Bab Empat Puluh Tiga: Pembatalan Pertunangan, Sedikit Serakah

O Palácio do Primeiro-Ministro esquece a Graça? O tirânico 9000 anos força o Palácio para roubar a esposa! Nove Camadas Escarlates 2489kata 2026-08-03 10:13:02

Sekarang rasanya maju kena, mundur pun kena.
Ia hanya bisa memberanikan diri mengangguk seraya tersenyum canggung, "Ya, bisa dibilang begitu."
Komandan Chen merasa bingung, namun ia tetap dengan antusias mempersilakan Yu Qinghuang masuk ke dalam kediaman.
Sikapnya sangat baik, berpikir bahwa Nona Yu ini bagaimanapun pasti memiliki keistimewaan tersendiri.
Mengikuti Komandan Chen memasuki Kediaman Sang Pangeran.
Orang-orang selalu bilang bahwa Wei Yinghuo gemar menyingkirkan orang yang berbeda pendapat dan haus darah. Kediaman sang pangeran telah lama menjadi ruang interogasinya, tempat di mana tumpukan mayat dan lautan darah serta tulang belulang berserakan.
Ini adalah pertama kalinya ia masuk ke sini. Sembunyikan keterkejutannya, ia menyapu sekeliling dengan ekor matanya. Tempat ini sebenarnya tidak semengerikan yang digambarkan oleh rumor di luar.
Ukurannya tidak berbeda dari kediaman para bangsawan pada umumnya, hanya saja terasa kurang semarak. Sepanjang jalan ia tidak berpapasan dengan banyak pelayan. Meskipun tidak melihat orang, Yu Qinghuang dapat dengan tajam merasakan bahwa pasti ada banyak ahli bela diri yang tersembunyi di sudut-sudut kediaman ini.
Ia dipandu oleh Komandan Chen menuju tempat yang mirip seperti arena latihan bela diri.
Di atas panggung batu, ada dua orang yang sedang bertarung sengit. Wajah kedua orang itu ditandai sebagai tahanan terhukum, tubuh mereka bersimbah darah dan terluka parah di beberapa bagian akibat sabetan lawan, namun tak satupun dari mereka yang menyerah. Tampaknya hanya yang menanglah yang bisa tetap hidup.
Sementara itu, di selasar tepat di depan panggung batu, duduklah Wei Yinghuo. Ia bersandar malas pada sandaran kursi.
Putra Mahkota berdiri di sampingnya. Orang yang tadinya tampak sangat murka itu kini bagaikan balon yang kempes, sama sekali kehilangan tabiat gilanya yang beringas.
Yu Qinghuang mencemooh dalam hati. Bagaimana ia bisa lupa, pria itu pada dasarnya hanyalah macan kertas.
Alasan mengapa ia bisa mendaki hingga posisi saat ini semuanya berkat jerih payahnya sendiri.
Komandan Chen maju dan membisikkan sesuatu di telinga Wei Yinghuo.
Wei Yinghuo bahkan tidak mendongak, ia hanya mengaitkan jarinya yang ramping bagai giok.
Komandan Chen mengangguk memberi isyarat kepada Yu Qinghuang. Ia menarik napas dalam-dalam lalu melangkah maju.
Wei Jingheng tidak mau mengakui bahwa dirinya takut pada Wei Yinghuo, namun begitu melihat Yu Qinghuang datang, ia tidak ingin wanita itu melihat ketakutannya.
Ia berusaha membusungkan dadanya. "Aku butuh penjelasan."
Wei Yinghuo mendongak dengan penuh minat, menatap sang Putra Mahkota bergantian dengan Yu Qinghuang.
"Yang Mulia Putra Mahkota, penjelasan seperti apa yang Anda inginkan?"
"Di luar sana beredar rumor bahwa tunanganku, Yu Qinghuang, memiliki hubungan yang tidak bersih denganmu."
Mendengar itu, Wei Jingheng mengerutkan kening, tampak merasa agak malu.
"Sungguh menarik."
