rapi. Jelas ia berasal dari keluarga terpandang. Namun sikap Xia Yuhua benar-benar berbeda, jauh dari sifat manja atau sombong, justru rendah hati dan tenang. Karena itu, kesannya terhadap Xia Yuhua jadi lebih baik.
“Melihat kau orangnya baik, aku ingin memberimu sedikit nasihat. Sebaiknya urungkan saja niatmu itu, supaya tidak membuang tenaga percuma. Tuan kami tidak mungkin menerimamu sebagai murid, bahkan bertemu saja mungkin tidak. Lebih baik kau kembali ke urusanmu sendiri, belajar ilmu pengobatan bukan untuk orang sepertimu.” Anak itu bicara seperti sudah sering menghadapi kasus serupa, ucapannya sangat dewasa untuk anak seusianya.
“Terima kasih atas nasihatmu, tapi tekadku untuk belajar pengobatan sudah bulat dan tidak akan berubah. Soal apakah tuanmu mau menerimaku, itu hak beliau, aku tak akan memaksa. Namun aku tetap akan datang setiap hari untuk memohon bertemu,” jawab Xia Yuhua sambil tersenyum pada anak itu, lalu berbalik bersama Feng’er meninggalkan tempat itu.
Melihat punggung Xia Yuhua yang menjauh, anak itu hanya menggeleng tak acuh, lalu masuk dan menutup pintu. Suasana di sekitar halaman kembali sunyi seperti semula.
Dulu orang seperti itu memang sering datang, tetapi tuannya tak pernah membuat pengecualian. Semua akhirnya menyerah. Dalam dua tahun terakhir, tak ada lagi yang berani datang sembarangan seperti ini.
Setelah kembali ke halaman belakang, anak laki-laki itu menghampiri seorang pria berbaju putih yang sedang sibuk di kebun obat.
“Tuan, coba tebak siapa yang tadi datang ke sini?” tanyanya.
Pria berbaju putih itu tidak menanggapi pertanyaan itu, tetap sibuk dengan kegiatannya: mencabut rumput liar, menyiram tanaman obat, dan merawatnya dengan saksama.
“Tuan, Anda selalu seperti ini, seolah-olah tak ada yang menarik bagi Anda.” Anak itu agak mengeluh, tetapi naluri anak-anaknya tetap ingin bercerita. “Sudahlah, aku tak akan membuatmu penasaran. Tadi ada seorang perempuan datang ke depan, aneh sekali, katanya ingin menjadi murid Anda. Tapi sudah kuusir pergi.”
Ternyata, pria berbaju putih itu bukan orang lain selain pemilik halaman ini, tabib terkenal yang ingin ditemui Xia Yuhua—Ouyang Ning.
Ouyang Ning seperti tidak mendengar, tetap tidak menanggapi anak itu, namun di wajahnya yang membelakangi anak itu tersungging senyum lembut.
Anak itu menggaruk-garuk kepala, lalu beralih ke depan Ouyang Ning, membantu mencabut rumput di sela-sela tanaman, sambil berkata penuh minat, “Tuan, Anda harus tahu, perempuan itu cukup cantik, kira-kira berumur empat belas atau lima belas tahun, sikapnya juga baik, walau sudah kucemooh ia tidak marah. Dia bilang, bertemu atau tidak itu hak Anda, tapi ia akan datang setiap hari.”
“Gui Wan, kau lagi-lagi bertindak tanpa izin,” akhirnya Ouyang Ning angkat bicara, meski tak jelas apakah ia sedang menegur atau setengah menyetujui. Satu hal yang pasti, ia sama sekali tak memperhatikan perempuan yang disebut oleh Gui Wan.
“Tuan, menurutku, kakak perempuan itu mungkin sebenarnya bukan ingin belajar pengobatan dari Anda.” Gui Wan menyeringai nakal pada Ouyang Ning. “Menurutku, ia pasti mengagumi kecerdasan dan ketampanan Anda, jadi mencari-cari alasan supaya bisa bertemu.”
“Jangan banyak bicara, di apotek masih banyak obat yang harus kau tumbuk. Kalau kau terlalu santai, nanti aku akan menambah pekerjaanmu.” Ouyang Ning berkata datar, lalu berdiri sambil menepuk-nepuk tangan, seolah benar-benar hendak mengambil bahan obat lagi.
Gui Wan terkejut, segera bangkit dan berlari ke arah apotek, sambil berteriak, “Jangan, jangan, aku segera ke sana, aku akan bekerja sekarang!”
“Oh ya, Tuan, perempuan itu bilang namanya Xia Yuhua.” Anak itu memang tidak bisa diam, sudah hampir tak kelihatan, tapi masih sempat berteriak sambil tersenyum, “Tuan, menurutku, dia memang cantik sekali!”