Bab Satu: Jalan Kuno, Senja, Perjalanan Jauh
“Han Yu, bukankah kecepatan kita ini terlalu lambat? Kalau begini terus, entah kapan kita baru akan tiba di Jianghuai?” Di sebuah jalan setapak yang sepi, dua ekor kuda gagah melaju perlahan. Bukannya seperti orang yang sedang melarikan diri, malah lebih mirip orang yang sedang berwisata di musim semi.
Di atas seekor kuda putih, seorang pemuda membuka suara. Walaupun mengenakan pakaian laki-laki, sekilas ia tampak seperti seorang pemuda tampan dan berwibawa. Namun, jika diperhatikan lebih saksama, ia memiliki bibir merah, gigi putih, paras mungil nan jernih, leher dan wajah seputih giok, benar-benar seperti karya seni yang dipahat dewa. Inilah jenderal muda yang kabur dari rumah, Mo Zhiyan, yang dalam hatinya merasa bahwa di masa genting sedang melarikan diri dari bencana, ia tak paham dengan santainya laki-laki di sampingnya itu, dan tak tahu kapan mereka bisa tiba di tujuan.
Ayahnya pasti sudah tahu tentang kepergiannya. Begitu ia tiba di gerbang kota, pemeriksaan menjadi jauh lebih ketat. Untungnya seorang teman Han Yu membantunya keluar kota. Sepanjang perjalanan, mereka tak berani terlalu banyak berhenti. Setelah menempuh perjalanan semalaman, kini sudah hari kedua mereka meninggalkan rumah. Pagi itu sempat beristirahat satu jam di tepi sungai, lalu berangkat lagi. Ia mengira harus menempuh perjalanan berat selama beberapa hari, tapi menjelang senja, Han Yu justru tampak tak tergesa-gesa.
Laki-laki berbaju hijau di sampingnya berwajah lembut, tampan dan gagah, berpakaian rapi dan bersih, jelas dididik dengan baik. Namun, matanya yang berbentuk sabit dan sudut bibir yang terangkat selalu menampilkan kesan nakal, tapi bukannya membuat orang ilfeel, justru menambah daya tariknya.
Ia terus menunggang kudanya, “Tak usah khawatir. Kalau aku sudah bisa membawamu keluar kota, masak ke Jianghuai saja tak sanggup?” Ia mendekatkan kepala ke bahu Mo Zhiyan, menatapnya dengan pandangan menggoda, “Atau, kau ingin secepatnya tiba di Jianghuai dan langsung masuk ke pelukan hangat Leng Qingran?”
“Kau dan Leng Qingran tumbuh besar bersama denganku.” Mo Zhiyan mengangkat tangan dan menjitak kepalanya. “Masih muda, tapi pikiranmu sudah aneh-aneh!”
Kepergiannya kali ini karena di antara teman-teman Han Yu yang berasal dari keluarga terpandang, ada yang orang tuanya pejabat tinggi di istana. Mereka lebih dulu mengetahui akan ada seleksi putri istana. Menolak perintah untuk masuk istana risikonya besar, sedangkan ia sendiri tak ingin nasibnya diatur begitu saja. Satu-satunya jalan adalah bertaruh dengan keberanian.
Leng Qingran dan Han Yu sama-sama tumbuh besar bersama Mo Zhiyan, mereka berteman baik, saling percaya sepenuhnya. Maka, dari sekian banyak tempat, hanya Jianghuai yang menjadi tujuan, tempat Leng Qingran kini menjabat sebagai pejabat urusan pajak, tengah menarik pajak di Jianghuai.
“Ck ck, kau terlalu tega kepada Tuan Muda Leng, atau lebih tepat, kau memang terlalu dingin terhadap semua pria di dunia ini. Andaikan dulu kau mau menerima lamaranku, semua masalah ini takkan terjadi, bukan?” Han Yu mengusap kepala yang baru saja dijitak, namun mulutnya masih saja berceloteh.
“Keluar kota saja, kau langsung lupa sopan santun, ya?” Mo Zhiyan menoleh dan tersenyum cerah, “Kepalamu sudah tidak sakit?”
Han Yu melihat senyumnya yang cerah, rasanya udara di sekitar pun jadi lebih segar, seolah angin lembut menyapu permukaan danau, dan ada sudut di hatinya yang meleleh...
Namun, senyum itu justru membuat bulu kuduknya berdiri. Ia spontan mengusap kepala yang baru saja dijitak, rasa sakitnya masih terasa.