Wei Yinghuo akhirnya bangkit berdiri, menepuk-nepuk jubahnya. "Jika rumor itu benar, apa yang akan Yang Mulia lakukan?"
Ditatap langsung oleh kedua mata itu, Wei Jingheng menelan ludah.
"Bertarunglah denganku. Jika aku menang, kau tidak boleh lagi berhubungan dengannya."
Yu Qinghuang yang berdiri di samping hampir dibuat tertawa geli oleh pria ini. Membikin keributan tanpa alasan yang jelas, dan sekarang malah memperlakukannya sebagai alat tawar-menawar untuk memamerkan kekuatan dan kekuasaannya.
Tanpa menunggu Wei Yinghuo berbicara, Yu Qinghuang langsung memotong, "Aku tidak bersedia."
Setiap kata yang diucapkannya begitu tegas. "Berharaplah agar Yang Mulia bisa bersikap lebih dewasa. Dengan siapa aku berurusan adalah kebebasanku. Mengenai dengan siapa Putra Mahkota ingin bertarung, jangan jadikan aku sebagai alat taruhan. Anda tidak punya hak untuk menentukan jalan hidupku."
Jika bukan karena statusnya sebagai Putra Mahkota, Yu Qinghuang bahkan tidak ingin menjaga kesopanan dasarnya.
Tatapan Wei Yinghuo sedikit bergeser, lalu ia menatap Yu Qinghuang dan berkata, "Kedatangan Nona Yu kemari, apakah juga untuk meminta penjelasan?"
Yu Qinghuang merasa punggungnya mendadak dingin ditatap oleh pandangan itu. Pria ini adalah dewa pembunuh yang kejam, hampir saja ia terbuai oleh sikap pria itu di hadapannya sebelumnya.
Dia adalah sosok yang namanya cukup untuk membuat anak-anak di ibu kota berhenti menangis di malam hari.
Ia buru-buru membungkuk memberi hormat kepada Wei Yinghuo.
"Ini semua hanya karena Yang Mulia Putra Mahkota mendengarkan rumor belaka dan salah paham. Aku dan sang Pangeran sama sekali tidak memiliki hubungan apa pun."
Namun, tampaknya Wei Yinghuo tidak terlihat begitu senang mendengar jawaban tersebut.
"Kalian berdua sudah bisa pergi sekarang karena kesalahpahaman telah dijernihkan."
Jelas sekali ia tidak menyambut kedatangan mereka dan sedang mengusir mereka pergi.
Wei Jingheng masih ingin mengatakan sesuatu, namun pergelangan tangannya ditarik oleh Yu Qinghuang untuk menghentikannya. "Yang Mulia Putra Mahkota, jagalah ucapan Anda."
Ia sama sekali tidak berniat mati karena perbuatan orang bodoh ini.
Namun, ia tidak menyadari bahwa pandangan Wei Yinghuo tanpa sadar tertuju pada tangannya.
Menarik Wei Jingheng keluar dari halaman, Yu Qinghuang melepaskan tangan itu dengan ekspresi jijik.
"Qinghuang, aku tahu kau sebenarnya masih peduli padaku." Tindakan itu tampaknya kembali memicu kesalahpahaman di benaknya. "Asalkan kau tidak lagi berhubungan dengan Wei Yinghuo itu, aku juga berjanji padamu akan menjaga jarak dari Yu Qingwan."
Ucapan ini benar-benar tidak tahu malu.
Yu Qinghuang mendaratkan sebuah tamparan keras di wajahnya, membuat kepala pria itu menoleh ke samping.
"Jika ingin berulah, jangan bawa-bawa aku," kata Yu Qinghuang dengan suara rendah.
Setelah berkata demikian, ia meninggalkan pria itu dengan punggungnya.
Wei Jingheng tertegun oleh tamparan tersebut, berdiri terpaku cukup lama sebelum akhirnya sadar kembali.
Ia sendiri tidak tahu mengapa dirinya bisa begitu gelap mata. Padahal ia ingin merebut kembali hati Qinghuang dan membuktikan bahwa dirinya jauh lebih baik daripada Wei Yinghuo, namun hasilnya justru semakin memperburuk keadaan.
