Bab Empat Puluh Delapan: Tubuh Baja Emas
Meskipun telah melihat dengan jelas tipu muslihat Jiang Shanghe, namun karena mereka semua adalah guru dari Akademi Ilmu Bela Diri Shengwu dari ibu kota kekaisaran, Ye Hongdao malas untuk menegurnya. Setelah para penonton yang hadir kembali sadar, ia kembali bersuara, “Delapan puluh pemuda berbakat yang akan mengikuti pertandingan resmi telah terpilih. Selamat kepada kalian yang berada di atas arena. Semoga kalian dapat melangkah lebih jauh pada pertandingan resmi mendatang.
Adapun bagi kalian yang tereliminasi, jangan berkecil hati. Kekaisaran Daya adalah negeri yang terbuka pikiran. Meski kalian belum naik ke arena yang baru, kalian telah membuktikan diri di arena kota masing-masing. Masa depan kalian tidak akan suram. Baik Akademi Ilmu Bela Diri Shengwu maupun militer kekaisaran akan selalu menyambut kalian. Jika kalian tidak menyerah dan terus berusaha, kelak pasti akan menuai kesuksesan dan kehormatan!”
Setelah mengucapkan selamat kepada delapan puluh peserta di arena, dan menghibur sembilan puluh peserta yang tereliminasi, Ye Hongdao pun mengumumkan, “Baiklah, sekarang silakan delapan puluh pemuda berbakat yang berada di arena menuju tempat undian. Setelah undian, pertandingan resmi pertama akan segera dimulai!”
Upacara undian yang bentuknya hampir sama dengan yang diadakan di Kota Wanghai ini dipimpin langsung oleh Yang Mulia Putri Cai Pu. Delapan puluh peserta yang lolos babak penyisihan satu per satu mengambil undian berupa sebatang bambu dari tabung yang disediakan di hadapannya.
Kali ini nasib Lin Yisheng sangat baik, ia kembali mendapatkan undian nomor satu, yang berarti ia harus tampil pertama di pertandingan resmi tingkat kabupaten.
Tak banyak bicara, Lin Yisheng tidak mendatangi kursi penonton tempat Shenggu Hongye dan yang lainnya duduk, melainkan tetap menunggu di tengah arena untuk naik ke atas panggung.
Setelah semua peserta mengambil undian, Guru Fengshan berdiri dan mengumumkan, “Silakan peserta yang mendapatkan nomor satu dan dua naik ke arena!”
Lin Yisheng mengangkat tinggi batang bambu bertanda nomor satu di tangannya, sedangkan lawannya, yang mendapatkan nomor dua, adalah seorang pria bertubuh cukup kurus.
Menurut data yang dikumpulkan Li Yi dan kawan-kawan, pria itu bernama Zhang An, berasal dari kota kecil bernama Songlin yang jumlah penduduknya kurang dari seratus ribu jiwa. Tingkat kultivasinya hanya pada tahap pertama ranah Transformasi Dewa.
Zhang An adalah rakyat biasa, bukan berasal dari keluarga kaya atau bergabung dengan sekte manapun. Dalam usianya yang telah menginjak dua puluh tahun, ia hanya mengandalkan satu buku ilmu bela diri tingkat menengah yang didapat secara kebetulan saat kecil dan belajar sendiri. Tanpa bimbingan siapa pun, mampu mencapai tahap pertama Transformasi Dewa saja sudah luar biasa.
Merasa dirinya jenius, Zhang An dengan penuh semangat mengikuti pertandingan arena Shengwu di Kota Songlin, dan berhasil masuk sepuluh besar. Sebelumnya, ia juga berhasil mengandalkan keunggulan pergerakan dan kecepatannya untuk menghindari lawan-lawan yang berniat buruk, hingga akhirnya berhasil naik ke arena dan menjadi salah satu dari delapan puluh peserta. Tak disangka, pada pertandingan resmi pertama ia langsung bertemu dengan salah satu dari sepuluh unggulan, yang dijuluki “monster berbentuk manusia”, Lin Yisheng.
Semangat Zhang An langsung anjlok.
Tiga hari lalu, di kediaman putri, Zhang An sudah melihat sendiri betapa dahsyat kekuatan pukulan Lin Yisheng, dan tahu bahwa jika ia menerima satu pukulan saja secara langsung, pasti tubuhnya akan hancur berkeping-keping. Tadi ia juga menyaksikan Lin Yisheng mengamuk di arena, mengalahkan sembilan peserta dari Kota Yanyang sekaligus, hampir saja menyingkirkan unggulan lain bernama Song Zhong yang tingkat kultivasinya sudah mencapai tahap pertama ranah Pembukaan Saluran. Dari situ Zhang An sadar, pergerakan dan kecepatan yang selama ini ia banggakan pun, di hadapan Lin Yisheng, tak akan berarti apa-apa.
Tak rela kalah begitu saja, Zhang An menggertakkan gigi, lalu mengeluarkan senjata andalannya dari kantong ruangannya.
Senjata itu tidak memiliki aura spiritual, jadi bukan senjata roh, sehingga boleh digunakan secara sah di atas arena.
Namun, saat para penonton melihat senjata andalan Zhang An, mereka pun ramai membicarakannya.
Pasalnya, senjata andalan Zhang An adalah sebuah gada berduri!
