Bab 147: Matahari Selepas Hujan
"Untuk apa kamu datang?" Song Jiaojiao merasa seolah-olah ada binatang buas di dalam hatinya yang hendak menerkam kembali. Ia menatap Meng Tanyin dengan ekspresi penuh kebencian.
"Oh, aku mendengar keributan, jadi aku datang untuk melihat." Meng Tanyin sama sekali tidak terusik oleh sikap buruk Song Jiaojiao. Dengan nada penuh perhatian, ia berkata, "Kamu, apa kamu baik-baik saja?"
Melihat Song Jiaojiao berjalan di atas pecahan kaca yang berserakan di lantai, ia berseru kaget, "Eh, perhatikan langkahmu! Ada pecahan kaca!"
"Siapa yang mau kamu beri air mata buaya? Jangan ikut campur! Urusanku baik atau tidak, apa urusannya denganmu?" Melihat Song Qingfeng ada di sana, Song Jiaojiao menjadi semakin tidak takut dan berkata dengan suara nyaring, "Melihatmu saja sudah membuatku kesal, keluarlah! Sekarang juga! Seketika!"
"Aku tidak menyangka kamu begitu membenciku..." Meng Tanyin tertegun sejenak, lalu berkata lirih. Setelah itu, ia tersenyum pasrah dan memijat pelipisnya. "Baiklah, baiklah, aku akan keluar sekarang. Jangan marah lagi."
Melihat wajah Meng Tanyin yang pucat, hati Song Qingfeng terasa sedikit perih, sehingga ia mau tidak mau bersuara, "Yiguang..."
Song Jiaojiao sama sekali tidak menghargai kepedulian Meng Tanyin dan langsung melontarkan satu kata dengan tegas, "Enyah!"
"Aku pergi sekarang." Meng Tanyin berkata demikian, lalu berbalik dengan lesu dan memberikan senyuman terpaksa kepada Song Qingfeng. "Bujuklah dia."
Song Qingfeng merasa senyuman Meng Tanyin tampak sangat lemah sekaligus menyiratkan makna yang mendalam. Dengan ekspresi rumit, ia mengangguk dan berpesan, "Beristirahatlah yang baik."
"Baiklah." Meng Tanyin melambaikan tangannya dengan santai, menunjukkan ekspresi acuh tak acuh dan tanpa emosi. Sikapnya ini sangat berbeda jauh dengan saat ia menghadapi Song Zhengming tadi.
Song Qingfeng sebelumnya tidak menyadarinya, tetapi kini setelah ia tiba-tiba memerhatikannya, ia dengan mudah mendapati bahwa selama dua tahun terakhir ini, sikap dingin dan jarak telah tercipta. Yiguang benar-benar sudah tidak begitu peduli lagi padanya.
Ketika ia mengenang kembali masa-masa kebersamaan mereka dua tahun lalu, ia semakin merasa perbedaannya sangat besar.
Saat itu, Nyonya Song belum mencetuskan gagasan aneh untuk menjodohkan mereka berdua. Keduanya masih murni sebagai saudara, saling menyayangi dan menghormati, serta sangat dekat.
Yiguang kadang kala masih menceritakan berbagai hal sepele kepadanya, termasuk sedikit kekesalannya, seperti ujian yang kembali gagal, gigi bungsu yang mulai tumbuh, atau menemukan surat cinta dari orang tak dikenal di laci mejanya dan tidak tahu apakah itu hanya sebuah keisengan.
Setelah itu, hubungan mereka menjadi renggang akibat pertunangan yang tidak pernah diungkapkan secara terang-terangan itu. Awalnya, itu adalah inisiatif sepihak darinya. Yiguang yang sempat merasa bingung, setelah beberapa kali membentur tembok, akhirnya dengan diam-diam menarik jarak di antara mereka. Perlahan-lahan, hubungan itu merosot hingga pada titik di mana ketika mereka bertemu, mereka hanya saling mengangguk tanpa ada sepatah kata pun yang bisa diucapkan.