Hanya saja, ia terlalu serakah.
Setibanya kembali di istana, Wei Jingheng mendapati permaisuri telah menunggunya di dalam aula.
Ia merasa agak bersalah dan membungkuk memberi hormat. Sebelum ia sempat berdiri tegak, sebuah tamparan kembali mendarat di wajahnya dari sang Permaisuri.
Tamparan itu mendarat tepat di atas bekas tamparan Yu Qinghuang, membuatnya langsung memerah dan membengkak, terlihat jauh lebih parah.
Permaisuri merasa iba, namun ia tahu ia harus menyadarkan putranya.
"Siapa yang memberimu keberanian untuk memprovokasi Wei Yinghuo?!" Permaisuri mengibaskan lengan baju panjangnya, mengusir para pelayan keluar. "Apakah kau sudah gila? Apakah kau merasa posisi Putra Mahkotamu terlalu aman? Atau kau pikir dia tidak berani melukaimu?!"
Semakin ia berbicara, semakin Permaisuri merasakan nyeri berdenyut-denyut di kepalanya.
Wei Jingheng tidak berani membantah, ia memapag sang Permaisuri untuk duduk.
"Ibunda, redakan kemarahan Anda. Aku, aku hanya..."
"Hanya apa? Tidakkah kau melihat nasib Putri Kelima? Kasus di taman barat itu, sampai sekarang dia masih dikurung di istananya dan tidak diizinkan keluar. Jika bukan karena Selir Wang yang melindunginya, hukumannya mungkin tidak hanya sekadar dikurung."
Perkataan itu sama sekali tidak membuat Wei Jingheng merasa takut. "Memangnya dia bisa berbuat sesuka hatinya?! Aku adalah Putra Mahkota, calon penguasa negeri di masa depan, untuk apa aku takut padanya?!"
Permaisuri semakin geram hingga harus memukuli dadanya sendiri.
"Kau ini ya! Kau benar-benar telah dibuat terlalu naif oleh gadis bernama Yu Qinghuang itu hingga saat ini kau masih belum bisa melihat situasi di istana dengan jernih. Sekalipun kau adalah Putra Mahkota, hanya dengan menjentikkan jarinya, dia bisa menjatuhkanmu dari singgasana itu."
"Kenapa Ibunda malah membesarkan nyali orang lain dan menjatuhkan wibawa sendiri?" Wei Jingheng mengerucutkan bibirnya.
"Semula kupikir, meskipun Yu Qinghuang bukan putri kandung dari kediaman perdana menteri, dia cukup cerdas dan memiliki cara, yang bisa membantumu. Menjadikannya sebagai Putri Mahkota masih bisa dimaagkan, tetapi sekarang dia justru terlibat rumit dengan Wei Yinghuo, bahkan menyeretmu untuk memprovokasinya."
Suara Permaisuri semakin merendah, menimbulkan firasat buruk di hati Wei Jingheng.
"Sepertinya, pertunangan kalian tidak perlu dipertahankan lagi."
Satu kalimat itu telah menjatuhkan keputusan mutlak.
"Ibunda, aku benar-benar mencintai Qinghuang. Calon Putri Mahkotaku hanya boleh dirinya seorang." Wajah tampan Wei Jingheng memucat pasi tanpa darah, ekspresinya dipenuhi kepanikan.
Namun, betapa pun ia menolak, keputusan Permaisuri sudah tidak bisa lagi ditarik mundur.
"Kau tidak berhak menentukan hal ini!" Permaisuri berkata dengan tegas. "Singkirkan pikiran itu dan jalankan tugasmu sebagai Putra Mahkota dengan baik!"
Meski ia menyayangi putranya, demi masa depan sang putra, hati seorang ibu terpaksa harus mengeras bagai baja.
Sebab, masih ada banyak orang di sekeliling yang mengincar posisi tersebut.
Siapa suruh putranya malah menyinggung orang yang paling berbahaya.