Panjangnya sekitar satu setengah depa, tebalnya sebesar lengan, kecuali pada bagian pegangan sepanjang tiga puluh sentimeter di bawahnya, seluruh permukaan gada itu dipenuhi duri-duri runcing sepanjang lima sentimeter yang tampak seperti terbuat dari logam murni. Pada ujung gada pun menonjol sebuah duri panjang sepuluh sentimeter menyerupai tombak.
Gada berduri seperti ini benar-benar senjata pembunuh!
Aturan pertandingan arena Shengwu memang memperbolehkan penggunaan senjata biasa selama bukan senjata roh. Gada berduri milik Zhang An bukan senjata roh, jadi boleh digunakan.
Sedangkan Lin Yisheng hanya bisa melawan dengan tangan kosong.
Baik Pedang Bayangan Mutlak maupun Pedang Tujuh Pembunuh milik Lin Yisheng adalah senjata roh, jadi tidak boleh dibawa ke arena!
Secara logika, selama sudah mencapai ranah Pembukaan Saluran, seseorang sudah mampu menarik energi langit dan bumi ke dalam tubuhnya. Kedua tangan yang dilindungi energi tersebut bisa menghadapi senjata biasa secara langsung tanpa takut terluka. Bahkan jika sudah berada di ranah Pemahaman Mendalam, konon bisa menahan senjata roh dengan tangan kosong. Karena itulah, ketika Kaisar Agung Li Xiong dahulu menetapkan aturan pertandingan arena Shengwu, ia tidak melarang penggunaan senjata, asalkan bukan senjata roh maupun senjata rahasia.
Meskipun Lin Yisheng jauh lebih kuat daripada siapa pun di tahap sepuluh ranah Penguatan Tubuh, ia tetap bukan benar-benar memiliki tubuh tak tertembus, tanpa perlindungan energi langit dan bumi, tangan kosongnya belum tentu bisa menahan gada berduri penuh taring tajam itu!
Hampir semua penonton di bawah, termasuk Zhang An di atas arena, berpikiran seperti itu.
Namun, wajah Lin Yisheng sama sekali tak memperlihatkan kekhawatiran, ia juga tidak mengeluarkan senjata dari kantong ruangannya, benar-benar berniat melawan gada berduri Zhang An dengan tangan kosong!
Memang benar, Lin Yisheng memang berencana melawan gada berduri Zhang An dengan tangan kosong.
Saat masih di pulau, Lin Yisheng pernah bertemu kawanan serigala angin kencang berjumlah lebih dari lima puluh ekor, semuanya merupakan binatang buas tingkat dua, bahkan sang raja serigala adalah binatang buas tingkat tiga puncak.
Tak ada jalan keluar, Lin Yisheng terpaksa mengeluarkan Pedang Tujuh Pembunuh dan menggunakan teknik unsur tanah untuk bertarung melawan kawanan serigala itu.
Setelah membunuh lebih dari tiga puluh ekor, ia sempat tak sengaja digigit lengannya oleh seekor serigala angin kencang. Hasilnya, gigi serigala itu malah patah, sementara lengan Lin Yisheng sama sekali tidak terluka.
Bahkan, sang raja serigala tingkat tiga puncak pun sempat berhasil menggigit paha Lin Yisheng.
Namun Lin Yisheng mengencangkan otot pahanya, menahan gigitan raja serigala itu, lalu menebas kepala sang raja serigala dengan satu tebasan.
Saat itu, Lin Yisheng baru saja mencapai tahap empat belas ranah Penguatan Tubuh!
Baru tahap empat belas, tapi saat ototnya dikencangkan, bahkan raja serigala angin kencang tingkat tiga puncak pun tak mampu melukai kulitnya. Kini Lin Yisheng sudah mencapai tahap sembilan belas ranah Penguatan Tubuh, kekuatan otot tubuhnya sudah jauh berbeda dibanding dulu, masakan ia perlu takut pada gada berduri Zhang An!
Lin Yisheng yakin, dengan kekuatan tubuhnya sekarang, jika ototnya dikencangkan, bahkan harimau api ganas tingkat empat, bahkan beruang bumi tingkat lima puncak sekalipun, tak akan mampu menggigit kulitnya.
Zhang An memang telah mencapai ranah Transformasi Dewa, tapi baru tahap pertama. Menggunakan gada berduri yang tampak mengerikan tapi hanyalah senjata biasa, sekuat apa pun ia memukul, seberapa besar kekuatan yang bisa dihasilkan?
Paling banter, kekuatannya setara gigitan raja serigala angin kencang!
Maka, saat Zhang An mengayunkan gada berduri ke arahnya, Lin Yisheng tak menghindar, melainkan langsung mengayunkan kepalan tangannya untuk menyambut.
Lalu, di bawah tatapan terkejut para penonton, tinju Lin Yisheng menyingkirkan duri tajam di ujung gada, mematahkan gada itu, dan membuat Zhang An bersama sisa gada yang tinggal setengah bagian terpental jatuh lurus ke luar arena.
Hanya dengan satu pukulan, pertarungan pun berakhir!
Dan tangan Lin Yisheng, yang baru saja beradu keras dengan gada berduri, bahkan tidak lecet sedikit pun!
Anak muda ini, mungkinkah benar-benar telah memiliki tubuh tak tertembus?
Semua orang terdiam!