Bab Empat Puluh Empat: Zhuangzi
Nuan Xiang, yang baru saja bisa melayani di dekat Wang Xifeng, melanjutkan perkataannya:
"Dulu saat Baoyu berusia dua tahun, Nona Besar telah membimbingnya, dan ia sudah mengenali beberapa ratus huruf, sangat mahir menghafal puisi dan esai. Nona Ketiga, yang juga lahir dari Selir Zhao, mulai mengenali huruf sejak usia dua tahun. Sebaliknya, Tuan Muda Huan yang hampir berusia tiga tahun ini tidak mengenal satu huruf pun, tata kramanya pun sama sekali tidak diajarkan. Begitu masuk ruangan, ia langsung memanjat meja altar untuk mengambil kue-kue, memberi salam tapi berdiri saja tidak tegak. Terlihat jelas bahwa Nyonya Kedua bahkan tidak pernah meliriknya sekilas pun. Nyonya Tua sangat marah hingga meminta Nyonya Kedua selaku ibu kandungnya untuk lebih memberikan perhatian. Namun, Nyonya Kedua tidak mau membiarkan Tuan Muda Huan ikut belajar bersama Baoyu dan yang lainnya karena takut Tuan Muda Huan akan membawa pengaruh buruk bagi Baoyu. Alhasil, ia melampiaskannya pada Nona Ketiga. Pagi hari, setelah Nona Ketiga selesai belajar di pekarangan Nyonya Tua, sore harinya ia harus pergi ke pekarangan Nyonya Kedua untuk mengajari adik laki-lakinya."
Le'er berkata dengan ekspresi penuh iba:
"Nona Ketiga baru seusia itu, baru lancar berbicara, tapi harus mengajari adik laki-laki yang kerjanya suka memukul wajahnya."
Ping'er bertanya dengan heran:
"Bukankah dikabarkan bahwa Tuan Kedua sering berada di tempat Selir Zhao, apakah beliau juga tidak mengajarinya? Nyonya Kedua pasti mengira Tuan Kedua yang akan membimbing Tuan Muda Huan, makanya beliau tidak memedulikannya, bukan?"
Le'er mencibir dan berkata:
"Tuan Kedua pergi ke tempat Selir Zhao untuk mencari kesenangan, mana sempat mengurus hal-hal semacam ini."
Wajah Ping'er menggelap, ia langsung maju dan mencubit Le'er sambil menegur:
"Tidak tahu aturan! Apakah perkataan seperti ini pantas keluar dari mulutmu?"
Melihat ekspresi Wang Xifeng tenang namun tidak tersenyum, Le'er dengan cerdik langsung meminta maaf. Bersama Nuan Xiang, ia dengan tenang merampungkan tugas melayani Wang Xifeng mencuci muka dan berkumur, lalu mundur bersama Ping'er.
Begitu para pelayan gadis itu keluar, Wang Xifeng tertawa geli hingga memukul meja.
Nyonya Xing benar-benar sangat bisa diandalkan dan berguna.
Secara tidak sengaja, ia berhasil menusuk titik mematikan bibinya sendiri.
Sebagai nyonya rumah yang memegang kendali keluarga, tertangkap basah mengabaikan anak selir, meskipun tidak sampai meremukkan tulang, itu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya kerepotan.
Selir Zhao juga wanita yang cerdik, sangat memahami prinsip bahwa jika tidak masuk ke sarang harimau, seseorang tidak akan bisa menangkap anak harimau! Nyonya Wang sebagai nyonya besar enggan mendidik anak selir, dan ia selaku selir pun sama sekali tidak mau mengajarnya.
Di saat yang krusial, membiarkan Nyonya Tua melihat rupa dan perangai Jia Huan, bukankah Nyonya Wang hanya bisa menelan ludah mentah-mentah dan menanggung kerugian itu tanpa bisa protes?
Besok, ia harus mengerahkan tenaga lebih banyak lagi.
Agar Nyonya Wang menanggung kerugian ini dengan telak!
Kata orang, balas dendam sepuluh tahun belum terlambat, tetapi balas dendam baginya adalah dari pagi hingga malam.
Rasa takut Nyonya Wang beberapa hari lalu ketika nama pelayan mahar yang sudah lama meninggal itu disebut-sebut olehnya pasti sudah hampir terlupakan. Kebetulan sekali, mari kita lanjutkan.
