Bab Enam Puluh Delapan: Perampokan
Dua orang, satu tua dan satu muda.
Orang tua itu tampak berumur sekitar enam puluh tahun, rambutnya hanya sedikit beruban, namun janggutnya sudah sepenuhnya putih. Ia mengenakan jubah panjang berwarna merah tua dan wajahnya penuh senyuman.
Sedangkan yang muda, usianya sekitar dua puluh tahun, memakai jubah biru kehijauan. Wajahnya tampan namun lembut, tetapi tatapannya yang terus-menerus mengawasi mereka berdua, memancarkan aura cabul yang membuat orang risih.
Begitu Su Yue’er melihat sorotan mata itu, ia merasa mual dan secara refleks melangkah mundur, hampir menempel pada tubuh Ye Bai.
“Ada apa?” Ye Bai, yang tak bisa melihat, hanya dapat mengandalkan kepekaan indranya yang tajam dan tiba-tiba merasakan napas dua orang itu, beserta gelombang kekuatan jiwa yang tiba-tiba melonjak, sehingga ia menyadari keberadaan mereka. Ketika Su Yue’er tiba-tiba berlindung di dekatnya, ia pun bertanya.
“Mereka berdua, satu tua satu muda. Yang muda itu... tatapan matanya tidak pantas,” jawab Su Yue’er sambil memalingkan muka, tak ingin lagi melihat pria itu. Ye Bai hanya sedikit mengatupkan bibirnya.
“Kedua sahabat, pertemuan ini sungguh takdir!” Orang tua itu tersenyum ramah sambil menggenggamkan kedua tangan ke depan, sedangkan yang muda diam saja, matanya malah terpaku pada Su Yue’er. Meski ia hanya bisa melihat setengah wajah gadis itu, kecantikan tersebut sudah membuat hatinya tergoda.
“Dari mana kalian berasal? Gelombang binatang akan segera datang, kenapa masih berada di lembah?” tanya Ye Bai. Sebab, pada situasi seperti ini, tak mungkin ada kelompok kecil beranggotakan kurang dari lima orang memasuki lembah, bahkan para pemburu dan tentara bayaran yang biasa berkeliaran di wilayah binatang buas pun biasanya akan mundur, agar tidak mati sia-sia saat gelombang binatang datang.
Maka, bertemu dua orang manusia di tempat ini membuat Ye Bai sangat terkejut.
“Asal-usulku tak perlu kau ketahui, anak muda, tapi alasan kami ada di lembah ini bisa kuberitahukan.” Orang tua itu tersenyum sambil menunjuk makhluk kecil yang digendong Su Yue’er, “Kami datang untuk itu.”
“Kalian mencarinya?” Su Yue’er terkejut dan langsung memeluk erat makhluk kecil itu.
“Benar, hanya karena si Penelan Permata itulah kami, kakek dan cucu, menempuh ribuan li ke Lembah Sepuluh Ribu Binatang ini. Kami sudah berhari-hari menebar umpan dan ramuan untuk menggodanya keluar dari dalam lembah. Namun, ketika sudah hampir kami dapatkan, tiba-tiba kalian yang merebutnya. Bukankah itu tidak pantas?” Orang tua itu tetap tersenyum, namun ucapannya seolah menuduh Su Yue’er dan Ye Bai berbuat curang.
“Apa maksudmu tidak pantas? Makhluk kecil ini kami yang menangkap, binatang pendampingnya juga kami yang bunuh, tentu saja dia milik kami!” Su Yue’er langsung membantah.
“Nona muda, siapa bilang binatang ini akan menjadi milik siapa saja yang membunuh binatang pendampingnya? Untuk menjadi tuannya, harus menandatangani ikatan jiwa terlebih dahulu. Aku khawatir kalian... hehehe...” Orang tua itu mengelus janggutnya.
Su Yue’er tidak begitu paham dan secara refleks menatap Ye Bai, yang kemudian menjelaskan, “Benar, harus menandatangani ikatan jiwa. Tanpa itu, kenapa si Penelan Permata mau membagikan harta karun yang ditemukannya kepada binatang pendampingnya?”
Orang tua itu tertawa pelan, “Anak muda, rupanya kau paham seluk-beluknya. Jadi, letakkan saja makhluk itu. Aku tidak akan mempersulit kalian. Selama kalian mau pergi dan tinggalkan itu, aku akan memberi kalian keuntungan.”
Orang tua itu baru saja hendak mengeluarkan sesuatu, tapi Ye Bai menukas, “Keuntungan? Adakah yang lebih berharga daripada harta yang ditemukan Penelan Permata?”
Orang tua itu terhenti, lalu tersenyum lebih lebar, “Memang benar, tapi apakah kau mampu mempertahankannya? Kau belum sembuh dari racun Pisau Ular, kan? Jika kau mau menyerah, aku akan berikan obat penawarnya. Jika tidak, tanpa kami menyentuhmu, sebentar lagi tanganmu akan lumpuh. Menurutmu, masih bisa mempertahankannya?”
