Bab Dua Puluh Empat: Dia Tampan
Begitu meninggalkan kediaman sederhana itu dan belum berjalan jauh, suasana penuh sesak oleh para kultivator langsung terasa. Jalan-jalan yang biasanya lengang kini penuh sesak, jumlah orang meningkat berkali-kali lipat dari biasanya, dan setiap orang memancarkan aura membunuh yang sangat kuat.
Xie Huan tiba di kantor pengelola pulau dan sempat tertegun. Ia mengira tempat itu akan sangat ramai, tetapi justru tampak sepi. Setelah masuk dan mencari tahu, ia baru paham bahwa semua tempat tinggal berenergi spiritual sudah lama habis disewa, sehingga hampir seluruh aktivitas pun terhenti. Soal mengambil tugas untuk mencari uang... Sekarang hampir semua orang sudah bergabung dengan Pasukan Pengawal Pulau dan berlomba-lomba mengambil tugas membasmi binatang laut. Tugas-tugas biasa malah hampir tidak ada yang berminat.
Selain itu, ada aturan baru: sekarang, baik menyewa atau memperpanjang sewa rumah, maupun mengambil tugas biasa, semua orang diwajibkan bergabung dalam Pasukan Pengawal Pulau dan ikut serta dalam pertahanan Pulau Luoxia. Jika tidak, identitas mereka akan dikunci dan seluruh hak di pulau akan dicabut.
Benar-benar memaksa orang masuk ke Pasukan Pengawal.
Xie Huan hanya bisa menghela napas. Namun, memang dalam peraturan dasar Pulau Luoxia, tercantum bahwa ketika pulau menghadapi krisis, setiap kultivator di pulau punya kewajiban untuk melindungi pulau dan harus patuh pada pengaturan.
“Jelaskan prosedur bergabung dengan Pasukan Pengawal,” kata Xie Huan kepada seorang kultivator muda yang bertugas di meja pendaftaran.
“Baik, Senior. Jika Anda sudah punya identitas pulau, tinggal mengaktifkannya lewat sistem. Sangat mudah. Setelah bergabung, Anda tak perlu melakukan apa-apa kecuali menunggu panggilan tugas. Setiap bulan, Anda akan mendapat gaji tiga ratus batu spiritual tingkat rendah.
“Tugas utama adalah membersihkan binatang laut, menjaga jalur pelayaran, dan mempertahankan pulau. Hasil dari membasmi binatang laut menjadi hak Anda sepenuhnya. Setelah bergabung, Anda juga boleh mengambil tugas-tugas biasa, asalkan tidak bentrok dengan tugas pengawal,” jelas sang kultivator muda dengan sopan, melihat Xie Huan adalah senior tahap pertengahan penguatan energi.
“Bantu saya uruskan,” kata Xie Huan sembari menyerahkan identitasnya. Ternyata cukup bebas, bahkan ada gaji bulanan meski tak besar, membuat rasa enggannya pun berkurang.
Setelah proses selesai, kultivator itu mengembalikan identitasnya dan berkata hormat, “Sudah berhasil, Senior. Berdasarkan kemampuan Anda, Anda ditempatkan di Regu Dua Puluh Tiga.”
Xie Huan menemukan grup obrolan baru dengan nama Regu Dua Puluh Tiga di kontaknya. Namun, grup dalam sistem identitas itu tak memperlihatkan jumlah anggota atau informasi siapa saja di dalamnya. Kalau tak ada yang bicara, Anda tidak akan pernah tahu siapa saja yang ada di sana.
“Sekarang sudah bisa ambil tugas biasa?” tanya Xie Huan.
“Sudah, Senior. Hanya saja, dalam kondisi seperti sekarang, tugas-tugas biasa sangat sedikit, dan kebanyakan hanya di dalam pulau. Prosedur ke luar pulau kini sangat rumit,” jawab kultivator muda itu sabar.
“Baik, bantu saya kumpulkan tugas menangkap buronan berhadiah,” kata Xie Huan. Ia malas mengambil tugas-tugas sepele yang tidak efisien. Membasmi kejahatan lebih cepat menghasilkan uang.
Tak lama kemudian, ia pun pergi membawa setumpuk dokumen.
...
Menjelang senja di sebuah tebing pinggir laut.
Cahaya matahari terbenam membara di cakrawala, menembus formasi pelindung pulau dan berubah menjadi tujuh warna: merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu, menyapu pantai, puncak gunung, dan aliran sungai dengan merata.