“Dari kecil saja sudah sering kau bully, tidak takut kalau kelak menikah denganku kau akan cari-cari kesempatan untuk balas dendam? Kalau kau bosan hidup bahagia dan ingin coba suasana baru, aku bisa bantu.” Suasana hati Mo Zhiyan hari itu sedang baik, pemandangan di sekitar indah membuat hatinya senang. Perjalanan jauh ini memang terlalu membosankan.
Kini Han Yu tahu mengapa ia merasa waswas saat Mo Zhiyan tersenyum. Semakin cerah senyumnya, semakin berbahaya. Sejak kecil memang begitu. Setiap kali ia akan “menghukum” seseorang, ia tidak marah, tidak tergesa, hanya tersenyum. Semakin cerah senyumnya, semakin sial lawannya. Dulu, ia sering kena batunya.
Ingat betul, dulu waktu kecil, pernah ia menganggap remeh karena Mo Zhiyan perempuan, tidak mengajaknya ke pasar di kota tetangga. Keesokan harinya, ia terbangun di sebuah pondok asing di pinggiran kota, pintu terkunci dari luar, di dalam ada anjing galak. Ia babak belur, pulang dalam keadaan berantakan.
Pernah juga ia menggoda Mo Zhiyan, mengambil salah satu tusuk rambutnya. Awalnya tidak terjadi apa-apa berhari-hari, ia pun lengah. Sebulan kemudian, balas dendam itu datang.
Ah... kenangan masa kecil sungguh tak ingin diingat di bawah cahaya rembulan!
Tapi itu semua masa lalu, saat itu mereka hanya bermain-main, Mo Zhiyan pun selalu memperhatikan keselamatan teman-temannya, tak pernah kelewatan, apalagi berniat jahat. Seiring bertambahnya usia, hubungan mereka semakin erat, dan Mo Zhiyan pun sudah lama tak pernah “menghukum” mereka lagi, namun sisa wibawanya tetap membuat mereka segan. Lebih baik tidak menyinggungnya.
“Hanya bercanda, lihatlah aku sekarang, tampan, menawan, jadi idaman banyak gadis, bahkan istri orang. Mana tega aku membuat mereka patah hati? Jadi, biar aku ‘menggoda’ mereka saja, dan kau biar Leng Qingran yang menjaga.”
“Lalu sekarang kau menemaniku pergi, entah kapan bisa kembali, hati para gadis dan istri itu kau tak pedulikan?” Mo Zhiyan sengaja ingin menggodanya.
“Perasaan mereka mana bisa dibandingkan dengan persahabatan kita sejak kecil? Aku ini sangat setia kawan, lagipula dengar-dengar wanita Jianghuai cantik-cantik bak bidadari. Menemanimu ke Jianghuai, aku juga bisa melihat sendiri kecantikan wanita di sana, ingin tahu apa bedanya dengan wanita di Ibu Kota.”
Mo Zhiyan meliriknya sambil tersenyum, “Oh... bak bidadari, ya...”
Tahu telah salah ucap, Han Yu segera mengganti pembicaraan demi menyelamatkan diri.
“Mengantarkanmu keluar dari Ibu Kota dengan selamat, sampai ke Jianghuai dan menyerahkanmu pada Tuan Muda Leng, itulah tujuan utamaku. Yang lain hanyalah bumbu perjalanan, jangan salah paham ya.” Dengan suara rendah dan sikap tunduk, ia menambahkan, “Mari kita percepat perjalanan ke Jianghuai. Katanya wanita di sana benar-benar cantik, jangan-jangan Tuan Muda Leng bakal dikerubungi mereka sampai habis tak bersisa. Ayo, jalan, jalan!” Han Yu pun menundukkan kepala, berusaha mengalihkan topik.
Mo Zhiyan tersenyum menggeleng, Han Yu walaupun terlihat sembrono dan seolah tak peduli apa-apa, ia tahu betul, di hatinya para sahabat ini sangat berarti. Bila ada masalah, ia tak akan mundur, siap berkorban demi mereka.
“Oh iya, perjalanan kita ke Jianghuai cukup jauh, lagi pula perempuan bepergian tidak aman. Kini aku sudah berpakaian laki-laki, jauh lebih mudah, tapi lebih baik lagi jika aku memakai nama pria. Mulai sekarang, panggil saja aku Wu Zhiyin.”
“Wu Zhiyin, aku datang untuk bersembunyi, bukan untuk lenyap. Kini dunia tak lagi penuh debu. Jalannya jalan Wuling, tapi orangnya bukan orang Qin. Sungguh nama dan puisi yang bagus, aku catat. Mulai sekarang, aku akan memanggilmu begitu.”
Keduanya pun memacu kuda menuju tujuan, tanpa peduli betapa berliku dan berbahayanya jalan di depan, tetap penuh kepercayaan diri, melangkah tanpa ragu.