Catatan Peluncuran
Novel Bayangan akan dirilis besok. Ada banyak sekali perasaan yang berkecamuk, membuat saya sering terjaga di malam hari belakangan ini.
Bulan April tahun ini adalah masa paling penuh tekanan dalam hidup saya, tanpa melebih-lebihkan, dan ini bukan semata-mata karena menulis buku.
Saya menerbitkan buku ini pada tanggal 30 Maret. Setelah menabung semangat sekian lama, saya bersiap untuk berjuang habis-habisan. Namun, di luar dugaan, pada tanggal 3 April, ibu saya tertabrak mobil saat pulang dari ziarah makam. Tulang kering kaki kanannya patah total. Saat itu, pikiran saya benar-benar kosong. Tanpa memikirkan apa pun, saya langsung membeli tiket pesawat untuk pulang.
Beruntungnya, selain patah tulang kering, tidak ada cedera lain. Dokter mengatakan lukanya bisa disambung, tetapi butuh waktu setengah tahun sebelum ia bisa turun dari tempat tidur untuk berjalan, dan satu tahun lagi untuk operasi lanjutan. Sungguh, itu adalah keberuntungan di tengah kemalangan.
Namun, hanya berselang beberapa hari, ayah saya mengeluhkan rasa sakit pada kakinya. Setelah diperiksa, ternyata syaraf tulang belakangnya tertekan cukup parah dan harus segera dioperasi. Karena rumah sakit setempat tidak sanggup menanganinya, ia harus dibawa ke ibu kota provinsi.
Ayah saya selama ini merawat nenek, dan di saat yang bersamaan, nenek saya tiba-tiba mengalami gangguan jantung hingga harus segera dilarikan ke rumah sakit.
Sebagai anak tunggal di keluarga, di saat yang sama saya harus berurusan dengan penabrak ibu saya dan pihak asuransi...
Dalam sekejap, saya benar-benar tidak bisa menulis. Energi saya terkuras habis. Persediaan naskah saya perlahan habis, sementara saya harus menghadapi tekanan besar untuk terus memperbarui bab dan mengikuti kompetisi peringkat.
Saya mengatakan ini bukan untuk mencari simpati atau alasan.
Hidup ini tidak kekal. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di detik berikutnya. Seperti dalam sinopsis buku Bayangan ini, segala sesuatu di dunia ini—termasuk suka duka, untung malang—hanyalah bayang-bayang di mata, gelembung di air, fatamorgana di musim semi, atau embun pagi yang takkan bertahan lama.
Kesulitan akan berlalu, namun akan datang kembali. Kebahagiaan akan tiba, namun juga akan berlalu.
Tidak ada yang abadi. Kita harus belajar menghadapi dan membiasakan diri dengan ketidakkekalan. Apapun yang terjadi, kita perlu memiliki hati yang tenang dan teguh pada jati diri yang sejati.
Itulah yang terus saya katakan pada diri sendiri. Saya tetap disiplin bermeditasi setiap hari dan bertahan sedikit demi sedikit.
Saya tahu ini adalah ujian. Pasti ada sesuatu yang masih kurang dalam diri saya, sehingga semesta memberikan pelajaran ini.
Keadaan perlahan membaik. Nenek saya sudah keluar dari rumah sakit, operasi kaki ibu saya juga berjalan lancar dan kini dalam masa pemulihan. Para dokter, perawat, kerabat, dan teman-teman telah memberikan bantuan dan dukungan moral yang luar biasa selama masa sulit ini. Saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada mereka.
Dalam hal menulis, saat menghadapi berbagai putaran kompetisi, dukungan kalian yang terus-menerus membaca setiap hari membuat saya terus bertahan hingga mencapai tahap Sanjiang. Setiap kali melihat kalian terus mengikuti bab demi bab dan membaca komentar kalian, itu seperti cahaya yang menyinari hati saya. Hal itu memberikan kehangatan dan energi besar yang menemani saya melewati masa tersulit ini.
Saya sungguh berterima kasih kepada kalian. Kehangatan yang penuh kekuatan ini pasti akan kembali ke dalam hati kalian. Di masa depan, baik dalam suka maupun duka, semoga kalian selalu diterangi oleh kehangatan ini dan mendapatkan kekuatan darinya.
Lupakan sejenak tentang itu, mari kembali ke urusan peluncuran buku...
Sudah terlalu lama saya tidak menulis buku, sehingga popularitas saya sudah meredup. Qidian juga bukan panggung utama saya (karya saya sebelumnya, Keabadian Tertinggi dan Teknik Dewa Langit, pertama kali dirilis di QQ Reading). Dalam persaingan yang seketat ini, bisa sampai di titik sekarang saja sudah membuat saya sangat puas dan bersyukur. Saya berterima kasih kepada seluruh pembaca, editor, dan teman-teman. Saya tidak bisa menyebutkan nama satu per satu karena terlalu banyak orang yang harus saya syukuri, dan saya takut ada yang terlewatkan.
Besok adalah hari peluncuran, sekaligus hari terakhir dari seluruh rangkaian kompetisi.
Saya akan langsung merilis dua bab setelah tengah malam. Saya mohon dukungan kalian untuk pembelian bab pertama, dan tolong buka sampai halaman terakhir (yaitu setelah selesai membaca, gulir ke halaman berikutnya hingga muncul tulisan "Bersambung").
Setelah itu, kalian tidak perlu lagi merasa harus terus membaca bab baru setiap hari. Kalian bebas memilih untuk membacanya segera atau menabung babnya, silakan sesuaikan dengan keinginan kalian.
Untuk bab tambahan bagi para pendukung setia (menggala), saya harus menundanya karena saat ini saya benar-benar tidak mampu mengejar kuantitas, saya ingin menjaga kualitas tulisan.
Saya pasti akan berusaha sekuat tenaga untuk menulis buku ini dengan sebaik-baiknya.
Proses menulis adalah proses belajar yang tiada henti. Melalui interaksi dengan kalian, saya terus berkembang dengan harapan bisa memberikan pengalaman membaca terbaik dan menemani kalian tahun demi tahun.
Faktanya, selama tahun-tahun ini, bukankah kalian juga yang senantiasa menemani saya?
Oh ya, setelah buku baru diluncurkan, saya akan meminta dukungan tiket bulanan.
Aturan tiket bulanan di Qidian sepertinya sudah sering berubah, saya sendiri tidak begitu paham cara mendapatkannya. Namun, bagi kawan-kawan yang memilikinya, silakan berikan suara kalian, yang penting adalah partisipasinya.
Terima kasih atas segala dukungan dan pertemuan ini.
Saya mencintai kalian semua.