Seorang perempuan bertubuh indah berdiri anggun di tepi tebing, rambut panjangnya melambai tertiup angin. Ia menghirup aroma bunga liar, menanti seseorang.
Tiba-tiba, angin bertiup. Pepohonan bergoyang. Sebuah sosok melayang di atas dahan, meloncat beberapa kali, lalu tiba di belakang perempuan itu dan memanggil mesra, “Pingping!”
Yang datang adalah seorang kultivator berpakaian sederhana, beralis tebal dan bermata besar. Tatapannya tegas dan jernih, memberi kesan polos dan dapat diandalkan.
“Akhirnya datang juga, sudah lama aku menunggu,” ujar sang perempuan, berbalik lalu membuang bunga liar yang tadi dipegangnya. Ia mendengus manja, menampilkan wajah lucu dan imut.
Sang pria menatapnya dengan kagum, tersenyum malu-malu, lalu mengulurkan kepalan tangan, “Coba tebak, berapa butir yang berhasil kudapatkan?”
Jantung perempuan itu berdebar. Jangan-jangan dia dapat lebih dari satu? Ia menahan kegembiraan dan pura-pura santai berkata, “Dua.”
Sang pria membuka telapak tangan. Sebutir pil berwarna putih susu bulat sempurna terletak di sana, memancarkan cahaya lembut. Ia menggaruk kepala, tersenyum nakal, “Tebakanmu benar, masih kurang satu lagi.”
Perempuan itu langsung tertawa, “Tak kusangka kamu juga pandai menggoda.”
Pria itu hanya tertawa canggung, menatap sang perempuan dengan penuh kebahagiaan dan berkata lembut, “Sekarang masa-masa sulit, harga barang melambung tinggi. Pil Taiqing kualitas seperti ini, satu butir harganya dua puluh ribu dan sangat langka. Aku sudah berusaha keras mendapatkannya.”
“Bodoh, itu terlalu mahal. Lain kali jangan boros begitu. Aku masih punya waktu tiga tahun sebelum batas waktu, bisa menunggu sampai badai binatang laut lewat. Kamu juga susah payah menabung,” jawab perempuan itu dengan mata yang mulai berair, suara tercekat, “Aku tak punya banyak teman, hanya kamu yang paling baik padaku. Baru beberapa hari kenal, sudah memberi hadiah semahal ini.”
Wajah pria itu memerah. “Tak bisa menunggu. Tiga tahun itu sebentar. Kalau sampai terlambat, aku akan menyesal seumur hidup. Cepatlah minum, aku akan melindungimu di sini. Dengan pil ini, kau pasti bisa naik ke tahap menengah,” katanya terburu-buru.
Perempuan itu mengangguk manis, tersenyum di tengah air matanya. “Senang bisa mengenalmu.”
Ia memasukkan pil ke mulut, menelannya perlahan. Kekuatan spiritual segera menyebar di tubuhnya. Ia berseri-seri, cepat duduk bersila, mulai menyerap energi pil. Wajah cantiknya tampak berkilau di bawah cahaya senja, sesekali merah, sesekali pucat.
Memang pria polos seperti dia yang paling bisa diandalkan, pikir perempuan itu dengan penuh kepuasan. Kekuatan penguatan energi tahap akhir, hati sederhana, murah hati memberi hadiah, jelas tipe pria jujur yang mudah dikendalikan. Mulai sekarang, waktu yang biasa diberikan ke cadangan lain, lebih baik dialihkan ke si bodoh ini.
Namun tiba-tiba, pusing hebat melanda kepalanya. Ia buru-buru mengatur napas dan energi, tetapi pusing makin menjadi, kesadaran mulai menghilang perlahan. Dengan panik, ia membuka mata lebar-lebar, “Peng, pil Taiqing ini... sepertinya ada yang aneh?”
“Mana mungkin, pil Taat ini sudah kugunakan lebih dari sepuluh kali, selalu berhasil, mana bisa gagal?” Pria itu tersenyum lebar, wajah polosnya berubah ceria.
“Pil Taat...” Wajah perempuan itu berubah ngeri, tapi segera matanya kosong, ekspresi menghilang, duduk kaku seperti patung.
“Hahaha!” Pria itu tertawa nyaring. Raut polos di wajahnya lenyap, berganti sinis dan penuh ejekan. “Perempuan, tak tahukah kau, pemburu sejati sering muncul dengan wajah mangsa?”
Dengan jentikan jari, ruang di depannya bergetar. Sebuah tandu terbang indah muncul, mendarat di tanah. Tandu itu dicat merah menyala, dipenuhi simbol-simbol aneh, dan tirainya berwarna putih penuh bordir berbagai posisi. Dari dalam terdengar suara musik menggoda yang membangkitkan nafsu.