Hingga sekarang, saat wanita itu melihatnya, yang tersisa di dalam matanya hanya ketenangan. Segala kepanikan, rasa sakit hati, dan harapan di masa lalu telah sepenuhnya lenyap. Jika Yiguang bisa melepaskannya, seharusnya ia merasa senang, tetapi mengapa hatinya justru terasa begitu kosong?
"Kakak Feng," Song Jiaojiao menatap wajah Song Qingfeng yang tiba-tiba diselimuti mendung. Dengan perasaan cemas, ia bertanya, "Ada apa denganmu?"
"Tidak apa-apa." Song Qingfeng menggelengkan kepalanya, melangkah dengan kaki panjangnya melompati pecahan kaca di lantai, lalu berdiri tepat di hadapan Song Jiaojiao sambil menatap lurus ke dalam matanya. "Jiaojiao, katakan padaku, cedera Yiguang itu, apakah benar-benar karena tidak sengaja?"
"Tentu saja tidak sengaja, memangnya aku sengaja mendorongnya?" Di bawah tatapan tajam dan dingin pria itu, jantung Song Jiaojiao berdegup kencang seperti tabuhan genderang. Ia hampir mengira pria itu telah mengetahui kebenaran yang sesungguhnya, namun di wajahnya ia justru memasang ekspresi terluka dan sedih. "Kakak Feng, kamu tidak percaya padaku?"
"Aku membesarkanmu sejak kecil, orang seperti apa kamu, mana mungkin aku tidak tahu?" ucap Song Qingfeng dengan tenang. Song Jiaojiao memang sedikit egois dan manja, tetapi ia bukanlah seseorang yang bernali besar, apalagi sampai bersikap kejam hingga mengabaikan nyawa manusia.
Hanya saja, ia tidak menyangka Paman Yuan akan membantu Song Jiaojiao menutup-nutupi masalah ini dan bahkan memberikan perintah agar para pelayan di rumah besar bungkam.
Song Jiaojiao sangat menyadari hal ini. Menipu Song Qingfeng membuat hatinya merasa tidak tenang. Ia menurunkan bulu matanya untuk menyembunyikan kerumitan di dalam sorot matanya. "Lalu kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Jiaojiao, apa kamu masih belum mengerti? Percayanya aku padamu tidak ada gunanya. Masalahnya adalah, apakah Yiguang percaya padamu? Apakah Ayah dan Ibu percaya padamu?" Song Qingfeng menghela napas.
Song Jiaojiao berkata dengan penuh kemarahan, "Lalu apa yang dia inginkan? Menyuruhku berlutut dan meminta maaf padanya? Apakah dengan begitu dia baru bisa percaya? Apakah Paman dan Bibi baru bisa percaya padaku?"
"Omong kosong apa itu! Seorang anak perempuan juga memiliki harga diri yang tinggi, siapa yang menyuruhmu berlutut?" Song Qingfeng batuk kecil. "Tulis surat penyesalan sepanjang tiga puluh ribu kata."
"Apa?" Song Jiaojiao menatap Song Qingfeng dengan rasa tidak percaya. "Kakak Feng, apa kamu sedang bercanda? Mana bisa aku menulis hal semacam itu, lagipula tiga puluh ribu kata! Lebih baik kamu langsung membunuhku saja."
Song Qingfeng menatapnya dengan ekspresi kecewa. "Jiaojiao, aku membelamu dan meminta maaf demi menukar syarat ini, dan kamu—"
Ia sengaja memanjangkan nada bicaranya, membuat hati Song Jiaojiao langsung diliputi kepanikan. Ia sangat bergantung pada Song Qingfeng dan hal yang paling ditakutkannya adalah pria itu merasa kecewa padanya. Begitu mendengar perkataan itu, ia langsung memotong ucapannya, "Aku akan menulisnya!"
