Bab 123 Perubahan
Keluarga Xu tiba di lokasi tak lama kemudian. Mereka tertegun melihat kediaman Keluarga Li yang kini sudah kosong melompong.
Apakah sudah selesai? Secepat ini? Bagaimana dengan suaranya? Sepanjang jalan tadi, mereka tidak mendengar keributan apa pun, sehingga mereka mengira tindakan belum dimulai.
"Di mana orang-orang Keluarga Li?" Xu Yuanzheng bertanya kepada Xu Liang dan Xu Yun. Kediaman Keluarga Li yang begitu luas kini benar-benar kosong, bahkan tidak ada satu pun mayat yang terlihat.
"Sudah dimusnahkan," jawab Xu Liang sambil tersenyum melihat ayahnya yang tampak kebingungan.
"Dimusnahkan? Bagaimana caranya?"
"Sulit menjelaskannya. Kami hanya melihat seorang wanita berpakaian hitam muncul di samping Liu Chen. Kemudian, wanita itu berubah menjadi kabut hitam yang menyelimuti seluruh kediaman Keluarga Li, dan begitulah, mereka semua musnah." Xu Liang menceritakan apa yang ia lihat, meski ia sendiri tidak tahu persis bagaimana proses pemusnahan itu terjadi. Namun, ia sempat mendengar suara-suara mengerikan, seperti jeritan roh jahat yang merangkak keluar dari neraka. Memikirkannya saja sudah membuat bulu kuduknya berdiri.
"Ayah, kenapa Ayah membawa begitu banyak orang ke sini?" Xu Yun tersenyum getir melihat ayahnya dan sekelompok kerabat di belakangnya. Dengan kedatangan mereka yang begitu ramai, jangankan ikut bertindak, menonton pertunjukan pun tidak sempat.
"Di mana dia?" Xu Yuanzheng tampak canggung. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling namun tidak menemukan sosok Liu Chen. Apakah dia sudah pergi?
Xu Yun menjawab, "Dia ada di gudang."
Saat itu, Liu Chen muncul di hadapan mereka dan berjalan perlahan mendekat. "Keluarga Li telah lenyap sepenuhnya dari Kota Li. Jangan lupa setiap kata yang telah kalian ucapkan."
"Tuan, jangan khawatir. Keluarga Xu pasti akan mematuhi setiap janji kami," tegas Xu Yuanzheng dengan dada membusung.
Gudang Keluarga Li memiliki koleksi harta yang sangat melimpah, jauh lebih banyak daripada Keluarga Feng. Liu Chen kemudian mengeluarkan sebuah pedang—sebuah senjata tajam kelas atas yang nyaris setara dengan senjata kelas bangsawan—lalu melemparkannya kepada Xu Yuanzheng. "Senjata ini adalah pusaka terkuat milik Keluarga Li. Gunakanlah sebagai pelindung martabat klan kalian."
Kekuatan Keluarga Xu relatif lemah. Jika mereka bertemu perampok kuat tanpa senjata yang mumpuni, akan sulit bagi mereka untuk melindungi kota ini. Xu Yuanzheng segera menerima pedang itu dengan kedua tangan, mengucapkan terima kasih dengan penuh semangat, lalu menyimpannya. Bagi Keluarga Xu saat ini, menempa senjata adalah hal yang sangat sulit. Mereka hanya memiliki dua pusaka yang selama ini disemayamkan di aula leluhur.
Xu Liang dan Xu Yun saling melirik dengan senyum tipis. Meskipun pedang ini tidak membuat Keluarga Xu tiba-tiba menjadi sangat kuat, setidaknya senjata ini memberi mereka tambahan kekuatan dan rasa aman. Mereka semua tahu pedang itu adalah pusaka terkuat Keluarga Li yang hampir mencapai level senjata bangsawan. Tindakan Liu Chen yang menyerahkan senjata tersebut begitu saja membuat kekaguman mereka terhadapnya semakin dalam.
Seluruh anggota Keluarga Xu merasa sangat gembira. Tanpa mengeluarkan tenaga sedikit pun, mereka tidak hanya terbebas dari ancaman Keluarga Li yang kejam, tetapi juga mendapatkan pusaka yang sangat kuat. Penyesalan mereka karena tidak mendapatkan harta lain dari Keluarga Li pun sirna seketika.
"Keluarga Xu akan mengerahkan seluruh kemampuan untuk menjaga kota ini dan melindungi penduduknya. Kami tidak akan melakukan penindasan. Jika ada anggota klan yang berani berbuat jahat, inilah akibatnya!" Xu Yuanzheng menegakkan tubuh. Ia mengayunkan tangannya, memancarkan energi spiritual yang membentuk bilah angin hingga mampu membelah batu besar di depannya. Sikap tegas sang kepala keluarga membuat semua orang merasakan tekadnya yang bulat.
"Masalah Keluarga Li sudah selesai. Tolong berikan sekantung koin emas ini kepada Rumah Makan Zui Xiang sebagai kompensasi," ucap Liu Chen sambil melemparkan sekantong koin emas kepada Xu Yuanzheng.
Xu Yuanzheng menerima kantung uang itu dan berkata, "Tuan, mengapa Anda harus repot-repot? Masalah sepele seperti itu biar kami yang menyelesaikannya." Bagi Keluarga Xu, gesekan di Rumah Makan Zui Xiang hanyalah perkara kecil yang tidak berarti.
"Tuan Liu, ke mana Anda akan pergi setelah ini?" Xu Yun bertanya dengan lembut, matanya yang indah berkedip perlahan.