“Apa?” Su Yue’er terkejut memandang Ye Bai, “Tanganmu akan lumpuh?”
Ye Bai belum sempat menjawab, orang tua itu sudah menambahkan, “Aku tidak pernah berdusta. Kalau sekarang kalian menyerah, masih bisa dapat obatnya. Tapi kalau bertahan lebih lama lagi... ah, lebih baik utamakan keselamatan, bukan?”
“Kakek, untuk apa bicara panjang lebar dengan mereka? Binatang pendampingnya sudah menguras banyak kekuatan jiwanya, dia juga sudah keracunan. Tadinya kau bilang tunggu sampai dia mati baru bertindak, sekarang dia sudah memanggil kita, kenapa tidak segera bereskan saja? Cepat bunuh dia, Penelan Permata jadi milik kita, dan aku bisa bawa gadis ini pulang untuk kunikmati...” Pemuda itu tak sabar memotong ucapan kakeknya, wajahnya penuh nafsu.
Wajah orang tua itu langsung mengerut, sedangkan Su Yue’er murka dan memaki, “Bajingan!”
Orang seperti itu, kalau bukan bajingan, apa lagi?
Ye Bai sudah bersusah payah membunuh ular raksasa itu, bahkan tangannya sampai rusak karena racun. Selama proses itu, kedua orang ini jelas hanya menonton tanpa turun tangan. Sekarang, setelah binatang pendamping mati, mereka ingin mengambil hasilnya, bahkan berniat buruk padanya.
Ia pernah melihat orang tak tahu malu, tapi belum pernah melihat yang setega ini!
Akhirnya, senyum di wajah orang tua itu pun perlahan menghilang. Ia melirik Ye Bai, “Kau benar-benar tidak mau mendengar nasihat?”
Ye Bai memutar lehernya, “Sampai sekarang, ada tiga ratus delapan puluh dua orang yang ingin merampas sesuatu dari tanganku, semuanya mati di tanganku. Jika kalian berniat mati atau ingin cepat menemui ajal, aku tidak keberatan membantu. Tapi sebaiknya kalian pikirkan keselamatan.”
Kini, sisa senyum di wajah orang tua itu juga lenyap. Ia menatap Ye Bai, lalu mendengus, “Anak muda, sungguh besar bicaramu! Berani-beraninya menggunakan kata-kataku untuk membalas? Dan kau, gadis kecil, sudah kuberi kesempatan. Kalau saja kalian mau meninggalkan Penelan Permata dan pergi, takkan ada permusuhan. Tapi satu sombong, satu lagi berani menghina cucuku. Kalau begitu...”
Saat berkata demikian, telapak tangan orang tua itu berbalik, tiba-tiba sebuah palu tembaga muncul di atas telapak tangannya. Gagang palu itu memancarkan tujuh lingkaran cahaya dengan warna berbeda. Su Yue’er menghitung, ada tujuh lingkaran!
Tujuh lapis! Jiwa tempur tingkat tujuh! Jiwa tempur langka!
Setelah membaca berbagai catatan, Su Yue’er langsung menyadari mengapa orang tua di hadapannya begitu angkuh. Pemuda di belakangnya pun memanggil jiwa tempurnya, juga sebuah palu tembaga, namun ukurannya lebih kecil dan hanya memiliki tiga lingkaran cahaya.
Melihat itu, Su Yue’er cemas menatap Ye Bai.
Andai Ye Bai bukan sedang lemah, dengan kekuatan hebat yang sering diceritakan dalam buku, ia takkan khawatir.
Tapi sekarang, selain kekuatannya ditekan hingga tingkat empat, barusan ia juga harus membunuh binatang pendamping. Entah berapa sisa kekuatan dan tenaganya. Sekalipun masih ada, kekuatan tingkat empat mana bisa melawan kakek tua tingkat tujuh?
Mungkin merasakan kecemasan Su Yue’er, Ye Bai tiba-tiba berbisik di telinganya, lalu saat Su Yue’er masih bingung, ia sudah menghadapkan diri ke dua orang di seberang, “Sepertinya keluarga Song di Yu Zhou akan segera hancur.”
Orang tua dan pemuda itu terkejut, lalu tertawa mengejek.
“Anak muda, kau memang tahu banyak, mengenali jiwa tempurku, tahu dari mana asalku. Tapi keluarga Song takkan hancur, justru kau yang akan berakhir hari ini!” Orang tua itu mengangkat dagunya pada Ye Bai, “Ayo, keluarkan jiwa naga-mu, biar kubawa kalian berdua ke akhirat!”
Ye Bai hanya tersenyum tipis. Otot-otot di tubuhnya mulai menegang, sementara Su Yue’er yang secara refleks bersembunyi di belakangnya, pikirannya masih dipenuhi kata-kata yang baru saja dikatakan Ye Bai padanya...