Bab Dua Puluh Delapan: Tragedi Berdarah di Rumah Hiburan (Bagian Dua)
Mo Zhiyan menghadang Nyonya Ru yang hendak maju. “Nyonya Ru Xiang memang mengatur agar Min Er melayanimu, bagaimana kau menjelaskannya?”
“Aku tidak ada di kamar,” jawab Feng You dengan dagu sedikit terangkat.
“Lalu, kau di mana?”
“Di kolam belakang rumah.”
“Ada saksi?” tanya Ling Hong menyela.
“Tidak ada.” Feng You membalas dengan tawa dingin.
“Tak ada apa-apa, apalagi yang mau kau katakan?”
“Konyol. Apa alasanku membunuhnya?” desah Feng You dengan nada marah.
“Itu justru yang ingin kami tanyakan padamu,” ujar Ling Ji sambil tersenyum tipis dan mengibaskan lengan bajunya.
“Bukan aku yang membunuh, ya bukan aku yang membunuh.” Ia memang baru pertama kali datang ke tempat ini, hanya karena sedang kesal makanya mau dilayani seorang perempuan. Sebenarnya ia belum benar-benar siap untuk dilayani seenaknya begitu saja. Tapi sekarang, mana mungkin ia mengaku belum siap? Bukankah itu memalukan sekali? Itu benar-benar tak bisa diucapkan.
Sementara yang lain sibuk, Duan Gutian mendekati jenazah, memperhatikannya, lalu melirik ke meja bundar dan menemukan sebuah belati indah dengan bentuk yang unik, bukan barang umum dari wilayah Tengah. Pisau itu berlumuran darah, ujungnya pun sangat sesuai dengan luka di tubuh korban. Jelas itulah senjata pembunuhnya. Ia mengangkat belati itu dan bertanya, “Ini milikmu?”
“Iya.” Feng You menjawab tegas.
“Belati milikmu, tampaknya kau pun tidak terluka. Jelas darah di pakaianmu bukan darahmu sendiri, melainkan menempel saat membunuh. Sekarang buktinya sudah jelas, apa lagi yang mau kau katakan?” Han Yu menyela, tampak puas dengan posisinya saat ini.
“Aku tidak membunuh.”
“Aku ingin mendengar penjelasanmu,” kata Mo Zhiyan dengan serius menatapnya.
Ia tidak tahu, ucapannya yang tampak biasa saja itu justru begitu mengguncang hati seseorang. Di wajah Feng You tampak heran dan terkejut, lalu berubah menjadi tenang dan hangat. Melihat Mo Zhiyan, ia merasa jika tidak berkata jujur, ia seperti mengkhianati sosok berjiwa ksatria yang selalu membela keadilan. Ia menggertakkan gigi, sudahlah!
“Baik, aku akan bicara. Saat aku masuk, dia... sudah bersiap untuk melepas pakaiannya. Aku... memberinya selembar uang perak, lalu pergi ke halaman belakang, berjalan-jalan di sana.”
Feng You yang biasanya terbuka pun kali ini sampai telinganya memerah, tampak jelas ia benar-benar terkejut dengan tindakan berani Min Er tadi. Sebenarnya ia belum menceritakan semuanya. Faktanya, begitu ia masuk, Min Er sangat ramah, tubuhnya langsung menempel dan sulit dilepas. Yang dilepas pun bukan pakaian si gadis, tapi justru pakaiannya sendiri. Begitu tangan Min Er menyelinap ke dalam bajunya, ia langsung melompat pergi, uang perak masih melayang di udara, dan ia pun menghilang.
“Tidak puas?” sela Mo Zhiyan, jelas berniat membantunya. Kalau perempuan itu tak puas, ya tinggal pergi, alasannya pun masuk akal.
Huh, kalau sudah ada alasan bagus seperti itu, hanya orang bodoh yang tak menggunakannya.
Feng You sempat bengong, lalu mengiyakan dengan suara pelan, “Iya.”
Mo Zhiyan tersenyum tipis, matanya menyipit.