Keesokan harinya malam hari, untuk pertama kalinya Wang Xifeng pergi ke kamar Nyonya Tua untuk melayani makan malam.
Nyonya Wang memasang wajah kaku tanpa berkata apa-apa, sementara Nyonya Xing tersenyum lebar.
Nyonya Tua hanya meminta mereka berdiri sejenak, menyumpitkan beberapa lauk, lalu mengumumkan bahwa besok Wang Xifeng akan meninggalkan ibuukota, sehingga malam ini mereka semua makan bersama sebagai acara melepas kepergian.
Wang Xifeng tentu saja senang karena tidak perlu bolak-balik berlari.
Dengan gembira ia duduk di kursi kehormatan bawah, makan dengan lahap dan cekatan. Melihat selera makannya yang begitu bagus, Nyonya Jia bahkan ikut terdorong untuk menyantap nasi beberapa suap lebih banyak.
Ketika para pelayan menyuguhkan teh bagi semua orang untuk berkumur, Wang Xifeng bahkan memuji setinggi langit hidangan di kamar Nyonya Tua.
Setelah beberapa saat mengobrol santai, Jia Lian yang datang untuk menghaturkan salam masuk ke dalam ruangan.
Nyonya Jia segera menyuruh Jia Lian duduk di sisi beliau, lalu melambaikan tangan memanggil Wang Xifeng untuk duduk di sisi sebaliknya. Beliau menarik tangan kedua orang itu dan menyatukannya dalam genggaman:
"Besok kalian berdua akan berangkat, pasti akan sangat sibuk, jadi tidak usah datang kesini lagi. Beristirahatlah yang cukup malam ini, dan sesampainya di sana, segeralah utusan orang kembali kemari untuk mengabarkan bahwa kalian selamat sampai tujuan."
Jia Lian dan Wang Xifeng buru-buru bangkit untuk mengiyakan, sebelum kembali ditarik duduk oleh Nyonya Jia.
Mata phoenix Wang Xifeng berputar, melirik sekilas ke arah Nyonya Wang, lalu berkata sambil tersenyum:
"Nenek moyang, jangan terburu-buru mengusir kami. Cucu menantu masih punya satu hal yang ingin memohon kepada Nenek!"
Nyonya Jia tidak menyadari lirikan mata Wang Xifeng dan tersenyum pula:
"Permintaan apa pun akan dikabulkan!"
Wang Xifeng buru-buru berseru:
"Ping'er!"
Saat Ping'er menyahut dari luar, alis Nyonya Wang sedikit berkerut, merasa seolah-olah akan ada hal buruk yang terjadi, lalu ia bangkit berdiri:
"Nyonya Tua, karena Fengge'er ada urusan yang ingin disampaikan kepada Anda, menantu mohon diri untuk kembali dulu, nanti malam baru akan datang lagi untuk melayani Nyonya Tua."
Melihat Ping'er sudah melangkah masuk ke ruangan membawa setumpuk buku catatan keuangan, Wang Xifeng merangkul lengan Nyonya Jia sambil bermanja-manja:
"Nyonya Tua, urusan ini juga harus memohon kepada Nyonya Kedua!"
Nyonya Jia tertawa geli karena terguncang, lalu menunjuk ke arah Nyonya Wang dan berkata:
"Kembali ke kamar pun kau hanya akan menghitung biji tasbih Buddha untuk mencari kebajikan. Sebagai orang tua, ketika anak-anak hendak melakukan perjalanan jauh, memberikan beberapa petuah penting jauh lebih mendatangkan kebajikan daripada memohon perlindungan kepada Bodhisattva."
Nyonya Wang menggertakkan giginya, menunduk mengiyakan, lalu duduk kembali.
Nyonya Xing yang beberapa hari terakhir ini telah merasakan manisnya keuntungan, sama sekali tidak berniat menyinggung soal kepulangannya, dan turut tersenyum menimpali:
"Apa yang dikatakan Nyonya Tua sangat benar. Fengge'er dan Liange'er, tanyakan saja apa pun yang tidak kalian pahami. Meskipun aku tidak berpengetahuan luas, setidaknya usurku sedikit lebih tua daripada kalian."
