Bab Seratus Tujuh Belas: Liontin Pelarut Batu
Mo Zhiyan mendongak menatapnya, tersenyum pasrah, lalu mengalihkan pembicaraan, "Sudah hampir matang?"
"Bukannya tadi kau bilang tidak lapar?" Ling Ji tersenyum, namun ia sudah berdiri dari kursinya.
Mo Zhiyan menatapnya dengan alis sedikit terangkat, "Ini dibuat untukku, bukan?"
"Benar." Ling Ji menjawab dengan lugas.
Mo Zhiyan sengaja bersikap ketus, "Kalau begitu, terserah kau saja."
Ling Ji tertawa geli, tidak menyangka ia memiliki sifat seperti itu, lalu berkata, "Baik, baik, tunggulah di sini, aku akan memeriksanya."
Ling Ji membuka tutup kukusan, menggulung lengan bajunya, lalu mengulurkan tangan untuk mengambil mangkuk porselen dari dalam panci yang masih mengepulkan uap panas. Begitu meletakkannya di atas meja, ia meniup-niup tangannya yang kepanasan. Mo Zhiyan dengan sigap menarik tangan pria itu dan menempelkannya ke cuping telinganya sendiri, "Waktu kecil, kulihat Ibu selalu melakukan ini."
Ling Ji terpaku menatapnya. Cuping telinga di antara jemarinya itu tidak mengenakan perhiasan apa pun. Meski lubang tindik kecil masih terlihat, sensasi sentuhan di ujung jarinya terasa lembut dan halus.
Rasa hangat menjalar ke cuping telinga Mo Zhiyan. Seluruh tubuhnya tanpa sadar sedikit tersentak, dan pipinya pun terasa panas.
Di musim dingin, cuping telinga biasanya tidak memiliki suhu panas, namun begitu bersentuhan dengan jemari yang membara, suhu itu segera menurun. Cahaya lilin bergoyang pelan, perapian menghangatkan ruangan, dan Ling Ji enggan melepaskan tangannya.
Melihat Ling Ji tidak kunjung melepas, Mo Zhiyan bergeser dengan canggung.
Ling Ji menatap tangannya yang kini kosong, segera sadar kembali, dan tersenyum padanya, "Cobalah."
Mendengar itu, Mo Zhi