Feng You melanjutkan, “Kemudian aku sadar belatiku hilang, kupikir mungkin tertinggal di sini, jadi aku kembali mencari. Begitu masuk, kulihat dia berbaring miring di ranjang. Aku panggil, tapi dia membelakangi dan tak merespon. Aku dekati, kuputar tubuhnya, dan ternyata sudah seperti itu. Darah di bajuku menempel waktu itu, belati juga ada di sampingnya. Saat kuangkat belati itu, pelayan perempuan itu masuk, lalu dia berteriak.”
Ia menunjuk ke arah pelayan kecil yang berada di pelukan Nyonya Ru, dan semua mata pun mengikuti arah telunjuknya. Bahu si pelayan kecil terus bergetar, jelas ia sangat ketakutan. Setelah ditunjuk Feng You, ia semakin gemetar.
“Itu hanya ceritamu saja. Bisa saja kenyataannya kau sedang membunuh dan kebetulan ketahuan,” ujar Ling Hong dengan dingin.
“Kau masuk, apa yang kau lihat?” Mo Zhiyan beralih menatap pelayan kecil itu dengan tenang, berusaha tidak membuatnya semakin takut.
“Hamba... datang... mengantar... mengantar arak untuk... Nona Min Er,” jawabnya dengan suara gemetar. Kalimatnya pun tak utuh, tapi kira-kira itulah yang dimaksud.
Pelayan kecil itu datang mengantar arak. Karena pintu tidak tertutup, ia pikir di dalam tidak akan terjadi hal yang memalukan, tapi tetap saja ia ingin segera keluar setelah menaruh arak, takut menimbulkan kecanggungan. Saat ia melangkah masuk, ia melihat Feng You bangkit tergesa dari sisi ranjang, tubuhnya penuh darah dan di tangannya masih ada belati berlumuran darah. Begitu Feng You menoleh, ia langsung menjerit ketakutan. Kebetulan, rumah hiburan ini sudah diam-diam dikepung oleh orang-orang yang dikirim kedua pangeran. Begitu mendengar teriakan, semuanya langsung mengepung cepat, sehingga Feng You pun tak sempat melarikan diri.
Jelas sekarang Mo Zhiyan dan yang lain tahu, jeritan yang mereka dengar tadi adalah dari pelayan kecil itu. Mo Zhiyan termenung. Bukti yang ada memang sangat memberatkan Feng You. Berdasarkan saksi dan barang bukti saja, kasus ini bisa langsung ditutup dan ia dijatuhi hukuman. Tapi, benarkah semudah itu?
Ia mengamati keadaan seluruh ruangan, lalu ketika ia mendongak, pandangannya bertemu dengan Ling Ji. Keduanya sempat terkejut, namun langsung saling memahami maksud masing-masing. Mo Zhiyan menyipitkan mata, lalu berpaling dan menangkap lirikan dari Leng Qingran, yang membalas dengan senyuman tipis. Ia pun paham maksudnya.
Segera ia berkata pada Feng You, “Dengan bukti sekuat ini, tak ada yang bisa membantah. Lebih baik ikut kami ke kantor pengadilan untuk menyelidiki semuanya dengan jelas.”
Mo Zhiyan mengedipkan mata cepat-cepat ke arah Feng You, hingga tak seorang pun melihatnya, bahkan Feng You sempat ragu apakah ia tidak salah lihat. Namun, dalam sekejap, ia memilih percaya pada Mo Zhiyan. Entah kenapa, ia percaya pada orang ini. Padahal mereka baru bertemu dua kali—dan itu pun tidak dalam suasana bersahabat—tapi ia merasa orang yang kelihatan rendah hati namun berwibawa ini, belum tentu musuhnya.
“Kenapa tuan kami harus ikut kalian?” Duan Kuo dan beberapa orang lain berdiri menghalangi Feng You, mencari cara agar Feng You bisa lolos.
“Kalian mundur. Aku tidak bersalah, tidak perlu takut. Ikut saja, masa mereka berani memfitnahku?” Feng You mengangkat dagu ke arah dua pangeran, jelas menantang.
“Tapi...”
“Tak ada tapi-tapian. Selama aku masih tuan kalian, dengarkan aku.”
Dengan hardikan Feng You, para pengikutnya pun patuh dan menyingkir ke samping.
Ling Hong memerintahkan dengan suara lantang, “Leng Daren, suruh semua orang mundur.”
“Baik.”