“Masuklah, biar aku nikmati benar-benar dirimu. Siapa tahu bisa laku berapa?” ujarnya merendahkan, wajahnya penuh penghinaan.
“Ya, Tuan.” Perempuan itu bangkit kaku, berjalan ke arah tandu seperti boneka.
“Sungguh menarik, kenapa harus naik tandu? Bukankah lebih baik menjadikan alam sebagai tempat bersenang-senang? Biar aku ikut belajar,” tiba-tiba suara tawa terdengar, mendekat dengan cepat.
“Siapa?!” Wajah pria itu berubah drastis. Ia mengacungkan tangan ke arah suara.
Ledakan kekuatan spiritual menyebar, menciptakan kilatan cahaya ke segala arah, tapi tak tampak siapa pun.
Pria itu terkejut, lalu melihat samar sebuah sosok muncul di kejauhan. Sosok itu melangkah ke depan dan wujudnya menjadi jelas.
“Peng Yunhua, penculik dan penjual perempuan kultivator. Hilangnya sekitar tiga puluh perempuan diduga akibat ulahmu. Licik dan sulit ditangkap, beberapa kali pengepungan gagal, buronan dengan hadiah sembilan ribu sembilan ratus batu spiritual tingkat rendah.”
Orang yang datang melemparkan secarik kertas, melayang seperti daun gugur. Itu adalah surat buronan, bergambar seorang pria yang mirip dengan pria di hadapannya.
“Pemburu hadiah?” Peng Yunhua menatap tajam, melangkah mundur. Orang yang datang cuma tahap pertengahan penguatan energi, tapi berani muncul santai, pasti ada tipu muslihat atau bantuan.
Orang itu tersenyum, “Tenang, aku sendirian.”
Setelah mengamati dengan kekuatan spiritual dan tidak menemukan siapa-siapa, Peng Yunhua pun setengah percaya. “Bagaimana kau bisa menemukanku?” tanyanya curiga. Aksinya selalu rapi, tak mungkin meninggalkan jejak. Itu sebabnya ia bisa terus berbuat jahat dan lolos dari hukum.
“Kebetulan saja. Di identitasku hanya ada dua kontak, salah satunya Zhang Ping. Pagi-pagi dia meng-update status, ‘Pria sebaik ini, kenapa tak bisa dihargai?’ Sore berubah jadi ‘Ingin seseorang yang setia seumur hidup.’ Aku jadi ingat ada buronan yang suka menipu perempuan dan menjual mereka sebagai budak. Aku curiga, maka aku datang. Begitu tahu di sekitar sini ada penghalang, aku makin yakin.”
“Perempuan bodoh, kau rusak rencanaku!” Peng Yunhua melotot ke arah Zhang Ping, lalu bertanya dengan suara dingin, “Kau kenal dia?”
“Kenal, Tuan. Namanya Xie Huan,” jawab Zhang Ping kaku.
“Kami belum pernah minum teh bersama, hanya kenal sekilas,” Xie Huan menimpali dengan senyum, memandang Zhang Ping, “Tak kusangka sekali bertemu, kau masih ingat aku.”
Zhang Ping bertugas di meja depan kantor pengelola pulau dan setiap hari bertemu ratusan kultivator. Dua tahun lebih berlalu, tak disangka ia masih mengingat Xie Huan.
“Kau tampan, jadi tentu aku ingat,” jawab Zhang Ping.
...Tampan bisa minum teh gratis?
“Perempuan jalang! Kau mulai suka dia, ya?” teriak Peng Yunhua, wajahnya bergetar marah. Di bawah pengaruh pil Taat, semua yang dikatakan Zhang Ping adalah jujur, dan itu membuat hatinya tersayat.
“Sedikit. Dia tampan dan kaya, tapi karena kekuatannya cuma tahap awal, aku menempatkannya di urutan terakhir pilihan cadangan.”
“Perempuan jalang!”
“Plak!”
Peng Yunhua menampar keras, pipi Zhang Ping langsung bengkak dan berdarah. Ia lalu membentak, “Dia lebih tampan atau aku?”
“Dia lebih tampan.”
“Plak! Plak! Plak!”
Tiga kali tamparan bertubi-tubi, tanpa belas kasihan, membuat wajah Zhang Ping bengkak tak karuan, rambut berantakan, darah mengalir dari wajah.
Namun, di matanya tetap tak ada emosi, tak sedih tak senang, hanya berdiri kaku tanpa ekspresi.