Tangisan pilu sembilan langit, darah membasahi awan di angkasa, tiga pasukan agung mengguncang Gerbang Surga, menanti kembalinya sang Kaisar.
Ah...
Sebuah raungan melengking menembus keheningan malam yang pekat. Di tengah rimba yang lebat, pohon-pohon kuno menjulang tinggi dengan akar-akar yang melilit, seolah-olah ular berbisa yang dingin tengah bersembunyi di batang dan permukaan tanah yang luas.
Brak...
Di sebuah danau kecil yang hanya berukuran beberapa ratus meter, tiba-tiba airnya bergelora dengan dahsyat dan memercik tinggi ke udara. Seorang pemuda menggenggam erat sebuah benda, menerobos permukaan danau dengan kekuatan penuh, hingga airnya memukul-mukul tepian dengan hebat.
Di belakang pemuda itu, sepasang sayap emas terbentang tiba-tiba. Bulu-bulu bercahaya berkilauan, menimbulkan angin kencang yang membawa tubuhnya menjauh dengan kecepatan luar biasa.
Permukaan danau mendidih, suara gemuruh menggema. Dari bawah air, beberapa bayangan hitam mengamuk, lalu serentetan pilar air melesat ke arah pemuda itu, menembus udara seperti petir yang membelah langit.
Dentuman demi dentuman terdengar, awan-awan di langit malam pecah berantakan, namun tidak mampu menghalangi langkah pemuda itu hingga ia lenyap dalam kegelapan.
“Ada sesuatu di sana, pasti ada harta karun yang muncul!"
"Cepat, cepat! Kalau terlambat, takkan kebagian apa-apa!"
Di tengah rerimbunan, orang-orang mulai berlari. Begitu mendengar suara gemuruh dari kejauhan, mereka langsung berasumsi bahwa sebuah harta karun telah muncul, semangat mereka membara, serempak berbelok menuju sumber suara.
Di sebuah bukit terpencil, pemuda itu membawa barangnya dan menyusup ke dalam hutan