"Benar?" Song Qingfeng mengangkat alisnya, jelas-jelas sedikit tidak percaya dengan ucapannya. "Tiga puluh ribu kata, ditulis tangan, tidak boleh menggunakan joki. Apakah kamu sanggup melakukannya?"
Song Jiaojiao menggertakkan giginya dan berkata dengan tegas, "Sanggup!"
"Menyadari kesalahan dan memperbaikinya, inilah adik perempuan yang baik." Song Qingfeng mengangguk penuh persetujuan, lalu mengeluarkan saputangan dari saku celananya untuk mengusap wajah Song Jiaojiao. "Barang-barang di kamarmu ini hancur total. Suruh seseorang masuk untuk membereskannya dulu."
"Hmm." Song Jiaojiao mengangguk patuh dan membiarkan Song Qingfeng membimbingnya keluar dari kamar. Tangan pria itu terasa kering dan hangat, punggungnya lebar dan dapat diandalkan. Pria itu masih menyayanginya dan pria itu tetaplah miliknya.
Song Qingfeng menempatkan Song Jiaojiao di kamar tamu yang letaknya paling dekat dengan kamarnya, menunggu hingga barang-barang di kamarnya selesai disiapkan besok barulah ia boleh pindah kembali. Setelah itu, ia mengambilkan kertas dan pena untuk Song Jiaojiao. Mengenai urusan menulis surat penyesalan, ia sama sekali tidak bisa membantu—seumur hidupnya ia tidak pernah menulis surat penyesalan, jadi ia tidak bisa memberikan petunjuk apa pun kepada Song Jiaojiao. Tiga puluh ribu kata, Yiguang pasti sengaja melakukannya.
Di sisi lain, Meng Tanyin juga telah kembali ke kamarnya. Kamar tersebut menghadap langsung ke taman di lantai bawah. Gaya keseluruhannya sederhana namun jelas, berbagai barang tertata rapi, sementara fasilitas, dekorasi, serta perpaduan warnanya semuanya disesuaikan dengan kesukaan Yiguang.
Hari semakin petang. Meng Tanyin tidak tahu sampai jam berapa ketiga tokoh penting keluarga Song itu akan berbincang, dan memperkirakan mereka tidak akan makan dalam waktu dekat. Ia pun berbaring di atas tempat tidur yang masih menyisakan aroma tubuh Yiguang, bersiap untuk memejamkan mata sejenak.
Tanpa diduga, ia justru benar-benar tertidur. Di dalam mimpinya, masa-masa berlalu. Ia dan Gu Dingchen melalui hari-hari dengan rasa cemas dan berhati-hati, berjuang bersama dengan satu tekad bulat untuk meruntuhkan keluarga Qi yang merupakan raksasa besar itu.
Jalur balas dendam yang tidak bisa lagi ditarik mundur itu mengharuskan mereka berhasil atau mati. Memiliki seseorang untuk diajak melangkah bersama benar-benar jauh lebih baik seratus kali lipat daripada menjadi pahlawan yang berjuang seorang diri.
Saat itu tekanannya sangat besar, namun terasa begitu membahagiakan. Hanya saja, dalam sekejap mata, yang terdengar hanyalah suara dingin Gu Dingchen, "Kamu tidak lebih dari seekor anjing yang dipelihara oleh keluarga Gu! Dengan dirimu yang seperti itu, apa pantas menjadi Nyonya Gu?"
Meng Tanyin sama sekali tidak membantah, ia hanya tersenyum. "Hehe, selamat tinggal."
Tidak akan pernah berjumpa lagi, perpisahan abadi.
Di dalam mimpinya, senja bagaikan besi yang kelam. Gu Dingchen dengan keras kepala menggenggam tangannya erat-erat. "Tanyin, aku masih punya satu pertanyaan."
Meng Tanyin hampir tertawa hingga mengeluarkan air mata. Ia mendengar dirinya sendiri menjawab—
"Pernah mencintai."
"Tidak menyesal."
"Gu Dingchen, selamat tinggal."