Jia Lian tentu saja tahu apa yang hendak dilakukan oleh Wang Xifeng. Melihat Nyonya Xing begitu kooperatif, ia pun membungkuk memberi hormat sebagai tanda terima kasih:
"Terima kasih, Bibi. Bibi memang yang paling menyayangi kami."
Setelah serangkaian basa-basi dan saling lempar kata.
Wang Xifeng telah meminta Ping'er untuk meletakkan buku-buku catatan keuangan itu di atas meja teh di samping Nyonya Jia. Ping'er mengambil satu jilid dan mempersembahkannya kepada Nyonya Jia, barulah Wang Xifeng mengutarakan maksud kedatangannya.
Di antara tanah pertanian maharnya, selain yang terletak di pinggiran ibuukota, terdapat pula dua perkebunan di wilayah utara.
Selama lebih dari setahun sejak Wang Xifeng bertunangan, Nyonya Kedua Wang telah mengajarinya banyak hal secara langsung, kebanyakan tentang cara mengurus urusan rumah tangga bagian dalam. Karena hasil panen dari perkebunan di wilayah utara disetorkan setahun sekali, tahun lalu ia hanya sekilas melihat dan memeriksanya secara garis besar, lalu urusan pun beres begitu dicocokkan dengan catatan tahun-tahun sebelumnya yang hampir serupa.
Namun baru-baru ini, pihak perkebunan di wilayah utara mengirim orang untuk melaporkan musibah.
Mereka bilang saat awal musim semi terjadi badai es yang merusak tanaman di ladang, sekaligus membunuh banyak ternak. Sekarang mereka terpaksa meminjam uang untuk menanam kembali bibit tanaman serta membeli hewan ternak yang baru.
Utusan yang datang itu selain meminta uang untuk membayar utang, juga untuk melapor terlebih dahulu kepada sang pemilik bahwa hasil panen akhir tahun nanti tidak akan terlalu bagus.
Saat itu ia memberikan uangnya dan menyuruh utusan tersebut pulang.
Tetapi semakin dipikir, ia merasa ada sesuatu yang janggal.
Ketika ia menceritakan hal itu kepada Jia Lian beberapa waktu kemudian, Jia Lian mengatakan bahwa perkebunan milik keluarga Jia tidak ada yang mengirim utusan untuk melaporkan musibah.
Hal inilah yang membuat Wang Xifeng tidak bisa tidak merasa curiga.
"Nyonya Tua, saya belum pernah keluar dari ibuukota, jadi saya tidak tahu situasi di wilayah utara sana. Musim semi kok bisa-bisanya turun badai es? Perkebunan keluarga Wang sebelumnya tidak pernah mengalaminya, bagaimana dengan keluarga kita? Apakah sebelumnya pernah mengalami bencana? Menantu berpikir, bolehkah saya melihat buku catatan keuangan tahun-tahun sebelumnya? Kalau memang pernah terjadi badai, ya sudah. Tidak mungkin kan setiap tahun cuaca selalu bersahabat. Kalau ternyata tidak ada, saya bisa menyuruh orang pergi ke wilayah utara untuk memeriksa langsung. Sekumpulan budak ini, baru saja saya mengambil alih sudah berani membodohi saya, kalau dibiarkan beberapa tahun lagi, apa jadinya!"
Nyonya Jia merenung sejenak, lalu bertanya:
"Perkebunan ini dibeli oleh keluarga Wang di kemudian hari, atau memang sudah ada sejak dulu?"
Wang Xifeng menjawab:
"Sudah ada sejak dulu. Totalnya ada sembilan perkebunan. Ketika Ayah dan Paman Kedua membagi warisan, Ayah mendapat lima, tiga diserahkan kepada Kakak, dan dua diberikan kepada saya."
Nyonya Jia tersenyum dan berkata:
"Kalau begitu ayahmu benar-benar sangat memanjakanmu. Perkebunan di sana sekarang dicari orang pun sulit didapat, keluarga kita mengirim orang khusus untuk mengawasinya saja pada akhirnya hanya membeli tiga atau lima kebun tambahan."
Jia Lian menimpali dengan nada bercanda:
"Kakek Buyut sangat hebat, makanya kita bisa menikmati kehidupan yang baik seperti sekarang."