Liu Chen sedikit mengernyit dan tertawa, "Tentu saja meninggalkan tempat ini. Jangan bilang Nona Xu ingin menahan saya?"
Keluarga Xu yang lain pun bingung mendengar pertanyaan sang nona besar. Nada suaranya begitu lembut, apakah ini benar-benar Xu Yun yang mereka kenal? Hanya Xu Yuanzheng yang sedikit menyipitkan mata, menatap putrinya dengan heran.
"Tuan sangat peka. Saya memang berniat demikian. Bolehkah Tuan memberi saya kehormatan dengan tinggal di kediaman Keluarga Xu beberapa hari lagi?"
Xu Yuanzheng tertegun melihat sikap putrinya. Apakah dia sudah jatuh hati?
"Saudara Liu, hari sudah larut. Malam ini adalah hari yang baik bagi kota kita. Kami belum sempat membalas budi, bagaimana jika malam ini kita minum bersama di kediaman kami?" ajak Xu Liang.
"Tuan Liu, jika Anda tidak keberatan dengan keluarga kami, mohon tinggalah beberapa hari agar kami bisa menunjukkan rasa terima kasih kami," tambah Xu Yuanzheng setelah melihat sikap kedua anaknya.
Melihat desakan dari seluruh keluarga, Liu Chen bingung bagaimana harus menolak. Dia sangat memahami arti di balik perubahan sikap dan tatapan halus Xu Yun. Sejak kapan pesonanya menjadi begitu memikat?
"Niat baik kalian saya terima, semoga kita bisa bertemu lagi di lain kesempatan." Liu Chen menolak dengan sopan, lalu memanggil burung raksasa Lei Peng miliknya dan terbang ke angkasa.
Wajah Xu Yun berubah murung saat menatap sosok yang menjauh itu. *Apakah aku kurang cantik?* Baru kali ini ia jatuh hati pada seorang pria, namun berakhir dengan penolakan yang tegas. Xu Liang menyadari perubahan ekspresi kakaknya dan hanya bisa menghela napas. *Bunga berniat jatuh, namun air sungai tak berhasrat mengalir.*
Xu Yuanzheng menghela napas, lalu memimpin orang-orangnya untuk memeriksa kediaman Keluarga Li.
"Kakak," bisik Xu Liang di samping Xu Yun.
"Aku baik-baik saja," jawab Xu Yun. Matanya menatap langit malam yang gelap, lalu menoleh pada adiknya, "Kapan kau akan meninggalkan keluarga?"
"Beberapa hari lagi. Setelah keluarga benar-benar stabil, aku akan pergi," jawab Xu Liang. Setelah Keluarga Li musnah, Keluarga Xu butuh waktu untuk mengelola kota dan beradaptasi dengan faksi-faksi lain yang masih ada.
"Aku ikut denganmu." Xu Yun telah membulatkan tekad untuk merantau. Sebelumnya ia merasa berat hati karena seumur hidupnya ia tidak pernah meninggalkan rumah. Namun, ia tidak terima dan tidak percaya bahwa kecantikan serta pesonanya tidak cukup untuk memikat pria itu.
Keluarga Li dimusnahkan dengan sangat senyap, sehingga tidak ada seorang pun di kota yang tahu apa yang terjadi malam itu. Saat fajar menyingsing, Keluarga Xu mengumpulkan tokoh-tokoh berpengaruh di kota dan mengumumkan bahwa Keluarga Li telah musnah. Awalnya, mereka semua terkejut dan tidak percaya. Namun ketika mereka mendatangi kediaman Keluarga Li, mereka mendapati tempat itu benar-benar kosong dan gudang-gudang telah dikuras habis.
Kabar pemusnahan Keluarga Li menyebar dengan cepat ke seluruh pelosok kota. Penduduk merayakannya selama tujuh hari tujuh malam. Keluarga Li telah bertindak kejam dan menindas mereka selama ratusan tahun. Kini, setelah penindas itu musnah, para wanita menangis bahagia karena tidak perlu lagi hidup dalam ketakutan. Penduduk kota bahkan beramai-ramai meruntuhkan kediaman Keluarga Li untuk melampiaskan kemarahan yang terpendam selama bertahun-tahun.
Keluarga Xu kemudian mengambil alih tanggung jawab pengelolaan kota dengan bantuan faksi-faksi lain, memastikan ketertiban, dan menyantuni korban-korban kekejaman Keluarga Li. Atas permintaan penduduk, nama kota itu pun diganti untuk menghapus kenangan buruk tentang Keluarga Li. Mereka bahkan mendirikan Aula Pahlawan untuk menghormati Liu Chen, membangun patung emas menyerupai wajahnya, dan menyembahnya siang dan malam.
Xu Liang dan Xu Yun berpamitan kepada orang tua mereka setelah tiga hari membantu urusan keluarga. Meski berat hati, Xu Yuanzheng dan istrinya melepas kepergian anak-anak mereka dengan bangga, berharap mereka akan kembali suatu saat nanti dengan pencapaian yang lebih tinggi.
Liu Chen sendiri tidak tahu bahwa namanya kini dipuja di aula pahlawan. Ia telah menempuh perjalanan selama sepuluh hari dan akhirnya tiba di sebuah kota besar di perbatasan Kekaisaran Liuli. Ia turun dari punggung Lei Peng dan melangkah masuk ke kota yang penuh dengan jejak sejarah dan peperangan itu.